MAKALAH

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI JAWA

Mata Kuliah Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia

Dosen: Drs.Sudadi,M.Pd.I

 Oleh :

Anafi Khusna                     2083160

Dean Nur Latifah               2083162

Eko Sugeng Gunanto          2083164

Emi Rahmawati                  2083165

Erni Purwaningsih               2083166

Fauzi Rahman                    2083167

Ahmad Amin Mustofa        2093695

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA

(STAINU) KEBUMEN

2011

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Lahirnya agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW, pada abad ke-7 M, menimbulkan suatu tenaga penggerak yang luar biasa, yang pernah dialami oleh umat manusia. Islam merupakan gerakan raksasa yang telah berjalan sepanjang zaman dalam pertumbuhan dan perkembangannya.

Masuk dan berkembangnya Islam ke Indonesia dipandang dari segi historis dan sosiologis sangat kompleks dan terdapat banyak masalah, terutama tentang sejarah perkembangan awal Islam. Ada perbedaan antara pendapat lama dan pendapat baru. Pendapat lama sepakat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad ke-13 M dan pendapat baru menyatakan bahwa Islam masuk pertama kali ke Indonesia pada abad ke-7 M. (A.Mustofa,Abdullah,1999: 23). Namun yang pasti, hampir semua ahli sejarah menyatakan bahwa daerah Indonesia yang mula-mula dimasuki Islam adalah daerah Aceh.(Taufik Abdullah:1983)

Datangnya Islam ke Indonesia dilakukan secara damai, dapat dilihat melalui jalur perdagangan, dakwah, perkawinan, ajaran tasawuf dan tarekat, serta jalur kesenian dan pendidikan, yang semuanya mendukung proses cepatnya Islam masuk dan berkembang di Indonesia.

Kegiatan pendidikan Islam di Aceh lahir, tumbuh dan berkembang bersamaan dengan berkembangnya Islam di Aceh.

Konversi massal masyarakat kepada Islam pada masa perdagangan disebabkan oleh Islam merupakan agama yang siap pakai, asosiasi Islam dengan kejayaan, kejayaan militer Islam, mengajarkan tulisan dan hapalan, kepandaian dalam penyembuhan dan pengajaran tentang moral.(Musrifah,2005: 20).

Konversi massal masyarakat kepada Islam pada masa kerajaan Islam di Aceh tidak lepas dari pengaruh penguasa kerajaan serta peran ulama dan pujangga. Aceh menjadi pusat pengkajian Islam sejak zaman Sultan Malik Az-Zahir berkuasa, dengan adanya sistem pendidikan informal berupa halaqoh. Yang pada kelanjutannya menjadi sistem pendidikan formal. Dalam konteks inilah, pemakalah akan membahas tentang pusat pengkajian Islam pada masa Kerajaan Islam dengan membatasi wilayah bahasan di daerah Aceh, dengan batasan masalah, pengertian pendidikan Islam, masuk dan berkembangnya Islam di Aceh, dan pusat pengkajian Islam pada masa tiga kerajaan besar Islam di Aceh.[1]

 

  1. Rumusan Masalah
  2. Kerajaan Islam apa saja yang ada di pulau Jawa ?
  3. Bagaimana sejarah pendidikan Islam di Jawa ?

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

SEJARAH ISLAM DI JAWA

  1. . Kerajaan Islam di Pulau Jawa
  2. . Kerajaan Demak (1500-1550 M)

Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Fatah pada awal abad XIV. Pada mulanya, Demak merupakan pusat pengajaran Islam yang dipelopori oleh Raden Fatah (tahun  1500 M), kemudian makin lama Demak berkembanmg menjadi kota perdagangan dan akhirnya menjadi sebuah kerajaan. Pendidikan dan pengajaran Islam bertambah maju dan penyebaran Islam ke seluruh Pulau Jawa maju pesat karena adanya bantuan pemerintah dan pembesar-pembesar Islam yang membelanya. Dengan demikian, didikan dan ajaran Islam mulai mendesak dan mengurangi pengaruh agama Hindu sedikit demi sedikit.

Kitab-kitab agama Islam di zaman Demak yang kini masih dikenal adalah Primbon, yaitu notes berisi segala macam catatan tentang ilmu-ilmu agama, doa, bahkan juga tentang ilmu obat-obatan, ilmu gaib, dan sebagainya. Selain itu, ada lagi kitab-kitab yang dikenal dengan nama Suluk Sunan Bonang, Suluk Sunan Kalijaga, Wasita Jati SUnan Geseng dan lain-lain. Kitab ini berbentuk diktat didikan dan ajaran mistik (tasawuf) Islam dari para sunan yang bersangkutan yang ditulis dengan tangan.

Proses penyiaran Islam pada waktu itu dengan cara propaganda tingkah laku dan perbuatan, tidak banyak bicara,dan secara berangsur-angsur dalam menjalankan hokum syariat. Di tempat-tempat sentral suatu daerah didirikan masjid yang dipimpin seorang badal. Dialah yang menjadi sumber ilmu dan pusat pendidikan dan pengajaran Islam. Wali suatu daerah diberi gelar resmi, yaitu sunan ditambah nama daerahnya.[2]

Untuk menyempurnakan rencana pendidikan, Wali songo dari Kerajaan Demak mengambil suatu keputusan untuk mengisi semua cabang kebudayaan nasional, yakni filsafat hidup, kesenian, kesusilaan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan yang lainnya dengan anasir-anasir pendidikan dan pengajaran Islam agar agama islam mudah diterima dan menjadi darah daging dalam kehidupan masyarakat. Usaha ini berhasil dengan baik. Keberhasilan ini menunjukkan kecakapan, kebijaksanaan Sunan Kalijaga dan Sunan Giri dalam lapangan pendidikan dan pengajaran Islam.

  1. . Kerajaan Mataram (1575-1757)

Perpindahan kekuasaan dari Demak ke Pajan g tidak menyebabkan perubahan yang  berarti dalam system pendidikan dan pengajaran Islam. Setelah pusat kerajaan Islam berpindah dari pajang ke Mataram (tahun 1586 M), tampak beberapa perubahan, terutama pada zaman Sultan Agung(tahun 1613 M). Setelah mempersatukan Jawa Timur dengan Mataram serta daerah-daerah yang lain, Sultan Agung mulai mencurahkan perhatiannya untuk membangun negara, seperti mempergiat berladang dan bersawah, serta memajukan perdagangan dengan luar negeri.

Atas kebijaksanaan Sultan Agung, kebudayaan lama yang berdasarkan Indonesia asli dan Hindhu dapat disesuaikan dengan Agama dan kebudayaan Islam, seperti:

  1. Gerebeg disesuaikan hari raya Idul Fitri dan Maulid Nabi. Sejak itu terkenal  dengan gerebek poso(puasa)gerebek Mulud.
  2. Gamelan Sekaten yang hanya dibunyikan pada Gerebek Maulud, atas kehendak Sultan Agung dipukul di halaman Masjid.
  3. Karena hitungan tahun Caka (Hindu) yang dipakai di Indonesia (Jawa) berdasarkan hitungan perjalanan matahari berbeda dengan Hijriyah yang berdasarkan perjalanan bulan, pada tahun 1633 M, atas perintah Sultan Agung, tahun caka yang telah berangka 1555 tidak lagi ditambah dengan hitungan matahari, melainkan dengan hitungan perjalanan bulan, sesuai dengan tahun Hijriyah. Tahun yang baru disusun itu disebut tahun Jawa dan sampai sekarang tetap dipergunakan.

Sultan Agung juga memerintah supaya di tiap-tiap ibu kota kabupaten didirikan sebuah masjid, sebagai induk dari sebuah masjid dalam daerah kabupaten, dan pada tiap-tiap ibu kota didirikan sebuah masjid kewedanaan . Begitu pula pada tiap-tiap desa didirikan masjid desa. Masjid Gede dikepalai seorang penghulu dan dibantu oleh empat puluh orang pegawainya. Masjid kewedanaan dipimpin oleh seorang Naib dan dibantu oleh sebelas orang pegawainya, sedangkan masjid desa dikepalai oleh Modin (Kayim, Kaum) dan empat orang pembantunya. Pada satu desa diadakan beberapa tempat pengajian Quran, dan diajarkan pokok-pokok ajaran Islam, seperti cara beribadah, rukun Iman, rukun Islam dan sebagainya. Jumlah tempat pengajian bergantung pada banyaknya Modin di desa itu.[3]

 

 

 

 

 

B. Sejarah Pendidikan Islam di Jawa

Sejarah pendidikan Islam di Indonesia sebelum Indonesia merdeka masih berdasarkan kemerdekaan dan belum berpusat seperti sekarang ini. Oleh karena itu, tiap-tiap daerah melancarkan pendidikan dan pengajaran Islam menurut keadaan daerah masing-masing.

Pendidikan Islam di jawa berlainan keadaannya dengan di Sumatra dan Sulawesi, Maluku dan daerah lainnya. Ajaran Islam di jawa tersebar dari pelabuhan dan Bandar-bandar tempat perhubungan dagang antara Indonesia dan luar negeri, misalnya: Sunda Kelapa ( Jakarta ), Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Jepara, Tuban, Gresik, Surabaya, dan daerah lainnya. Akibat hubungan ini, para pedagang Indonesia mengetahui dan mendengar dan mendengar tentang ajaran Islam dan juga tentang didikan Islam melalui percakapan mereka sehari-hari.

Banyak pedagang yang pulang-pergi berlayar antara Jakarta dan Maluku yang telah menjadi pusat perkembangan Islam yang telah memeluk agama Islam. Pedagang-Pedagang asing pun, seperti bangsa tionghoa, banyak yang memeluk Islam sehingga lambat tahun perkembangan di pulau Jawa berpindah ke tangan kaunm Muslimin. Bupati-bupati di pesisir dan orang-orang bangsawan banyak yang masuk Islam, agama islam akan mudah meluas di kalangan masyarakat.

Di samping para pedagang, ada juga orang-orang yang sangat berjasa dalam menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam di Pulau Jawa, yaitu wali yang Sembilan atau terkenal dengan sebutan Wali Songo.

Kata Wali berasal dari bahasa Arab dalam bahasa Indonesia mengandung pengertian dekat atau kerabat, teman dan pelindung. Adapun yang dimaksud dengan kata Wali disini adalah sebutan untuk orang Islam yang dianggap keramat dan mempunyai kelebihan-kelebihan yang sulit dijangkau oleh pikiran manusia.Mereka merupakan kekasih Allah yang selama hidupnya senantiasa mendekatkan diri kepada Allah,

Tidak suka dengan kesenangan dunia, tidak mementingkan materi, suka mengasingkan diri dari lingkungannya dengan mencari tempat yang dianggap tenang dan mempunyai tilmu pengetahuan agama yang tinggi.

Sedangkan kata Songo menurut sebagian besar sejarawan dikatakan berasal dari bahasa Jawa yang berarti Sembilan. Sebagian Sejarawan mengatakan bahwa kata songo itu berasal dari bahasa Arab thana yang artinya terpuji.Dari uraian pengertian dua kata di atas maka dapatlah diambil satu pengertian bahwa yang dimaksud dengan wali songo adalah nama para wali berjumlah Sembilan orang yang tugasnya menyebarkan dan mengembangkan agama islam khususnya di Jawa.[4]

Nama-nama para wali songo itu adalah:

  1. Maulana Malik Ibrahim, seorang ulama dari Persia,dan menyebarkan Islam di daerah Jawa Timur, tepatnya di daerah Gresik. Di sini, ia membuka pusat pengajaran Islam dan mempunyai banyak santri.
  2. Sunan Ampel, yang bernama asli Raden Rahmat, ia memusatkan dakwahnya di daerah Ampel Surabaya.
  3. Sunan Bonang, bernama asli Makhdum Ibrahim menyebarkan agama Islam di Jawa Timur, Tuban dan mendirikan pusat pengajaran Islam di Turban.
  4. Sunan Giri ( Raden Paku ), putra Maulana Ishak, pernah ke pasai untuk memperdalam agama Islam. Bersama putra Sunan Ampel, ia mendirikan pusat pengajaran di Giri.
  5. Sunan Drajat (Syaripudin), adik Sunan Bonang memusatkan daerah dakwahnya di Sedayu, Jawa Timur. Ia dikenal sebagai ulama yang berjiwa social.
  6. Sunan Kudus (Jafar Shidiq), sewaktu muda menjadi panglima perang Kerajaan Demak, dan menyebarkan Islam di daerah Kudus sampai mendirikan sebuah Masjid.
  7. Sunan Kalijogon (R.M.Syahid), keturunan bangsawan Majapahit, menyebarkan Islam di daerah Demak.
  8. Sunan Muria (Raden Prawoto),putra Sunan Kalijaga, dalam dakwahnya lebih mencurahkan pada ajaran tasawuf.
  9. Sunan Gunung Djati (fatahillah atau Syekh Nurullah), menyebarkan ajaran Islam di daerah Jawa Barat, yaiyu daerah Cirebon, dan wafat di Cirebon.[5]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Kerajaan Islam di Pulau Jawa

  1. Kerajaan Demak (1500-1550 M).Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Fatah pada awal abad XIV. Pada mulanya, Demak merupakan pusat pengajaran Islam yang dipelopori oleh Raden Fatah (tahun  1500 M).
  2. Kerajaan Mataram (1575-1757) Perpindahan kekuasaan dari Demak ke Pajang tidak menyebabkan perubahan yang  berarti dalam system pendidikan dan pengajaran Islam.

2. Sejarah Pendidikan Islam di Jawa

Sejarah pendidikan Islam di Indonesia sebelum Indonesia merdeka masih berdasarkan kemerdekaan dan belum berpusat seperti sekarang ini. Oleh karena itu, tiap-tiap daerah melancarkan pendidikan dan pengajaran Islam menurut keadaan daerah masing-masing.

Nama-nama wali songo yaitu:

  1. Maulana Malik Ibrahim
  2. Sunan Ampel
  3. Sunan Bonang
  4. Sunan Giri
  5. Sunan Drajat
  6. Sunan Kudus
  7. Sunan Kalijogo
  8. Sunan Muria
  9. Sunan Gunung Djati

DAFTAR PUSTAKA

http://hitsuke.blogspot.com/2009/03/makalah-sejarah pendidikanislam.html

K Rukiati,Enung dan Hikmawati,Fenti,Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia,Pustaka Setia,Bandung.2006

Mutholib.Abd dkk. Sejarah Kebudayaan Islam 1,Jakarta:Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam


[2] Enung K Rukiati,Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, hlm 41

[3] Ibid,hlm.42

[4] Abd. Mutholib,dkk, Sejarah Kebudayaan Islam 1, hlm 409

[5] Ibid, Enung K Rukiati Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, hlm  44