♦ Analisis Gender adalah proses menganalisis data dan informasi secara sistematis tentang laki-laki dan perempuan untuk mengidentifikasikan dan mengungkapkan kedudukan, fungsi, peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Tujuan Analisis Gender.

1. Tujuan Umum.

Tujuan umum analisis gender adalah untuk menyusun kebijakan program dan kegiatan pembangunan dengan memperhitungkan situasi dan kondisikan kebutuhan-kebutuhan gender.

2. Tujuan Khusus;

Memahami pengertian menganalisis posisi perempuan dan laki-laki :

⇒ Memahami pengertian analisis

⇒ Memahami tujuan analisis

⇒ Memahami langkah-langkah analisis gender

⇒ Memahami teknik analisis gender

⇒ Mampu melakukan analisis gender.

Ruang Lingkup Analisis Gender

Analisis Gender ini dapat digunakan untuk menganalisis dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi kebijakan program dan kegiatan dalam berbagai aspek pembangunan.

Jenis-jenis/Model Analisis Gender :

Ada beberapa modl/teknik analisis gender yang pernahdikembangkan oleh para ahli antara lain:

5. Model GAP (Gender Analysis Pathway).

1. Model Harvard

Kerangka Analisis model Harvard dikembangkan oleh Harvard Institute for International Development, bekerjasama dengan kantor Women In Development (WID)-USAID. Modell Harvard didasarkan pada pendekatan efisiensi WID yang merupakan kerangka analisis gender dan perenanaan gender yang paling awal.

Tujuan Kerangka Harvard :

a.Untuk menunjukkan bahwa ada suatu investasi secara ekonomi yang dilakukan oleh perempuan dan laki-laki secara rasional.

b.Untuk membantu para perencana merancang proyek yang lebih efisien dan memperbaiki produktivitas kerja secara menyeluruh.

c.mencari informasi yang lebih rinci sebagai dasar untuk mencapai tujuan efisiensi dengan tingkat keadilan gender yang optimal.

d.Untuk memetakan pekerjaan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat dan melihat faktor penyebab perbedaan.

2. Model Mser

Model Moser didasarkan pada pendapat bahwa perencanaan gender bersifat “teknis polities”, kerangka ini mengasumsikan adanya konflik dalam perencanaan dan proses transformasi serta mencirikan perencanaan sebagai suatu “debat”.

Alat yang digunakan kerangka ini dalam perencanaan untuk semua tingkatan dari proyek sampai ke perencanaan daerah ada 6 (enam) yaitu :

a.            Alat Identifikasi Peranan Gender (Tri Peranan)

b.            Alat Penilaian Kebutuhan Gender

c.            Alat Pemisahan Kontrol atas Sumber Daya dan Pengambilan Keputusan dalam Rumah Tangga

d.            Alat Menyeimbangkan Peran

e.            Alat Matriks Kebijakan WID (Women In Development) dan GAD (Gender and Development)

f. Alat melibatkan Perempuan, Organisasi Perepuan dalam Penyadaran Gender dalam Perencanaan Pembangunan.

3. Model SWOT (Strengthen, Weakness, Oppurtunity and Threat)

Teknik ini merupakan suatu analisis manajemen dengan cara mengidentifikasi secara internal mengenai kekuatan dan kelemahan dan secara eksternal mengenai peluang dan ancaman. Aspek nternal dan Eksternal tersebut dipertimbangkan dalam kaitan dengan konsep strategis dalam rangka menyusun program aksi, langkah-langkah/tindakan untuk mencapai sasaran maupun tujuan kegiatan dengan cara memaksimalkan kekuatan dan peluang, serta meminimalkan kelemahan dan ancaman sehingga dapat mengurangi resiko dan dapat meningkakan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan.

4. Model Proba (Problem Based Analysis)

Teknik ini dikembangkan kerjasama Kementerian Pemberdayaan Perempuan, BKKBN dan UNFPA ditingkat pusat, propinsi dan kabupaten/koya. Teknik ini sedikit berbeda dengan GAP.

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam Model PROBA adalah sebagai berikut :

  1. Analisis Masalah Gender

Analisis Masalah Gender merupakan rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menetapkan/merumuskan masalah gender yang terjadi ditiap instansi atau wlayah. Beberapa tahap dalam Analisis Masalah Gender adalah :

⇒ Identifikasi data terpilah, untuk menunjukkan kesenjangan gender yang terjadi di instansi atau wilayah masing-masing, dan jelaskan sumber data tersebut diambil.

⇒ Penetapan masalah kesenjangan gender, dari data terpilah yang menunjukkan kesenjangan gender tersebut tetapkan masalah gender dalam bentuk kalimat yang jelas.

⇒ Identifikasi faktor penyebab, setelah masalah kesenjangan gender dirumuskan, cari faktor penyebab kesenjangan tersebut. Faktor penyebab kesenjangan dapat dilihat dari beberapa faktor yag menimbulkan bias atau berbagai bentuk diskriminasi antara laki-laki dan perempuan :

• Faktor sosial / lingkungan                                • Faktor agama

• Faktor adat istiadat / budaya                           • Faktor ekonomi

• Faktor peraturan perundang-undangan              • Faktor kebijakan

• Lain-lain

  1. Telaah Kebijakan /program/kegiatan pembangunan

Telaah Kebijakan /program/kegiatan merupakan kegiatan menelaah kembali Kebijakan /program/kegiatan yang ada di Propenas, Renstra, Repeta di pusat dan Propeda, Renstrada, Repeta di daerah.

Tahapan yang dilakukan adalah

a. Analisis kebijakan, tulis kembali kebijakan, program, kegiatan yang ditulis dalam Propenas, Renstra, Repeta di pusat dan Propeda, Renstrada, Repetada di daerah. Kebijakan, program, kegiatan yang diambil dan ditulis hendaknya berkaitan dengan data kesenjangan gender pada langkah pertama.

b. Klasifikasikan kebijakan, program, kegiatan tersebut dalam klasifikasi netral, bias atau responsif gender.

c. tetapkan kebijakan, program, kegiatan yang strategis, lanjutkan dengan menulis tujuan dari kebijakan, program, kegiatan yang ada di Propenas, Renstra, Repeta, Propeda, Renstrada, Repetada.

  1. Penetapan Kebijakan, Tujuan dan Program Pokok Baru yang Responsif Gender

Kebijakan baru yang responsif Gender. Kebijakan, program, kegiatan strategis yang ternyata bias dan netral gender direformulasikan menjadi kebijakan, program, kegiatan yang responsif gender. Tujuan kebijakan, program, kegiatan baru yang responsif gender harus dituliskan dan bandingkan dengan tujuan yang lama. Program, kegiatan pokok yang responsif gender, tuliskan dan pilih program dan kegiatan pokok yang responsif gender berdasarkan tujuan baru yang akan dicapai.

  1. Penyusunan Kegiatan Intervensi

Setelah program ditetapkan selanjutnya ditentukan kegiatan intervensi yang perlu dilakukan. Didalam uraian kegiatan intervensi, tetapkan pula target, sasaran, pelaksana dan waktu pelaksanaan.

  1. Pembentukan Gender Focal Point dan Pengembangan Kelompok Kerja (Pokja) PUG.

PUG dapat dilaksanakan dengan lancar kalau ada sekelompok orang yang senantiasa bekerja dengan penuh perhatian untuk melihat perkembangan pelaksanaan PUG dan membantu mengatasi masalah yang terjadi. Anggota GFP adalah mereka yang pernah mendapatkan informasi gender baik melalui jalur formal maupun informal, sedangkan anggota pokja diambil dari anggota GFP.

Kemampuan yang dibutuhkan untuk GFP :

• Komunikasi yang baik              • Pengambilan keputusan

• Meyakinkan                             • Mengatasi resistensi

• Bekerja sama                          • Membangun jaringan

  1. Rencana Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan langkah-langkah analisis dan mengadakan perbaikan apabila diperlukan. Selanjutnya laporan monitoring evaluasi menjadi bahan masukan untuk analisis berikutnya. Sebelum melakukan monitoring dan evaluasi perlu ditentukan indikator atau alat monitoring dan evaluasi yang akan digunakan.

5. Model GAP (Gender Analysis Pathway).

Metode GAP adalah alat analisis gender yang dikembangkan oleh BAPPENAS yang dapat digunakan untuk membantu para perencana dalam melakukan pengarusutamaan gender dalam perencanaan kebijakan, program, proyek dan atau kegiatan pembangunan.

Dari beberapa model teknik analisis yang telah dikembangkan tersebut di atas disarankan untuk menggunakan teknik analisis gender dengan metode Gender Analysis Pathway (GAP).

Dengan menggunakan GAP para perencana kebijakan program, proyek kegiatan dapat mengidentifikasi kesenjangan gender dan permasalahan gender sekaligus menyusun rencana kebijakan/program/proyek/kegiatan yang ditujukan untuk memperkecil atau menghapus kesenjangan gender tersebut.

GAP dibuat dengan menggunakan metodologi sederhana dengan 8 (delapan) langkah yang harus dilakukan dalam 3 (tiga) tahap, yaitu Tahap I Analisis Kebijakan Responsif Gender; Tahap II Formulasi Kebijakan yang responsif Gender; Tahap III Rencana Aksi yang Responsif Gender.

Analisis kebijakan responsif gender bertujuan untuk menganalisis kebijakan pembangunan kehutanan yang ada dengan menggunakan data pembuka wawasan yang dipilah menurut jenis kelamin (lelaki dan perempuan) dan data gender digunakan untuk mengidentifikasi adanya kesenjangan gender (gender gap) dan permasalahan gender (gender issues).

Analisis kebijakan responsif gender dilakukan melalui tiga tahap yaitu, tahap yang pertama diperlukan karena secara umum kebijakan, program, proyek dan kegiatan pembangunan selama ini masih netral gender (didasarkan pada asumsi bahwa pembangunan memberikan manfaat dan berdampak sama kepada perempuan dan laki-laki), tahap kedua yang merupakan formulasi kebijakan responsif gender, dan tahap ketiga penyusunan rencana aksi responsif gender.

  1. I.            Langkah-langkah pada tahap pertama :

a) Mengidentifikasi tujuan dan sasaran kebijakan/program/proyek/kegiatan pembangunan kehutanan yang ada dari masing-masing Eselon I sesuai tugas pokok dan fungsi. Apakah kebijakan/program/proyek/ kegiatan pembangunan telah dirumuskan dan ditetapkan untuk mewujudkan kesetaraan gender.

b) Menyajikan data kuantitatif dan atau kualitatif yang terpilah menurut jenis kelamin sebagai data pembuka wawasan. Apakah data yang ada mengungkapkan kesenjangan atau perbedaan yang cukup berarti antara perempuan dan laki-laki.

c) Menganalisis sumber dan atau faktor-faktor penyebab terjadinya kesenjangan gender (gender gap); (a). akses yang sama terhadap sumber-sumber daya pembangunan sektor kehutanan; (b). kontrol terhadap sumber-sumber daya pembangunan kehutanan; (c). partisipasi perempuan dan laki-laki dalam berbagai tahapan pembangunan kehutanan termasuk dalam proses pengambilan keputusan; (d). manfaat yang sama dari hasil pembangunan kehutanan atau sumber daya pembangunan kehutanan yang ada.

d) Mengidentifikasi masalah-masalah gender (gender issues) berdasarkan keempat faktor penyebab terjadinya kesenjangan gender dengan menjawab 5 W dan 1 H. Apa masalah-masalah gender yang diungkapkan oleh faktor-faktor kesenjangan gender; dimana terjadinya kesenjangan antara perempuan dan laki-laki dalam masyarakat publik; mengapa terjadi kesenjangan tersebut; apakah kebijakan/program/proyek/kegiatan pembangunan sektor kehutanan yang ada justru memperlebar kesenjangan, mempersempit kesenjangan atau tetap, dan apakah akar permasalahan.

  1. II.            Langkah-langkah pada tahap kedua :

a) Merumuskan kembali kebijakan/program/proyek/kegiatan pembangunan kehutanan yang reponsif gender.  Dengan mempertimbangkan hasil  proses analisis gender yang dilakukan pada langkah 1 sampai 4 tahap pertama, sehingga menghasilkan kebijakan/program/proyek/kegiatan pembangunan yang responsif gender.

b) Mengidentifikasi indikator gender (gender indicator) dari setiap kebijakan/program/proyek/ kegiatan pembangunan sektor kehutanan dari langkah 5.

  1. III.            Langkah-langkah pada tahap ketiga :

a)    Menyusun Rencana Aksi; yang didasarkan pada  kebijakan/program/ proyek/kegiatan pembangunan kehutanan yang responsif gender dengan tujuan untuk mengurangi/menghilangkan  kesenjangan antara perempuan dan laki-laki.  Seluruh rencana aksi yang disusun sesuai dengan tujuan kebijakan yang telah responsif gender yang telah diidentifikasi dalam langkah 5.

b)    Mengidentifikasi sasaran secara (kuantitatif dan atau kualitatif) bagi setiap rencana aksi butir ketujuh.  Hasil identifikasi memastikan bahwa dengan rencana aksi tersebut mengurangi  dan atau menghapus kesenjangan gender.