Filsafat Pra Socrates
Bangsa Yunani merupakan bangsa yang pertama kali berusaha menggunakan akal untuk berpikir. Kegemaran bangsa Yunani merantau secara tidak langsung menjadi sebab meluasnya tradisi berpikir bebas yang dimiliki bangsa Yunani.
Menurut Barthelemy, kebebasan berpikir bangsa Yunani disebabkan di Yunani sebelumnya tidak pernah ada agama yang didasarkan pada kitab suci. Keadaan tersebut jelas berbeda dengan Mesir, Persia, dan India. Sedangkan Livingstone berpendapat bahwa adanya kebebasan berpikir bangsa Yunani dikarenakan kebebasan mereka dari agama dan politik secara bersamaan.
Pada masa Yunani kuno, filsafat secara umum sangat dominan, meski harus diakui bahwa agama masih kelihatan memainkan peran. Hal ini terjadi pada tahap permulaan, yaitu pada masa Thales (640-545 SM), yang menyatakan bahwa esensi segala sesuatu adalah air, belum murni bersifat rasional. Argumen Thales masih dipengaruhi kepercayaan pada mitos Yunani. Demikian juga Phitagoras (572-500 SM) belum murni rasional. Ordonya yang mengharamkan makan biji kacang menunjukkan bahwa ia masih dipengaruhi mitos. Jadi, dapat dikatakan bahwa agama alam bangsa Yunani masih dipengaruhi misteri yang membujuk pengikutnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa mitos bangsa Yunani bukanlah agama yang berkualitas tinggi.
Secara umum dapat dikatakan, para filosof pra-Socrates berusaha membebaskan diri dari belenggu mitos dan agama asalnya. Mereka mampu melebur nilai-nilai agama dan moral tradisional tanpa menggantikannya dengan sesuatu yang substansial.
A. Aliran Miletos/Madzhab Milesian
Aliran ini disebut Aliran Miletos karena tokoh-tokohnya merupakan warga asli Miletos, di Asia Kecil, yang merupakan sebuah kota niaga yang maju. Berikut beberapa tokoh yang termasuk kedalam Aliran Miletos atau dikenal pula dengan istilah Madzhab Milesian:
1. Thales
Thales hidup sekitar 624-546 SM. Ia adalah seorang ahli ilmu termasuk ahli ilmu Astronomi. Ia berpendapat bahwa hakikat ala mini adalah air. Segala-galanya berasal dari air. Bumi sendiri merupakan bahan yang sekaligus keluar dari air dan kemudian terapung-apung diatasnya.
Pandangan yang demikian itu membawa kepada penyesuaian-penyesuain lain yang lebih mendasar yaitu bahwa sesungguhnya segalanya ini pada hakikatnya adalah satu. Bagi Thales, air adalah sebab utama dari segala yang ada dan menjadi ahir dari segala-galanya.
Ajaran Thales yang lain adalah bahwa tiap benda memiliki jiwa. Itulah sebabnya tiap benda dapat berubah, dapat bergerak atau dapat hilang kodratnya masing-masing. Ajaran Thales tentang jiwa bukan hanya meliputi benda-benda hidup tetapi meliputi benda-benda mati pula.
2. Anaximander
Anaximander adalah murid Thales yang setia. Ia hidup sekitar 610-546 SM. Ia berpendapat bahwa hakikat dari segala seuatu yang satu itu bukan air, tapi yang satu itu adalah yang tidak terbatas dan tidak terhingga, tak berubah dan meliputi segala-galanya yang disebut “Aperion”. Aperion bukanlah materi seperti yang dikemukakan oleh Thales. Anaximander juga berpendapat bahwa dunia ini hanyalah salah satu bagian dari banyak dunia lainnya.
3. Anaximenes
Anaximenes hidup sekitar 560-520 SM. Ia berpendapat bahwa hakikat segala sesuatu yang satu itu adalah udara. Jiwa adalah udara; api adalah udara yang encer; jika dipadatkan pertama-tama udara akan menjadi air, dan jika dipadatkan lagi akan menjadi tanah, dan ahirnya menjadi batu. Ia berpendapat bahwa bumi berbentuk seperti meja bundar.
B. Aliran Pythagoras
Pythagoras lahir di Samos sekitar 580-500 SM. Ia berpendapat bahwa semesta ini tak lain adalah bilangan. Unsur bilangan merupakan prinsip unsur dari segala-galanya. Dengan kata lain, bilangan genap dan ganjil sama dengan terbatasa dan tak terbatas.
1. Xenophanes
Xenophanes merupakan pengikut Aliran Pythagoras yang lahir di Kolophon, Asia Kecil, sekitar tahun 545 SM. Dalam filsafatnya ia menegaskan bahwa Tuhan bersifat kekal, tidak mempunyai permulaan dan Tuhan itu Esa bagi seluruhnya. Ke-Esaan Tuhan bagi semua merupakan sesuatu hal yang logis. Hal itu karena kenyataan menunjukkan apabila semua orang memberikan konsep ketuhanan sesuai dengan masing-masing orang, maka hasilnya akan bertentangan dan kabur. Bahkan “kuda menggambarkan Tuhan menurut konsep kuda, sapi demikian juga” kata Xenophanes. Jelas kiranya ide tentang Tuhan menurut Xenophanes adalah Esa dan bersifat universal.
2. Heraklitus (Herakleitos)
Heraklitos hidup antara tahun 560-470 SM di Italia Selatan sekawan dengan Pythagoras dan Xenophanes. Ia berpendapat bahwa asal segalanya adalah api dan api adalah lambing dari perubahan. Api yang selalu bergerak dan berubah menunjukkan bahwa tidak ada yang tetap dan tidak ada yang tenang.
C. Aliran Elea
1. Parmenides
Lahir sekitar tahun 540-475 di Italia Selatan. Ajarannya adalah kenyataan bukanlah gerak dan perubahan melainkan keseluruhan yang bersatu. Dalam pandangan Pamenides ada dua jenis pengetahuan yang disuguhkan yaitu pengetahuan inderawi dan pengetahuan rasional. Apabila dua jenis pengetahuan ini bertentangan satu sama lain maka ia memilih rasio. Dari pemikirannya itu membuka cabang ilmu baru dalam dunia filsafat yaitu penemuannya tentang metafisika sebagai cabang filsafat yang membahasa tentang yang ada.
2. Zeno
Lahir di Elea sekitar 490 SM. Ajarannya yang penting adalah pemikirannya tentang dialektika. Dialektika adalah satu cabang filsafat yang mempelajari argumentasi.
3. Melissos
Lahir di Samos tanpa diketahui secara tepat tanggal kelahirannya. Ia berpendapat bahwa “yang ada” itu tidak berhingga, maka menurut waktu maupun ruang.
D. Aliran Pluralis
1. Empedokles
Lahir di Akragas Sisislia awal abad ke-5 SM. ia menulis buah pikirannya dalam bentuk puisi. Ia mengajarkan bahwa realitas tersusun dari empat anasir yaitu api, udara, tanah, dan air.
2. Anaxagoras
Lahir di Ionia di Italia Selatan. Ia berpendapat bahwa realitas seluruhnya bukan satu tetapi banyak. Yang banyak itu tidak dijadikan, tidak berubah, dan tidak berada dalam satu ruang yang kosong. Anaxagoras menyebut yang banyak itu dengan spermata (benih).
E. Aliran Atomis
Pelopor atomisme ada dua yaitu Leukippos dan Demokritos. Ajaran aliran filsafat ini ikut berusaha memecahkan masalah yang pernah diajukan oleh aliran Elea. Aliran ini mengajukan konsep mereka dengan menyatakan bahwa realitas seluruhnya bukan satu melainkan terdiri dari banyak unsur. Dalam hal ini berbeda dengan aliran pluralisme maka aliran atomisme berpendapat bahwa yang banyak itu adalah “atom” (a = tidak, tomos = terbagi).
F. Aliran Sofis
Sofisme berasal dari kata Yunani “sophos” yang berarti cerdik atau pandai. Tokoh-tokoh kaum sofis adalah Protagoras, Grogias, Hippias, Prodikos, dan Kritias.
Referensi
Noor, Hadian. Pengantar Sejarah Filsafat. Malang: Citra Mentari Group. 1997.
Osborne, Richard. Filsafat Untuk Pemula.  Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 2001.
Russell, Bertrand. Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2004.
Turnbull, Neil. Bengkel Ilmu Filsafat. Jakarta: Penerbit Erlangga. 2005.
http://bakuljangan.wordpress.com/2008/01/03/hubungan-agama-dan-filsafat-di-barat/

Prev: Psycholinguistics
Next: I Miss My Past

reply share
//

 

//

// //

 

Filsafat

Sunangunungdjati

Lihat Profil Jadikan teman    Kirim Pesan

 

Sunan Gunung Djati adalah Harian Online Blogger Sunan Gunung Djati. Semula berawal dari Komunitas Blogger Kampus UIN SGD Bandung yang terbentuk pada tanggal 27 Desember 2007. Sejak 9 Februari 2009 dapat mengudara di Jagat Internet. Staff Redaksi: Pimpinan Umum: Ibn Ghifarie| Pimpinan Redaksi: Sukron Abdilah| Pengelola dan Keamanan Website: Badru Tamam Mifka, Zarin Givarian, Ahmad Mikail| Desain: Nur Azis| Kontributor Tetap: Pepih Nugraha (Senin-Ngeblog), Neng Hannah (Selasa-Gender), Bambang Q Anees (Rabu-Filsafat), Asep Salahudin (Kamis-Kesundaan), Afif Muhammad (Jumat-Teologi), A..1

3Belum ada nilai.

Seorang murid mengelub kepada gurunya “bapak menuturkan banyak cerita, tetapi tidak pernah menerangkan maknanya kepada kami. Jawab sang guru, Bagaimana pendapatmu, Nak, Andaikata seseorang menawarkan Buah padamu, apakah ia mengunyahkannya dahulu bagimu? (Anthony de Mello, Burung Berkicau)

Sunan Djati-Filosofstik atau pengetahuan megenai filsafat belumlah berarti berfilsafat. Belajar filsafat bukan hendak menjadi “ahli waris” seluruh pemikiran yang telah tertulis. Bukan pengulangan kembali, melainkan pengambilan kembali untuk penciptaaan ulang. Berfilsafat merupakan suatu cara berpikir yang tidak bersumber pada suatu  rangkaian kepercayaan, akan tetapi yang hanya berdasarkan pada pengalaman dan pemikiran dari pemikir sendiri. “Filsafat bukanlah suatu pemujaan terhadap sesuatu yang suci, akan tetapi suatu usaha untuk memperoleh pengertian sendiri”[1]

Belajar filsafat sebagai ikhtiar menemukan pemahaman yang jernih tentang segala sesuatu (terutama perihal dirinya sendiri) merupakan makna dari filsafat sendiri. Filosophia adalah “keinginan menjadi arif”, dan kegiatan belajar tentu saja berada dalam keinginan yang sama. Seorang pembelajar seharusnya terus-menerus menegaskan pada dirinya bahwa ia bukanlah “orang-orang yang arif” (sofis) walaupun telah menemukan banyak informasi dan wawasan, pembelajar yang baik adalah yang terus menerus penasaran pada soal bagaimana menjadi arif itu.

Ada perbedaan antara kepandaian dan kearifan. Kepandaian adalah kemampuan untuk menunjukkan semata-mata secara rasional apa yang dapat kita wujudkan dari data-data melalui bertukar pikiran secara logis. Kearifan adalah sikap untuk mengambil suatu pendirian tertentu dalam kehidupan kita berdasarkan hasil kepandaian tadi. Untuk dapat benar-benar hidup, kita harus mempunyai perspektif (cara memandang) atas kehidupan ini dan dengan itu atas kenyataan hidup yang dialami. Kearifan akan membawa seseorang ke dalam suatu kenyataan tertentu sedemikian jauh, sehingga ia mengerti tentang apa yang dipermasalahkannya. Seseorang bisa saja terlihat pandai, namun ia hanya mengkatakan perspektif orang lain bukan perspektif dirinya, bukan hasil olahan dari apa yang benar-benar dialaminya secara mendalam. Sebaliknya, seorang bijak adalah yang tak menunjukkan kepandaiannya namun dapat menunjukkan cara pandang baru yang menyelamatkan kediriannya.

Belajar filsafat berarti belajar untuk berhasrat pada kearifan atau belajar untuk mencintai kearifan. Kearifan bukan sejenis benda yang bisa diambil dari luar diri untuk dimiliki, kearifan dihasilkan dari penyadaran akan diri pribadi. Kearifan secara demikian tak bisa dipelajar dan tak ada satupun yang bisa mengajarkannya. Ia hasil dari mengalami  kehidupan pribadi dengan cara bercermin kepada pengalaman hidup orang lain. Belajar sejarah filafat yang dipenuhi oleh kisah filsuf, kegelisahannya, pertanyaan yang diajukannya, dan upaya untuk mencar jawabannya hanya berarti jika kita menganggapnya sebagai sebuah cermin. Cermin itu memantulkan manusia yang wajahnya sama dengan diri kita, ia bukan dewa-dewa yang teramat suci. Penganggapan bahwa mereka juga manusia akan memudahkan kita untuk membandingkan kedirian kita dengan mereka. Hal ini dapat membebaskan kita dari rasa takut untuk berbeda dengan mereka, filsuf-filsuf itu.

Keterbebasan dari rasa takut ini penting bagi proses pembelajaran. Kita yang selama ini dididik dalam rasa takut dan rasa malu telah merasakan penderitaan terkekang di bawah bayangan yang tak menentu. Semenjak sekolah dasar kita belajar untuk takut dan malu pada guru, takut dan malu membuat kesalahan, takut dan malu untuk berbeda. Barangkali ini berasal dari pola pendidikan yang menekankan pada kemampuan untuk menjawab segala persoalan dan mengharuskan kesamaan dalam menjawab segala sesuatu. Untuk itu, banyak rumah di negeri ini pernah merasa penting untuk memiliki Buku Pintar yang berisi seluruh pengetahuan yang bisa menjawab soal-soal secara tepat dan sama. Rasa takut itu kemudian menekan seluruh keinginan untuk menyatakan kesadaran kita yang sejati dan perasaan yang sebenarnya akan sesuatu. Rasa takut dan malu itu  membuat kita tidak memiliki keyakinan bahwa kita bisa memberikan cara pandang yang berbeda dengan orang lain, akhirnya membuat kita tidak pernah merasa yakin pada diri sendiri.

Dalam rasa takut dan rasa malu kita menjadi pecundang dalam segala hal. Situasi reformasi mementaskan kepecundangan kita. Begitu kebebasan dikumandangkan, kita menemukan diri kita kebingungan untuk melakukan pembentukan formasi baru bagi kehidupan bernegara. Kebebasan dirayakan, namun dalam kerangka rasa takut dan rasa malu. Karena kita takut disalahkan, kebebasan digunakan untuk menyalahkan institusi, untuk menunjuk hidung orang lain. Karena kita malu akan kelemahan yang dimiliki, kita segera menunjukkan kelemahan orang lain. Pada sisi yang lain, ada banyak orang yang menentang proses pembukaan sejarah hitam negeri ini atas dasar rasa malu. Korupsi, Kulusi dan Nepotisme yang hendak dibersihkan tak selesai-selesai karena rasa malu dan rasa takut itu begitu menguat. Alhasil, kita malu dan takut untuk secara terus terang mengakui kesalahan diri kita masing-masing; persis seperti dulu di bangku sekolahan ketika kita malu dan takut untuk bertanya pada guru/dosen di depan kelas.

Filsafat adalah cara untuk menemukan keberanian dalam merumuskan diri sendiri. Dalam filsafat kita menemukan kegelisahan yang tak kunjung habis, pertanyaan-pertanyaan yang terus tidak menemukan kepastian jawaban, dan jawaban-jawaban yang semula dianggap final namun kemudian ditemukan celanya. Kesemuanya ditemukan dalam formasi yang wajar, maksudnya kesalahan dalam filsafat tampak sebagai suatu kemestian manusiawi dan karena itu tak perlu ada rasa takut dan malu terhadap kesalahan. Dalam filsafat kita menemukan banyak cara pandang yang berbeda terhadap satu soal, dan semuanya begitu tak menjadi soal bahkan kemudian menghasilkan kesadaran-kesadaran yang luar bisa. Cara pandang yang berbeda sangat penting bagi kita saat ini, terutama karena kita telah disadarkan oleh proses perubahan sosial bahwa kesamaan cara pandang alih-alih menyelesaikan masalah malah mengekalkan masalah. Dalam dapat belajar bagaimana merumuskan masalah dari apa yang semula dianggap tidak ada masalah. Melalui cara ini kita jadi terpancing untuk mulai lagi merumuskan diri dan kehidupan kita secara baru, bukan dari hal besar dari apa yang menjadi basis dari kehidupan kita: yang remeh dan tak diperdulikan.

Filsafat yang kerap didefinisikan sebagai “hasrat akan kearifan” membuat siapapun yang bersentuhan dengannya tersedot pada hasrat itu. Dalam hasrat terhadap kearifan, kita akan malu ketika merasa diri sebagai sang arif, yang telah arif dan tak mungkin melakukan kesalahan. Terlebih pengakuan diri sebagai sang arif dalam sejarah filsafat ditulis dalam nada miring, yaitu sebagai kaum sofis yang menjajakan kepandaiannya untuk memanipulasi orang lain dengan bayaran tertentu.

Dalam kancah seperti ini, guru/dosen dan murid/mahasiswa tidak berbeda: semuanya memiliki posisi yang sama sebagai pencari yang berhasrat akan kearifan. Murid/mahasiswa yang sering dianggap sebagai orang-orang yang belum tahu, karena itu ia bersedia mencari untuk mendengar dan memperhatikan; dan guru/dosen  yang kerap mereka yang tahu dan telah belajar, pandai, dan yang menyampaikan pengetahuan dan pandangan mereka; tidak ditemukan lagi ketika kita belajar filsafat. Dalam berfilsafat tak ada seorangpun yang “telah tahu” atau telah menemukan kepastian kebenaran. Bukankah filsafat berarti “hasrat menemukan kebenaran”, selagi definisi ini digunakan tak ada satu orangpun yang merasa telah sampai, karena itu tak ada yang bisa menjadi guru dalam arti “telah tahu”. Guru-murid berada dalam relasi mencari kebenaran dengan hasrat yang dalam. Perbedaannya terletak pada cara, guru mencari kearifan dengan cara menceritakan apa yang sudah ia alami (dari kehidupan dan buku-buku yang telah dibacanya) sedangkan murid mengemukakan hasratnya dengan secara tulus mendengarkan dan membaca uraian filsafat sambil menerapkan dalam pengalaman kehidupannya.

Dalam belajar filsafat ada aturan yang disarankan untuk diterapkan sejak awal, hukum itu berbunyi:

“…apa arti gagasan-gagasan mereka untuk para filsuf itu sendiri, apa nilai gagasan-gagasan itu dalam diri sendiri dan apa nilainya bagi kita: itulah ketiga pertanyaaan yang senantiasa harus diajukan orang dalam menyelidiki sejarah filsafat, meskipun secara didaktis atau eksplisit tidak selalu mungkin atau tidak selalu perlu diajukan secara terpisah…”[2]

Lewat cara ini, semua murid dianjurkan secara bebas untuk mengaitkan seluruh pemikiran dengan kondisi dirinya, dengan kesadaran dan hasratnya yang murni. Pada titik ini, ungkapan Wittgenstein, “Filsafat bukan ajaran melainkan suatu usaha” menjadi terasa. Filsafat bukan ajaran karena itu kita tak langsung harus percaya dan membelanya mati-matian, filsafat adalah usaha untuk menemukan kebenaran berdasarkan diri sendiri setalah bercermin dari kebenaran yang telah teruji.

Ketiadaan rasa malu dan takut, kepercayaan pada perbedaan, keyakinan bahwa diri sendiri mampu memecahkan pemecahan akan soal-soal kehidupan menjadi hasil lanjutan dari belajar filsafat. Hal ini mungkin kedengarannya agak berlebihan, untuk itu kisah Sophie dalam novel Jostein Gaardner, Sophies World bisa dikemukakan. Sophie, pada suatu pagi menemukan pertanyaan-pertanyaan aneh: siapakah kamu? Darimanakah datangnya Dunia? Dua pertanyaan itu membuatnya kebingungan, kenapa ada pertanyaan seperti itu? Untuk apa merumuskan pertanyaan sekonyol itu? Bukankah semuanya sudah tergelar dan begitu saja ada?

Lalu ditemani Albert Knox, lelaki misteriur, ia mengembara dari satu pemikiran filsuf ke pemikiran filsuf yang lain: dari Thales sampai Sartre. Dari banyak filsuf itu ia belajar merumuskan jawaban atas masalah kehidupannya. Dari Filsuf Yunani awal Sophie menemukan keajaiban berpikir dari hal-hal yang kecil dan remah seperti air, api atau lainnya; dari filsuf modern ia mendapatkan cara menganalisa kenyataan-kenyataan yang semula dianggap telah lazim; kemudian dari Sartre ia mendapatkan kesimpulan bahwa manusia tidak memiliki sifat untuk bergantung, manusia menciptakan dirinya sendiri. Seluruh penjelajahannya itu dirumuskan ulang untuk menjadi bekal perumusan situasi hidupnya, lalu Sophie menyatakan:

“Setelah melakukan telaah filsafat yang mendalam –yang dimulai dari Filosof Yunani awal hingga zaman sekarang—kami mendapati bahwa kami menjalani kehidupan kami dalam pikiran seorang mayor PBB di Lebanon….Eksistensi kita karenanya tidak lebih atau kurang dari semacam hiburan ulang tahun bagi Hilde Moller Knag (anak mayor tersebut). Kita semua telah diciptakan sebagai suatu kerangka bagi pendidikan filsafat untuk putri sang mayor. Ini berarti, misalnya, bahwa Mercedes putih di  gerbang itu tidak berharga satu sen pun. Itu hanya barang sepele. Nilainya tak lebih dari Mercedes putih yang melaju berputar-putar di kepala seorang mayor PBB yang malang…”[3]

Sophie dan Albert Knox kemudian merealisasikan kegelisahan dan rumusan baru atas kehidupan yang mereka alami. Mereka berdua meninggalkan handai tolannya, keluar dari cerita novel dan berniat mendatangi Hilde dan Mayor. Handai tolannya, tentu merasa aneh dan menganggap semua keputusan Sophie sebagai tindakan sinting. Namun Sophie menjawab, “…Anda dan siapapun yang lain di sini tidak akan merindukan kami karena alasan yang sederhana, yaitu kalian tidak ada, kalian tak lebih dari bayang-bayang.”[4] Lalu Sophie dan Albert Knox mendatangi danau peristirahatan Hide dan Mayor dan melepaskan dayung perahu. Hanya itu yang mereka bisa lakukan setelah berfilsafat? Ya, tetapi itu masih lebih baik karena sudah merumuskan dirinya sebagai tidak sekadar tokoh novel dan menunjukkan daya kreasi di luar kehendak pengarangnya.

Kita mungkin juga tengah menjalani “kehidupan dalam pikiran seorang”, namun tidak pernah menyadarinya. Sophie dan Alberto Knox, lewat penjelajahan di dunia filsafat, bisa melakukan itu, yaitu menemukan simpulan yang menggerakkan kesadaran bahwa menjadi manusia berarti tak bergantung pada siapapun, menjadi manusia berarti merumuskan dirinya sen`diri. Situasi inilah yang barangkali ingin dicapai oleh Andreas Harefa ketika mengutip Peter Sange:

“Pembelajaran sebenarnya mendapatkan inti artinya untuk menjadi sangat manusiawi. Melalui pembelajaran kita menciptakan kembali diri kita. Melalui pembelajaran kita dapat melakukan sesuatu yang tidak pernah dapat kita lakukan sebemulnya. Melalui pembelajaran kita merasakan kembali dunia dan hubungan kita dengan dunia tersebut. Melalui pembelajaran kita memperluas kapasitas kita untuk menciptakan, menjadi bagian dari proses pembentukan kehidupan”.[5]

Harefa memilih kata pembelajaran untuk proses belajar, dan kata pembelajar untuk aktivitas pelaksanaan hasrat akan kebenaran. Saya pikir kita akan juga setuju dengan kriteria ini, karena dalam belajar filsafat yang terutama memang bukan menemukan informasi mengenai segala hal, namun menemukan diri kita sejati di tengah pergulatan kebenaran-kebenaran.

Filsafat sekali lagi adalah ikhtiar mencintai kearifan. Jadi hubungan guru-murid tidak berjalan dalam hubungan pewaris dan ahli waris. Jikapun ada warisan itu sekadar pemicu agar ahli waris melakukan petualangan untuk memasuki dirinya sendiri. Guru dan murid dalam proses belajar filsafat sama-sama berposisi sebagai thulab (penghasrat), seperti kata-kata Nabi Muhammad, “Jadilah thulab (penghsrat kebenaran) semenjak engaku lahir, sampai ke liang akhir”.

Kembali pada soal pembelajaran filsafat, bagaimana cara hubungan guru-murid? Socrates barangkali tipe ideal bagi guru filsafat, dan Plato adalah tipe murid yang menarik. Socrates menyatakan “saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa” dan ia menyatakan bahwa ia tidak akan menyampaikan kesimpulan-kesimpulan pasti. Socrates hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan pada diri dan orang lain, sehingga secara bersama-sama mencari jawabannya. Ia seorang arif karena ia dapat meletakkan pengetahuannya dalam kalimat: “Kita sudah sepakat bahwa…tetapi jika anda berkeberatan mengenai satu hal, katakanlah pada saya. Kemudian akan kita pikirkan lagi.”[6] Sementara Plato dengan setia mendengarkan serentak ikut terlibat mengajukan pertanyaan dan jawaban, kemudian menuliskannya dengan perspektif dirinya.

Di samping Socrates, apa yang dikemukakan Imanueal Kant dan Wittgenstein barangkali juga bisa diingat-ingat oleh pengajar filsafat.

“Dari saya, kalian tidak akan belajar filsafat. Saya mengajar kalian berfilsafat bukan pemikiran-pemikiran untuk ditiru, melainkan bagaimana caranya untuk berpikir sendiri”. (Imanuel Kant,)

“Saya tidak boleh mencegah orang-orang lain untuk berpikir, melainkan –apabila itu mungkin—mendorong seseorang untuk berpikir sendiri”. (Wittgenstein)

Kesemuanya dikemukakan agar proses pembelajaran filsafat dapat tetap menjaga energi kreatif dan kritis semua unsur yang terlibat.

“Berfilsafat semenjak taraf yang paling awal anti otoriter. Ia menjauhkan diri dari dogma-dogma, indoktrinasi, sensor dan perintah-perintah untuk pengumuman atau penarikan kembali. Salah satu yang pertama dan uatama dipelajari dalam filsafat adalah keberanian untuk menantang setiap bentuk paksaan dan tidak pernah mengakui suatu kebenaran atas dasar argumentasi-argumentasi otoriter, ancaman atau propaganda yang menggiurkan, melainkan semata-mata atas dasar penertian yang bebas dan alasan-alasan yang lugas. (Paperzak)

Belajar Filsafat; Belajar Mengajukan Pertanyaan

Pertanyaan-pertanyaan anda lebih penting daripada jawaban-jawaban anda dan setiap jawaban menyebabkan terjadinya pertanyaan-pertanyaan baru” Karl Jaspers.

Pertanyaan dan rasa heran adalah muasal filsafat atau berfilsafat. Kemajuan filsafat diukur dari pertanyaan yang diajukan bukan dari jawaban yang diberikan. Berfilsafat berkenaan dengan kemampuan memberikan pertanyaan terhadap sesuatu rumusan yang telah dianggap final. Dalam filsafat, setiap data dan setiap pengalaman sedapat mungkin ditinjau dengan tidak berprasangka dan dengan perhatian yang mendalam.

Jika kita ingin belajar filsafat, fokuskanlah pada pertanyaannya. Jika kita terfokus pada jawaban yang diberikan oleh para tokoh, kita akan terjebak pada pelbagai teori yang membingungkan (banyak tokoh, banyak jawaban untuk satu soal yang sama).  Fokus pada jawaban saja akan membuang-buang waktu percuma. Untuk itu jangan membiasakan diri menghafal ungkapan-ungkapan tokoh-tokoh filsafat, namun kemukakanlah: apakah pertanyaannya?

Alasannya begini dapat bermula dari kata-kata Bertrand Russel berikut ini:

“…para filsuf sekaligus merupakan akibat dan sebab: akibat dari keadaan masyarakatnya dan hubungan-hubungan politik dan sosial dari zamannya; sebab- sepanjang mereka berhasil – dari anggapan-anggapan yang meninggalkan bekasnya pada hubungan-hubungan politik dan sosial dari kurun waktu kemudian.”

setiap filsuf hidup dalam ruang waktunya masing-masing. Ia berada dalam kehidupan, masalah dan teka-tekinya. Ia mengajukan pertanyaan sebagai upaya untuk memahaminya, lalu ditemukanlah sehimpun jawaban. Namun jawaban itu harus diletakkan dalam konteks kehidupannya yang tentu saja berbeda dengan kehidupan kita hari ini. Ungkapan Thales bahwa dunia ini berasal dari air, tentu begitu luar biasa untuk saat itu. Namun untuk saat ini, pada saat ilmu pengetahuan alam telah menunjukkan temuan-temuan yang lebih teruji, jawaban Thales menjadi tidak berarti. Berbeda jika kita berfokus pada pertanyaannya (apakah asal-muasal segala sesuatu?), Thales akan terus bisa digunakan karena pertanyannya masih bisa relevan untuk hari ini.

Jadi, mengutip Hector Hawton[7], cara yang lebih bermanfaat dalam belajar filsafat adalah dengan memperhatikan bagaimanakah setiap filsuf mengajukan beberapa pertanyaan baru, yang teranyam dengan argumen yang segar, dan kemudian mengajukan jawaban namun dimentahkan lagi oleh  pertanyaan baru yang lebih segar dari filsuf kemudian. Begitu selanjutnya. Dengan cara ini, “kita tinggal menyaring pengalaman selama berabad-abad. Kita tidak saja mengetahui, misalnya, hal-hal yang ditanyakan oleh Locke, tetapi juga hal-hal yang dipikirkan oleh Berkeley mengenai pertanyaan itu, dan bagaimana kelanjutan pertanyaan tersebut ketika hinggal di berbagai pikiran Hume dan Kant.

Sekali lagi belajar filsafat berarti menelusuri pertanyaannya bukan jawabannya. Jika kita terpaku pada jawaban akan menjebak kita pada kesia-siaan. Di kancah filsafat yang satu soal terus-menerus menjadi masalah dari zaman ke zaman, memungkinkan satu argumen tidak memiliki umur yang panjang: ia bisa saja telah dikritik dan direvisi oleh pemikiran selanjutnya. Terpaku pada satu argumen saja, tanpa melihat nasib argumen itu pada lipatan sejarah berikutnya,  akan membuat kita membicarakan botol kosong. Kita bersikutat pada argumen yang pada zamannya terbukti sebagai argumen yang salah; atau mengajukan pertanyaan yang pada masa lampau pernah diperbaiki dengan perbaikan yang hati-hati.

Jadi, sebagai langkah, salah satu cara terbaik untuk belajar filsafat adalah 1) carilah pertanyaannya, 2) temukan bagaimana pertanyaan itu dijawab, 3) bagaimana jawaban itu digugat dan diperbaiki; atau bagaimana pertanyaan itu diperbaiki atau digugat dari masa ke masa.

Membaca buku filsafat merupakan kegiatan memperhatikan secara mendalam terhadap segala yang telah dipikirkan orang lain (filsuf-filsuf), menyiapkan rasa heran dan siap mengajukan segala pertanyaan pada mereka. Tokoh yang kita baca barangkali seorang filsuf besar, namun belum tentu ia telah begitu sempurna tanpa kesalahan yang bisa dipertanyakan. Kalaupun ada yang sempurna, kesempurnaan itu untuk zamannya yang belum tentu pas untuk zaman kita.

“Ciri khas dari seorang filsuf yang baik bukanlah bahwa dia harus dapat memecahkan segala persoalan…Seringkali yang paling baik yang dapat dikerjakannya adalah menunjukkan masalah-masalahnya, melukiskannya dengan kata-kata, sekalian dengan segala sesuatu yang mungkin tidak dapat dihindari, dan menerangkan akibat-akibat yang disebabkan oleh keadaan persoalan yang bersangkutan atas penyelidikan-penyelidikan yang lain” (Xenophone)[8]

Hal ini akan bisa dibuktikan jika kita membaca tokoh lain yang muncul setelah tokoh yang kita baca. Kita akan menemukan gugatan atau revisi atas pertanyaan yang menjadi dasar tokoh yang sedang kita baca.

Jadi, bagaimana cara kita belajar filsafat?

  • Anggaplah filsafat bukan barang suci yang disakralkan. Ia hanya pemikiran biasa dari orang biasa yang bisa kita gugat, dipertanyakan ulang.

“Jika  orang menginginkan suatu filsaat sebagai suatu sistem prinsip-prinsip yang menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang kebenarannya sangat pasti, maka hal itu adalah sesuatu yang mustahil” (Ubbink).[9]

Filsafat bukan pemikiran yang selesai, ia bahkan selalu menyisakan pertanyaan baru yang membuat kita dipaksa terlibat, yakinlah bahwa di dalam filsafat, kita –jarang atau– tidak pernah mendapatkan pemecahan-pemecahan yang tuntas atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

  1. Filsafat adalah pemikiran yang mengundang kita untuk selalu terlibat langsung. Banyak sekali filsafat yang maksudnya agar kita meneruskan apa yang telah dimulainya. Dengan demikian jangan sungkan-sungkan untuk tidak sependapat, tuliskan pendapat dan sanggahan anda, ujilah kebenaran yang dikemukakan oleh filsuf-filsuf itu. Alfred Ayer pernah menyarankan untuk menjadikan pemikiran seseorang sebagai bahan latihan berfilsafat. Ayer menyatakan, “…..ajukan pendapat-pendapat yang sudah tetap itu, sebagai bahan diskusi; mencari standar-standar dan menguji nilai-nilainya; apa asumsi-asumsi itu masih berlaku.” Dengan cara ini kita terlibat, juga kehidupan nyata kita.
  2. Agar bisa menguji dengan baik, kita juga jika perlu harus menunda apa yang semula kita yakini. Dengan cara ini, kita tidak berperang sendirian. Jika dalam pikiran kita masih ada keyakinan lama dan itu dijadikan ukuran, kita tak akan menemukan mutiara yang ditawarkan orang lain. Rasakan dulu tanpa prasangka, baru setelah itu dibandingkan. Serentak dalam perbandingan itu, kita telah melakukan pengujian secara tidak langsung.
  3. Seorang pembelajar filsafat tidak pernah merasa benar sendiri, telah benar dan tak mungkin salah.

“Tidak ada yang kurang pantas bagi seorang filsuf selain daripada mau benar sendiri dalam diskusi dan dalam berargumentasi. Mereka benar sendiri –sampai bentuk refleksi logisnya yang paling halus—adalah pengungkapan “jiwa mempertahankan diri”, yang justru menjadi tujuan seorang filsuf untuk menghapuskannya…” (Theodor W. Adorno)

Artikel ini mencoba menawarkan uraian sejarah filsafat dalam kaitan sebab-akibat, menekankan bahwa inti berfilsafat adalah pertanyaan, dan terakhir memberi peluang bagi kita semua untuk terlibat. Maksudnya,

  1. Satu pemikiran akan diletakkan dalam kaitannya dengan situasi yang menyebabkannya (pemikiran dan situasi zaman sebelumnya) dan situasi yang diakibatkannya (pemikiran dan situasi zaman yang muncul sesudahnya).
  2. Setiap pemikir diletakkan dalam drama pencarian jawaban-jawaban atas pertanyaan pemikir sebelumnya. Ikhtiar yang bermula dari pertanyaan lain (yang mempertegas atau menambahkan pertanyaan utama) lalu merumuskan dengan cara baru, namun rumusan itu akan juga dikritisi dan direvisi oleh pemikir sesudahnya. Dengan cara ini kita akan menemukan kehebatan seorang filsuf (yaitu ketika kita membandingkan dengan filsuf sebelumnya) sekaligus kelemahan seorang filsuf  (yaitu ketika kita membandingkan dengan filsuf sesudahnya).
  3. Setiap pemikir, diupayakan, dikaitkan dengan situasi zamannya serta kemungkinannya bagi aplikasi di zaman ini.
  4. Dalam kaitan sejarah inilah ungkapan Neil Postman dapat dikemukakan, bahwa setiap tokoh dalam sejarah pemikiran ditampilkan sebagai pembuat kesalahan yang besar (the great error maker) sekaligus juga pengoreksi-pengoreksi kesalahan yang besar (the great error-corrector). Karena itu bagi Postman Bagi Postamn, proses belajar selayaknya sanggup memperlihatkan pada peserta belajar bahwa kesalahan bukanlah sesuatu yang memalukan, karena justru melalui kesalahan kita dapat meningkatkan pemahaman kita terhadap sesuatu.

“Karena kita adalah jiwa yang tidak sempurna, maka pengetahuan kita juga tidak sempurna. Sejarah tentang proses belajar adalah sebuah petualangan untuk mengatasi kesalahan-kesalahan kita. Tidak ada dosda bagi orang yang berbuat salah. Dosa itu ada pada ketidakmauan kita menguji kepercayaan-kepercayaan, dan mempercayai bahwa kemampuan-kemampuan kita tidak bisa salah”.[10]


[1] F. Elders, dikutip dari Geerard Beekman, Filsafat para Filusf Berfilsafat h. 51

[2] Ravel, Geschiendenis van de westerse Filosofie, dikutip dari Beekman, Filsafat para Filsuf Berfilsafat, Erlangga, hal. 56

[3] Jostein Gaardner, Dunia Sophie, Mizan, Bandung, hal. 517

[4] Jostein Gaardner, hal. 519

[5] Peter Seneg, Fifth Dicipline, dikutip dari Andreas Harefa, Menjadi Manusia Pembelajar, Gramedia, Jakarta, hal.139

[6] Dikutip dari Crito

[7] Hector Hawton, Filsafat yang Menghibur, Ikon, Jogjakarta, 2003, ha. 7

[8] Geraard Beekman, h. 125

[9] Geraard Beekman, h. 119

[10] Neil Postman, Matinya Pendidikan, hal. 210 [Nemuriuta F

// http://www.facebook.com/share.php?u=http://filsafat.kompasiana.com/2010/01/27/bagaimana-belajar-filsafat/

Sebarkan Tulisan:

Tanggapan Tulisan

aprillins chimera

27 Januari 2010 09:1

0

1) carilah pertanyaannya,
2) temukan bagaimana pertanyaan itu dijawab,
3) bagaimana jawaban itu digugat dan diperbaiki; atau bagaimana pertanyaan itu diperbaiki atau digugat dari masa ke masa.

boleh juga ni triknya.. salam kenal aja yaa..

 

jelas banget kalo sgala sesuatunya dimulai dgn pertanyaan … heran

Tulis Tanggapan AndaGuest User

 

Ayo maksimalkan daur ulang bahan anorganik, taruh ponsel & aksesoris bekas di drop box Nokia.

Belajar dari Kegagalan Tambak Intensi
Luangkan Waktu Libur untuk Tanah
Apa yang Anda lakukan di hari libur, khususnya Sabtu dan Minggu?

 

 

TULISAN TERKAIT

sastra ada dalam kehidupan

Kehidupan kita ialah sebuah cerita, bayak makna yang dapat kita gali untuk membuat suatu karya sastra, sering kali kita tidak menyadari adalah seorang penulis. Seorang yang menghiasi kertas kehidupanya dengan tinta hitam,putih ataukah abu-abu. Atau tak jarang seseorang karena suatu hal merobek buku kehidupanya.

Rabu, 09 Juli 2008

Pemikiran Timur : Flsafat atau Kepercayaan ?

Pemikiran Timur : Flsafat atau Kepercayaan ?

Pemikiran timur sering dianggap sebagai pemikiran yang tidak rasional, tidak sistematis, dan tidak kritis. Ini yang menyebabkan pemikiran timur diangap bukan filsafat. Sifat-sifat penegtahuan secara konfensional dipandang nharus ada dalam filsafat. Seringkali dipandang tidak ada dalam filsafat timur, oleh karena itu filsafat timur dipandang sebagai agama. Padahal agama dan filsafat saling bertolak belakang, agama emnagjarkan kepatuhan sedangkan filsafat mengandalkan kemampuan berfikir secara kritis yang sering ditampilakan dalam kemapuan kita untuk meragukan, mempertayakan, membongkar sampai keakar untuk kemudian dikontruksikan menjadi pemikiran yang baru yang lebih masuk akal.
Meskipun ada juga pemikiran yang mengangap bahwa agama dan filsafat adalah dua hal yang sejalan. Santo Aquinas sebagai filsuf yang juga agamawan kristiani, yang berpendapat bahwa agama dan filsafat adalah dua hal yang sejalan. Iqbal menegaskan bahwa agama islam dan filsafat semestinya beririgan untuk mencapai kebenaran. Tetapi pada praktiknya sangat sulit untuk melakukan hal tersebut secara mutlak. Selalu saja ada yang mesti dikorbankan untuk yang menjadi utama pemikiran kita adalah yang satunya merupakan tambahan saja.
Di abad pertengahan misalnya, filsafat adalah hambah bagi iman. Filsafat dimanfaatkan untuk membantu memperjelaskan permaslahan teologi. Semboyan fait over reason ( iman melampaui nalar) merupakan contoh bagi ketidak sejajaran agama dan filsafat dalam kehidupan kongkret. Dalam pemikiran Islam pertentangan agama dengan filsafat berlangsung hingga penghujung abad ke-21. Dalam pemikiran eropa, agama dan filsafat lebih sering dibedahkan. Filsafat sering dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan. Filsafat punya kemampuan untuk menyerang ilmu dan teologi tetapi juga mampu diserang oleh teologi dan ilmu.
Tetapi juga pemikiran timur dijadikan pisau bedah bagi banyak permasalahan filosofis, bahkan mereka mengembangkanya dengan sistematika pemikiran yang filosofis. Pemikiran yang filosofis bukan mutlak milik barat tetapi milik semua orang. Orang pasti perna memikirkan apakah yang selama ini dilakukanya dan apakah agama yang diimaninya merupakan hal yang benar atau salah. Apakah hanyalah perasaan takut akan kehidupan setelah mati. Bahkan seorang ateis pun sebenarnya seorang berpikir filosofis karena ia berpikir apakah tuhan itu benar-benar ada atau tidak.
Pemikiran etis dari Confucius, banyak membahas bagaimana hidup yang baik bagi manusia dan bagaimana manusia memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. Pemikiran yang semacam itu memang sama dengan Aristoteles membahas tentang kebahagiaan dan bagaimana memperoleh kebahagian tersebut. Bagi Aristoteles bahwa kebahagiaan harus merupakan tujuan pada dirinya sendiri yang dapat tercapai apabila ia menjalani hidup dengan keutamaan dan praktiknya. Adalah hidup dimana manusia bisa mengatur perbuatanya dengan rasio yang selalu mengambil kendali atau dorongan instruktif yang menyesatkan.
Conficius mengajukan berbagai keutamaan manusia dalam hidupnya agar mencapai kebahagian. Jika kita memandang ajaran Confucius sebagai suatu kepercayaann yang sama dengan agama, karena pengikutnya juga demikian maka hal yang sama dapat kita lakukan pada ajaran Plato, Aritoteles. Mengingat tidak sedikit orang yang menganggap ajaran atau pemikiran mereka sama atau melebihi agama .
Ada satu pendapat yang menarik dari filsuf eksistensialisme Karl jasper. Ia menyimpulkan bahwa dalam sejarah peradapan manusia ada empat orang yang menciptakan dan mendemotrasikan cara hidup yang kemudian dijalankan oleh pengikutnya yang sangat banyak antara lain, Buddha, Confucius, Socrates, dan Jesus. Masing-masing memiliki keunikan dan memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ungkapan Jasper menunujukan satu pengakuan bahwa pemikiran timur juga merupakan bagian dari kasanah filsafat.
Sanderso Beck mengungkapkan bahwa Confecius sejajar dengan Socrates. Ia juga menunjukan bahwa bagaimana sejarah timur tanpa pemikiran Confecius sebagaimana pemikiran barat tanpa Socrates, Aristoteles, dan Plato. Memang kalau kita beranggapan kalau filsafat adalah pemikiran yang harus memenuhi kriteria yang dipakai oleh kebanyakan sistem filsafat barat. Berbeda dengan filsafat barat, pemikiran timur tidak menampilkan sistematika yang biasa dipakai dalam filsafat barat. Seperti bagian bidang kajian filsafat menjadi metafisika, epistemologi dan axilogi. Selain itu pemikiran timur sering diterima begitu oleh penganutanya tanpa kajian kristis terlebih dahulu. Sehinga banyak pemikiran filsafat yang mengklaim pemikiran timur sebagi agama. Beberapa kajian terhadap pemikiran timur juga menunjukan kurangnya telaah kritis terhadap pemikiran timur yang dilakukan oleh mereka yang mendalaminya. Mereka lebih sering menafsirkan, berusaha memahinya. Mereka lebih sering mengamalkanya. Dari sini terkesan pemikiran timur hanya seperangkat tuntutan praktis untuk menjalani hidup, atau sebagai serangkaian aturan bagi manusia untuk mencapai kebahagian. Itu semua bukanlah patokan yang menentukan apakah pemikiran timur dapat digolongkan sebagai filsafat atau tidak.
Di barat sendiri pengertian filsafat sudah semakin bergeser. Kalau kita bicara tentang sistematika, filsafat yang ditampilkan oleh Robert Rorty, Quinne, dan Derida sudah tidak berbicara soal pembagian bidang kaijan filsafat lagi. Rorty bahkan menyatakan epismologi ( bidang filsafat yang mengkaji seluruh pengetahuan yang mungkin diperoleh manusia mulai dari asal usulnya, bagaimana cara mendapatkanya, sampai pengujian benar-salahnya dan sampai penegtahuan itu mati ).
Sampai di sini terlihat bahwa alasan pemikiran timur buhkanlah filsafat karena tidak memiliki sistematika yang harus dimiliki filsafat tidak relevan lagi. Pemikiran timur bisa jadi merupakan suatu bentuk filsafat meski tanpa sistematika seperti yang ditampilkan oleh pemikiran barat.
Hal ini juga merupakan pengaruh bahwa dominasi barat atas kriteria tentang filsafat dicoba pada filsafat atau pemikiran timur, memang secara etimologi filsafat memang berasal dari barat. Namun filsafat bukanlah monopoli barat saja. Karena timur juga mempunyai pemikiran yang tak kalah dalam, dan bahkan lebih mendalam, lebih analistis, dan lebih kritis.
Fu Yu lan menunjukan bahwa pnegrtian filsafat tidak hanya penegrtian yang digunakan oleh barat. Mengingat penegertian asal kata philosophy adalah philos dan sophis yang mempunyai arti cinta dan kebenaran. Dengan penegrtian cinta kepada kebenaran. Maka pemikiran timur dapat dikategorikan sebagai filsafat. Pemikiran timur juga merupakan proses berpikir manusia untuk memperoleh kebenaran yang didasari rasa cinta mereka terhadap kebenaran. Singaktnya adalah sebuah pemikiran yang berusaha untuk mendapatkan kebenaran dan didasari oleh rasa cinta pada kebenaran dapat disebut filsafat.
Hal yang dikuatkan oleh Socrates yang dikutip oleh Plato dalam Phaedrus :
Orang-orang yang gagasan dan pemikiranya didasari oleh pengetahuan tentang kebenaran dan dapat mempertahankanya dengan argumentasi yang kuat patut disebut Filsuf. Mereka adalah pecinta kebijaksanaan atau wisdom. Ada dua kondisi yang niscaya harus ada dalam penegrtian kebijaksanaan dan keduanya tak bis berdiri sendiri.
1.Pengetahuan tentang kebaikan tertinggi.
2.Tindakan untuk mencapai kebaikan tertinggi.
Mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak saja bukanlah kebijaksanaan. Begitu pula dengan melakukan sesuatu yang benar tetapi tidak mengetahui apakah hal tersebut benar. Untuk dapat menilai seseorang bijaksana kedua hal tersebut harus tampil dalam diri oran tersebut. Dua kondisi yan terkandung dalam kebijsanaan yang mungkin hilang atau samar dalam pemikiran dan pemahaman pengikut pemikir timur, mereka hanya mengamalkan saja segala hasil pemikiran yang mereka anut tanpa mencari kebijaksana. Pemikiran timur pada penganutnya tidak bersifat terbuka tetapi sudah menjadi suatu dogmatis.
Kriteria sitematis bukan berarti filsafat timur harus memiliki bagian-bagian seperti filsafat barat yang secara umum mencakup metefisika, epistemologi, dan axiologi. Pemenuhan kriteria secara sistematis bagi timur bisa berbeda antara sistem satu pemikiran dengan pemikiran yang lain. Pemikiran Cina misalnya, sistematikanya bisa berdasarkan pada kontruksi konologis. Dari mulai awal penciptaan alam hingga meningalnya manusia yang dijaln secara runut. Yang penting adalah alur yang runut dalam setiap sistem pemikiran. Ada masalah yang jelas, ada proses pengelolahan informasi sebagai upaya penyelesaian masalah, dan solusi bagi masalah itu.
Sifat radikal dalam artian mendalam sampai akar-akar pada filafat timur sudah tampak pada para pemikir timur. Pemikiran Shidarta Gautama adalah pemikiran yang diangap radikal pada masanya. Ia mencari hakikat hdup sampai-sedalam dalamnya. Ia bahkan mencabut akar kehidupanya yang lama untuk berganti akar kehidupan yan baru. Dimulai ketika ia melihat kematian orang miskin berbeda dalam kehidupan istananya yang mewah. Sehingga ia meningalkan gelar pangeran demi mencapai kebenaran kehidupan. Yang ia temukan dalam Budhisme.
Penegrtian kriteria yang menjadi dasar kategorisasi terhadap pemikiran timur. Pemikiran itu memungkinkan berbagai pemikiran yang diluar pemikiran filsafat barat. Dengan hal diatas Hinduisme, budhisme, Daoisme, Chan dan pemikiran Islam dapat disebut sebagai filsafat.

Diposkan oleh prasetyo robensah di 16:29

Label: Pemikiran Timur : Flsafat atau Kepercayaan ?

Pilihlah Kehidupmu,jalanilah

Apabila membaca judul diatas, sepertinya HAL TERSEBUTmudah saja memujudkan kenyataanya. Tapi ternyata hal tersebut sangat sulit untuk menjadi manusia yang kita inginkan.

 

Catatan Serambi Sufi: ALIRAN ISYRAQIYYAH DALAM FILSAFAT ISLAM

Catatan Serambi Sufi

 

ALIRAN ISYRAQIYYAH DALAM FILSAFAT ISLAM

Bagikan

06 Oktober 2009 jam 15:10

Isyraqiyyah (Illuminisme)

Filsafat Isyraqiyyah atau iluminisme adalah sebuah pemikiran filosofis yang dasar epistemologinya adalah hati atau intuisi. Secara prosedural, logika yang dibangun adalah sama dengan logika emanasi dalam paripatetisme. Namun secara substansial keduanya mempunyai perbedaan yang mendasar.
Tokoh pelopor munculnya filsafat iluminatik ini adalah Suhrawardi. Nama lengkapnya adalah Sihabuddin Yahya ibn Habasy ibn Amirak Abu Alfutuh Suhrawardi. Ia dilahirkan di di kota kecil, Suhraward, Persia lau pada tahun 549/1154 M. Suhrawardi disebut juga Al-Syaikh Al-Maqtul, seperti halnya Socrates, ia dibunuh oleh penguasa Islam pada waktu itu karena pemikiran filsafatnya yang dianggap menentang maenstream pemikiran pada waktu itu.

Filsafat Isyraqiyyah ini pada mulanya digunakan Suhrawardi untuk mengkritik filsafat peripatetiknya Ibnu Shina. Dalam serangannya yang mungkin paling sengit pada Ibnu Shina, Suhrawardi menolak secara empatik pandangan Ibnu Shina sebagai filsof Timur (masyriqi). Dalam pandangan Suhrawardi, filsafat Paripatetik yang diusung oleh Ibnu Shina dan kawan-kawan tidak layak diklaim sebagai filsafat Timur. Ada perbedaan yang mendasar antara filsafat paripatetik dengan filsafat Timur. Serangan dan kritik utama Suhrawardi lebih merujuk pada buku yang berjudul Kararis al-Hikmah, yang dinisbahkan oleh Ibnu Shina sebagai metode filsafat timur.

Pertama-tama Suhrawardi menegaskan karaguan atas klaim Ibnu Shina bahwa Kararis didasarkan atas prinsip-prinsip ketimuran. Kemudian, ia melanjutkannya dengan menolak sengit penegasan Ibn Shina bahwa Kararis merupakan filsafat baru atas dasar sepasang argumen berikut: Pertama, tidak ada filsafat Timur sebelum Suhrawardi menciptakan filsafat iluminasi. Kedua, Suhrawardi bersikeras menunjukkan bahwa Kararis sesungguhnya disusun semata-mata sesuai dengan kaidah-kaidah Peripatetik (qawaid al-masyasya’in) yang sudah mapan, yang terdiri dari masalah-masalah yang hanya dimasukkan dalam apa yang olehnya dikhususkan sebagai philosophia generalis (al-hikam al-ammah).

Epistemologi Isyraqiyyah

Dalam bagian dari jenis keilmuan, filsafat iluminisme atau isyraqiyyah ini adalah bagian dari pengetahuan khudluri (knowledge by preson). Ilmu khudluri adalah ilmu yang didapatkan secara langsung oleh seseorang melalui pengalaman kehidupannya. Dalam pengetahuan dan kesadaran ini, pengetahuan dan subyek serta obyek sama sekali tidak dapat dipilah-pilah. Kemanunggalan subyek dan obyek pengetahuan ini adalah istanta (instance/mishdaq) paling sempurna dari kehadiran obyek pengetahuanb pada subyek pengetahuan. Karena prinsip dasar illuminisme adalah bahwa mengetahui sesuatu berarti memperoleh pengalaman tentangnya, serupa dengan intuisi primer terhadap determinan-determinan sesuatu. Apa yang ingin dijelaskan oleh Suhrawardi dalam filsafatnya adalah pengalaman pribadinya sendiri, yaitu pengalaman sehari-hari yang sampai pada titik tertentu ia bisa mencapai realitas puncak tertinggi (ultimate reality).

Dengan demikian, metodologi untuk mendapatkan pengetahuan ini bukanlah melalui cerapan indera, tetapi melalui pelatihan spiritual atau riyadlah. Karena pengetahuan semacam ini, saran yang dibutuhkan adalah kebersihan dan kesucian hati. Bagi seseorang yang mencapai kebersihan hati, maka secara langsung ia akan mendapatkan pengalaman tentang realitas hakiki (ultimate reality). Dalam perolehanya jiwa atau hati (qolb) mengalami keterbukaan (mukasyafah) sehingga ia akan terlimpahi oleh pancaran cahaya dari sumber cahaya itu sendiri. Sebagaimana yang dikatakan oleh Suhrawardi sendiri bahwa prinsip filsafat Isyraqiyyah adalah mendapat kebenaran lewat pengalaman intuitif, kemudian mengelaborasi dan memverivikasinya secara logis rasional.

Kemudian bagaimana gambaran atau bentuk dari penegtahuan iluminasi yang masuk kategori klhudluri ini? Secara umum sebenarnya hampir sama dengan filsafat emanasi. Di situ terdapat tangga-tangga wujud (existence) mulai dari wujud satu hingga sebelas. Jadi secara formal bentuknya sama dengan filsafat emanasi dalam parepatatisme yang mendahuluinya, dalam isyraqiyyah wujud mempunyai hirarki-hirarki, dari yang paling atas sampai terbawah. Hanya saja kalau dalam filsafat emanasi setiap tingkat diidentikkan dengan intelek, maka dalam filsafat Isyraqiyyah tingkatan-tingkatan tersebut diidentikkan dengan nur (cahaya).

Jadi seperti yang dijelaskan dalam filsafat paripatetik bahwa yang namanya wujud itu bukan satu tingkat tetapi bertingkat-tingkat. Wujud ini diistilahkan dengan akal. Maka dalam paripatetik selalu populer dengan istilah akal satu, akal dua, akal tiga dan sebagainya. Ini merupakan penggambaran hirarkisitas aktualisasi wujud tersebut. Semakin jauh tingkat wujud tersebut dari wujud utama, maka wujud tersebut kualitasnya semakin rendah dan begitu sebaliknya, semakin tinggi tingkatan wujud tersebut hingga mendekati aqal pertama maka kualitas wujud tersebut semakin suci dan luhur.
Begitu juga dengan iluminasi. Wujud di sini secara material diidentikan bukan dengan cahaya melainkan dengan cahaya. Sehingga ada cahaya utama yang merupakan cahaya maha cahaya, dari cahaya utama ini merupakan mewujudkan cahaya pertama, cahaya pertama mewujudkan cahaya ke dua, dari cahaya ke dua mewujudkan cahaya ke tiga dan seterusnya hingga sampailah cahaya yang terrendah yakni tingkatan cahaya yang dekat dengan alam materi.

Sekarang pertanyaannya adalah mengapa cahaya begitu penting dalam filsafat iluminismenya Suhrawardi? Kenapa bukan aqal yang menjadi sarana atau materi utama dalam mengartikulasikan filsafatnya? Karena ia lebih suka menggunakan keraifan lokal (local wisdom) dari nenek moyangnya yaitu budaya zoroasterisme. Jadi pada prinsipnya secara material, filsafat Suhrawardi ini bukan an sich dari Yunani maupun dari wahyu Islam, tetapi yang terutama dalah dikonstruk dari budaya lokal, yakni budaya ketimuran. Hikmatul Isyraqiyyah yang berarti kebijakan Timur adalah pengalaman ilahiyah yang sudah ada sebelum Suhrawardi lahir yang dibawa para wali-wali dan orang suci (Ancient Person). Ini merupakan wujud obsesinya untuk mengkritik keras filsafatnya Ibnu Sina yang sebelumnya dikatakan sebagai filsafat Timur seperti disinggung di atas. Jadi, melalui term Hikmatul Isyraqiyyah ini Suharawardi hendak mengatakan bahwa filafat iluminisme ini adalah filsafat yang khas sebagai representasi absah dari peradaban Timur, karena secara sosio-cultural, ia diramu dari tradisi-tradisi klasik Timur yang dikenal dengan tradisi zoroasterian.

Namun seperti yang dikatakan di atas, meskipun ini merupakan jenis pengalaman spiritual, namun ketika sudah didapatkan bukan berarti ia menjadi realitas yang tak terbahasakan. Tetapi bagi Suhrawardi pengalaman itu justru harus dikonfirmasikan, didiskursuskan secara logis.
Menurutnya ada beberapa metode yang harus ditempuh oleh seseorang untuk mendapatkan pengetahuan model iluminasi ini. Tahap pertama, seseorang harus membersihkan diri dari kecenderungn diri, dari kecenderungn duniawi untuk menerima pengetahuan duniawi. Kedua, setelah menempuh tahap pertama, sang filsof memasuki tahap iluminasi yang di dalamnya ia mendapatkan penglihatan akan sinar ketuhanan (An-nur Ilahiyah) serta mendapatkana apa yang disebut dengan cahaya ilham (Al-Anwarus Sanihah). Ketiga, tahap pembangunan pengetahuan yang utuh, di dasarkan atas logika diskursif. Keempat adalah tahap pengungkapan dan penulisannya

Catatan Serambi Sufi: ALIRAN ISYRAQIYYAH DALAM FILSAFAT ISLAM

 

06 Oktober 2009 jam 15:10

Isyraqiyyah (Illuminisme)

Filsafat Isyraqiyyah atau iluminisme adalah sebuah pemikiran filosofis yang dasar epistemologinya adalah hati atau intuisi. Secara prosedural, logika yang dibangun adalah sama dengan logika emanasi dalam paripatetisme. Namun secara substansial keduanya mempunyai perbedaan yang mendasar.
Tokoh pelopor munculnya filsafat iluminatik ini adalah Suhrawardi. Nama lengkapnya adalah Sihabuddin Yahya ibn Habasy ibn Amirak Abu Alfutuh Suhrawardi. Ia dilahirkan di di kota kecil, Suhraward, Persia lau pada tahun 549/1154 M. Suhrawardi disebut juga Al-Syaikh Al-Maqtul, seperti halnya Socrates, ia dibunuh oleh penguasa Islam pada waktu itu karena pemikiran filsafatnya yang dianggap menentang maenstream pemikiran pada waktu itu.

Filsafat Isyraqiyyah ini pada mulanya digunakan Suhrawardi untuk mengkritik filsafat peripatetiknya Ibnu Shina. Dalam serangannya yang mungkin paling sengit pada Ibnu Shina, Suhrawardi menolak secara empatik pandangan Ibnu Shina sebagai filsof Timur (masyriqi). Dalam pandangan Suhrawardi, filsafat Paripatetik yang diusung oleh Ibnu Shina dan kawan-kawan tidak layak diklaim sebagai filsafat Timur. Ada perbedaan yang mendasar antara filsafat paripatetik dengan filsafat Timur. Serangan dan kritik utama Suhrawardi lebih merujuk pada buku yang berjudul Kararis al-Hikmah, yang dinisbahkan oleh Ibnu Shina sebagai metode filsafat timur.

Pertama-tama Suhrawardi menegaskan karaguan atas klaim Ibnu Shina bahwa Kararis didasarkan atas prinsip-prinsip ketimuran. Kemudian, ia melanjutkannya dengan menolak sengit penegasan Ibn Shina bahwa Kararis merupakan filsafat baru atas dasar sepasang argumen berikut: Pertama, tidak ada filsafat Timur sebelum Suhrawardi menciptakan filsafat iluminasi. Kedua, Suhrawardi bersikeras menunjukkan bahwa Kararis sesungguhnya disusun semata-mata sesuai dengan kaidah-kaidah Peripatetik (qawaid al-masyasya’in) yang sudah mapan, yang terdiri dari masalah-masalah yang hanya dimasukkan dalam apa yang olehnya dikhususkan sebagai philosophia generalis (al-hikam al-ammah).

Epistemologi Isyraqiyyah

Dalam bagian dari jenis keilmuan, filsafat iluminisme atau isyraqiyyah ini adalah bagian dari pengetahuan khudluri (knowledge by preson). Ilmu khudluri adalah ilmu yang didapatkan secara langsung oleh seseorang melalui pengalaman kehidupannya. Dalam pengetahuan dan kesadaran ini, pengetahuan dan subyek serta obyek sama sekali tidak dapat dipilah-pilah. Kemanunggalan subyek dan obyek pengetahuan ini adalah istanta (instance/mishdaq) paling sempurna dari kehadiran obyek pengetahuanb pada subyek pengetahuan. Karena prinsip dasar illuminisme adalah bahwa mengetahui sesuatu berarti memperoleh pengalaman tentangnya, serupa dengan intuisi primer terhadap determinan-determinan sesuatu. Apa yang ingin dijelaskan oleh Suhrawardi dalam filsafatnya adalah pengalaman pribadinya sendiri, yaitu pengalaman sehari-hari yang sampai pada titik tertentu ia bisa mencapai realitas puncak tertinggi (ultimate reality).

Dengan demikian, metodologi untuk mendapatkan pengetahuan ini bukanlah melalui cerapan indera, tetapi melalui pelatihan spiritual atau riyadlah. Karena pengetahuan semacam ini, saran yang dibutuhkan adalah kebersihan dan kesucian hati. Bagi seseorang yang mencapai kebersihan hati, maka secara langsung ia akan mendapatkan pengalaman tentang realitas hakiki (ultimate reality). Dalam perolehanya jiwa atau hati (qolb) mengalami keterbukaan (mukasyafah) sehingga ia akan terlimpahi oleh pancaran cahaya dari sumber cahaya itu sendiri. Sebagaimana yang dikatakan oleh Suhrawardi sendiri bahwa prinsip filsafat Isyraqiyyah adalah mendapat kebenaran lewat pengalaman intuitif, kemudian mengelaborasi dan memverivikasinya secara logis rasional.

Kemudian bagaimana gambaran atau bentuk dari penegtahuan iluminasi yang masuk kategori klhudluri ini? Secara umum sebenarnya hampir sama dengan filsafat emanasi. Di situ terdapat tangga-tangga wujud (existence) mulai dari wujud satu hingga sebelas. Jadi secara formal bentuknya sama dengan filsafat emanasi dalam parepatatisme yang mendahuluinya, dalam isyraqiyyah wujud mempunyai hirarki-hirarki, dari yang paling atas sampai terbawah. Hanya saja kalau dalam filsafat emanasi setiap tingkat diidentikkan dengan intelek, maka dalam filsafat Isyraqiyyah tingkatan-tingkatan tersebut diidentikkan dengan nur (cahaya).

Jadi seperti yang dijelaskan dalam filsafat paripatetik bahwa yang namanya wujud itu bukan satu tingkat tetapi bertingkat-tingkat. Wujud ini diistilahkan dengan akal. Maka dalam paripatetik selalu populer dengan istilah akal satu, akal dua, akal tiga dan sebagainya. Ini merupakan penggambaran hirarkisitas aktualisasi wujud tersebut. Semakin jauh tingkat wujud tersebut dari wujud utama, maka wujud tersebut kualitasnya semakin rendah dan begitu sebaliknya, semakin tinggi tingkatan wujud tersebut hingga mendekati aqal pertama maka kualitas wujud tersebut semakin suci dan luhur.
Begitu juga dengan iluminasi. Wujud di sini secara material diidentikan bukan dengan cahaya melainkan dengan cahaya. Sehingga ada cahaya utama yang merupakan cahaya maha cahaya, dari cahaya utama ini merupakan mewujudkan cahaya pertama, cahaya pertama mewujudkan cahaya ke dua, dari cahaya ke dua mewujudkan cahaya ke tiga dan seterusnya hingga sampailah cahaya yang terrendah yakni tingkatan cahaya yang dekat dengan alam materi.

Sekarang pertanyaannya adalah mengapa cahaya begitu penting dalam filsafat iluminismenya Suhrawardi? Kenapa bukan aqal yang menjadi sarana atau materi utama dalam mengartikulasikan filsafatnya? Karena ia lebih suka menggunakan keraifan lokal (local wisdom) dari nenek moyangnya yaitu budaya zoroasterisme. Jadi pada prinsipnya secara material, filsafat Suhrawardi ini bukan an sich dari Yunani maupun dari wahyu Islam, tetapi yang terutama dalah dikonstruk dari budaya lokal, yakni budaya ketimuran. Hikmatul Isyraqiyyah yang berarti kebijakan Timur adalah pengalaman ilahiyah yang sudah ada sebelum Suhrawardi lahir yang dibawa para wali-wali dan orang suci (Ancient Person). Ini merupakan wujud obsesinya untuk mengkritik keras filsafatnya Ibnu Sina yang sebelumnya dikatakan sebagai filsafat Timur seperti disinggung di atas. Jadi, melalui term Hikmatul Isyraqiyyah ini Suharawardi hendak mengatakan bahwa filafat iluminisme ini adalah filsafat yang khas sebagai representasi absah dari peradaban Timur, karena secara sosio-cultural, ia diramu dari tradisi-tradisi klasik Timur yang dikenal dengan tradisi zoroasterian.

Namun seperti yang dikatakan di atas, meskipun ini merupakan jenis pengalaman spiritual, namun ketika sudah didapatkan bukan berarti ia menjadi realitas yang tak terbahasakan. Tetapi bagi Suhrawardi pengalaman itu justru harus dikonfirmasikan, didiskursuskan secara logis.
Menurutnya ada beberapa metode yang harus ditempuh oleh seseorang untuk mendapatkan pengetahuan model iluminasi ini. Tahap pertama, seseorang harus membersihkan diri dari kecenderungn diri, dari kecenderungn duniawi untuk menerima pengetahuan duniawi. Kedua, setelah menempuh tahap pertama, sang filsof memasuki tahap iluminasi yang di dalamnya ia mendapatkan penglihatan akan sinar ketuhanan (An-nur Ilahiyah) serta mendapatkana apa yang disebut dengan cahaya ilham (Al-Anwarus Sanihah). Ketiga, tahap pembangunan pengetahuan yang utuh, di dasarkan atas logika diskursif. Keempat adalah tahap pengungkapan dan penulisannya

 

 

 

ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT ISLAM

A. Pendahuluan

Filsafat Islam muncul pada awalnya adalah diorong oleh sebuah cita-cita terciptanya keterpaduan antara akal dan wahyu, rasio dan hati, agama dan logika. Geliat pemikiran yang semacam ini muncul tatakala Islam mulai bersentuhan dengan tradisi filsafat Yunani klasik yang berkembang di abad pertengahan.Tokoh filsof Islam pertama kali yang berusaha untuk menyelaraskan atau mempertemukan antara akal dan wahyu adalah Al-Kindi (801-873). Di adalah tokoh yang pertama kali merumuskan secara sistematis apa itu filsafat Islam. Meskipun, pemikiran Al-Kindi sendiri sebenarnya masih berbaur secara lekat dengan debu teologi.

Memang, meskipun dalam ajaran Islam, aqal mendapatkan porsi yang cukup besar, namun dalam praktiknya umat Islam justru banyak yang meninggalkan aqal. Kehendak umat Islam untuk jauh dari tradisi rasionalitas itu justru dengan alasan untuk praktik keberagamaan itu sendiri. Secara umum umat Islam mempunyai asumsi kuat bahwa Islam adalah wahyu yang keberadaannya harus diterima secara taken for granted, sebuah produk yang sudah sempurna sehingga pengimplementasiannya ke dalam ranah empirik tidak memerlukan sentuhan rasionalitas lagi. Menggunakan akal atau rasionalitas dalam praktik keberagmaan ini justru akan berpotensi mendistorsi ajaran-ajaran suci Islam itu sendiri. Pola keberagamaan semacam ini akhirnya menimbulkan sebuah persepsi yang timpang. Agama akhirnya diposisikan sebagai antitesis akal atau sebaliknya akal diposisikan sebagai lawan dari agama.

Hal semacam itu, tentu merupakan sebuah ironi. Kenapa? Karena agama jusru bisa hidup kalau didukung oleh akal. Agama tidak akan pernah bisa hidup dan bicara kepada masyarakat kalau aktualisasi nilainya tidak dibingkai oleh kerja akal. Sebab, agama adalah sebuah ajaran yang universal dan abstrak, ia merupakan suara langit yang berusaha untuk menyentuh realitas. Ajaran semacam ini tidak akan mampu turun ke bumi kalau tanpa diperantarai oleh akal dan rasionlaitas. Bahasa agama selamanya akan terus melangit, tidak akan mampu dipahami oleh manusia di bumi kalau peran akal untuk mensosialisasikan bahasa tersebut dinisbikan. Akal adalah perangkat (tool) utama untuk mengkomunikasikan bahasa langit itu kepada penduduk bumi dan inilah yang terjadi di Islam.

Oleh karena itu, tokoh-tokoh filsof muslim seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Shina, Ibnu Rushd, Ibnu ‘Araby, Mulla Shadra dan sederet filsof muslim lainnya mempunyai ghirrah untuk menerapkan filsafat sebagai logika forma dalam memahami agama. Dan terbukti, setelah agama bisa didekaklan dengan filsafat Islam mengalami kejayaan dalam ilmu pengetahuan.

Namun meskipun demikian, tidak berarti filsof yang menyeret filsafat ke dalam ranah teologi atau wahyu tersebut berada dalam maenstream pemikiran. Seperti yang ada di wilayah teologi, di dalam dunia filsafat Islam juga terdapat beragam genre dan kredo filsafat yang beraneka ragam. Kalau di ranah teologi dikenal ada kredo teologis seperti Ahlussunnah, mu’tazilah, jabariyah, qodariyah dan syi’ah dan sebagainya, maka dalam filsafat Islam juga dikenal ada paripatetisme, emanasi, Isyraqiyyah (illuminisme), madzhab Isfahan (al-Hikmatul Muta’aliyyah) dan sebagainya. Namun dalam tulisan ini hanya berusaha menampilkan dua aliran saja yakni aliran Isyroqiyyah dan madzhab Isfahan. Untuk mengkaji beragam aliran filsafat Islam yang jumlahnya banyak itu tentu dibutuhkan tenaga ekstra. Karena adanya berbagai keterbatasan, di sini hanya bisa mengulas secara singkat dari dua aliran filsafat tersebut.

B. Aliran-Aliran Filsafat Islam

1. Isyraqiyyah (Illuminisme)

Filsafat Isyraqiyyah atau iluminisme adalah sebuah pemikiran filosofis yang dasar epistemologinya adalah hati atau intuisi. Secara prosedural, logika yang dibangun adalah sama dengan logika emanasi dalam paripatetisme. Namun secara substansial keduanya mempunyai perbedaan yang mendasar.

Tokoh pelopor munculnya filsafat iluminatik ini adalah Suhrawardi. Nama lengkapnya adalah Sihabuddin Yahya ibn Habasy ibn Amirak Abu Alfutuh Suhrawardi. Ia dilahirkan di di kota kecil, Suhraward, Persia lau pada tahun 549/1154 M. Suhrawardi disebut juga Al-Syaikh Al-Maqtul, seperti halnya Socrates, ia dibunuh oleh penguasa Islam pada waktu itu karena pemikiran filsafatnya yang dianggap menentang maenstream pemikiran pada waktu itu.

Filsafat Isyraqiyyah ini pada mulanya digunakan Suhrawardi untuk mengkritik filsafat peripatetiknya Ibnu Shina. Dalam serangannya yang mungkin paling sengit pada Ibnu Shina, Suhrawardi menolak secara empatik pandangan Ibnu Shina sebagai filsof Timur (masyriqi). Dalam pandangan Suhrawardi, filsafat Paripatetik yang diusung oleh Ibnu Shina dan kawan-kawan tidak layak diklaim sebagai filsafat Timur. Ada perbedaan yang mendasar antara filsafat paripatetik dengan filsafat Timur. Serangan dan kritik utama Suhrawardi lebih merujuk pada buku yang berjudul Kararis al-Hikmah, yang dinisbahkan oleh Ibnu Shina sebagai metode filsafat timur.

Pertama-tama Suhrawardi menegaskan karaguan atas klaim Ibnu Shina bahwa Kararis didasarkan atas prinsip-prinsip ketimuran. Kemudian, ia melanjutkannya dengan menolak sengit penegasan Ibn Shina bahwa Kararis merupakan filsafat baru atas dasar sepasang argumen berikut: Pertama, tidak ada filsafat Timur sebelum Suhrawardi menciptakan filsafat iluminasi. Kedua, Suhrawardi bersikeras menunjukkan bahwa Kararis sesungguhnya disusun semata-mata sesuai dengan kaidah-kaidah Peripatetik (qawaid al-masyasya’in) yang sudah mapan, yang terdiri dari masalah-masalah yang hanya dimasukkan dalam apa yang olehnya dikhususkan sebagai philosophia generalis (al-hikam al-ammah).

Epistemologi Isyraqiyyah

Dalam bagian dari jenis keilmuan, filsafat iluminisme atau isyraqiyyah ini adalah bagian dari pengetahuan khudluri (knowledge by preson). Ilmu khudluri adalah ilmu yang didapatkan secara langsung oleh seseorang melalui pengalaman kehidupannya. Dalam pengetahuan dan kesadaran ini, pengetahuan dan subyek serta obyek sama sekali tidak dapat dipilah-pilah. Kemanunggalan subyek dan obyek pengetahuan ini adalah istanta (instance/mishdaq) paling sempurna dari kehadiran obyek pengetahuanb pada subyek pengetahuan. Karena prinsip dasar illuminisme adalah bahwa mengetahui sesuatu berarti memperoleh pengalaman tentangnya, serupa dengan intuisi primer terhadap determinan-determinan sesuatu. Apa yang ingin dijelaskan oleh Suhrawardi dalam filsafatnya adalah pengalaman pribadinya sendiri, yaitu pengalaman sehari-hari yang sampai pada titik tertentu ia bisa mencapai realitas puncak tertinggi (ultimate reality).

Dengan demikian, metodologi untuk mendapatkan pengetahuan ini bukanlah melalui cerapan indera, tetapi melalui pelatihan spiritual atau riyadlah. Karena pengetahuan semacam ini, saran yang dibutuhkan adalah kebersihan dan kesucian hati. Bagi seseorang yang mencapai kebersihan hati, maka secara langsung ia akan mendapatkan pengalaman tentang realitas hakiki (ultimate reality). Dalam perolehanya jiwa atau hati (qolb) mengalami keterbukaan (mukasyafah) sehingga ia akan terlimpahi oleh pancaran cahaya dari sumber cahaya itu sendiri. Sebagaimana yang dikatakan oleh Suhrawardi sendiri bahwa prinsip filsafat Isyraqiyyah adalah mendapat kebenaran lewat pengalaman intuitif, kemudian mengelaborasi dan memverivikasinya secara logis rasional.

Kemudian bagaimana gambaran atau bentuk dari penegtahuan iluminasi yang masuk kategori klhudluri ini? Secara umum sebenarnya hampir sama dengan filsafat emanasi. Di situ terdapat tangga-tangga wujud (existence) mulai dari wujud satu hingga sebelas. Jadi secara formal bentuknya sama dengan filsafat emanasi dalam parepatatisme yang mendahuluinya, dalam isyraqiyyah wujud mempunyai hirarki-hirarki, dari yang paling atas sampai terbawah. Hanya saja kalau dalam filsafat emanasi setiap tingkat diidentikkan dengan intelek, maka dalam filsafat Isyraqiyyah tingkatan-tingkatan tersebut diidentikkan dengan nur (cahaya).

Jadi seperti yang dijelaskan dalam filsafat paripatetik bahwa yang namanya wujud itu bukan satu tingkat tetapi bertingkat-tingkat. Wujud ini diistilahkan dengan akal. Maka dalam paripatetik selalu populer dengan istilah akal satu, akal dua, akal tiga dan sebagainya. Ini merupakan penggambaran hirarkisitas aktualisasi wujud tersebut. Semakin jauh tingkat wujud tersebut dari wujud utama, maka wujud tersebut kualitasnya semakin rendah dan begitu sebaliknya, semakin tinggi tingkatan wujud tersebut hingga mendekati aqal pertama maka kualitas wujud tersebut semakin suci dan luhur.

Begitu juga dengan iluminasi. Wujud di sini secara material diidentikan bukan dengan cahaya melainkan dengan cahaya. Sehingga ada cahaya utama yang merupakan cahaya maha cahaya, dari cahaya utama ini merupakan mewujudkan cahaya pertama, cahaya pertama mewujudkan cahaya ke dua, dari cahaya ke dua mewujudkan cahaya ke tiga dan seterusnya hingga sampailah cahaya yang terrendah yakni tingkatan cahaya yang dekat dengan alam materi.

Sekarang pertanyaannya adalah mengapa cahaya begitu penting dalam filsafat iluminismenya Suhrawardi? Kenapa bukan aqal yang menjadi sarana atau materi utama dalam mengartikulasikan filsafatnya? Karena ia lebih suka menggunakan keraifan lokal (local wisdom) dari nenek moyangnya yaitu budaya zoroasterisme. Jadi pada prinsipnya secara material, filsafat Suhrawardi ini bukan an sich dari Yunani maupun dari wahyu Islam, tetapi yang terutama dalah dikonstruk dari budaya lokal, yakni budaya ketimuran. Hikmatul Isyraqiyyah yang berarti kebijakan Timur adalah pengalaman ilahiyah yang sudah ada sebelum Suhrawardi lahir yang dibawa para wali-wali dan orang suci (Ancient Person). Ini merupakan wujud obsesinya untuk mengkritik keras filsafatnya Ibnu Sina yang sebelumnya dikatakan sebagai filsafat Timur seperti disinggung di atas. Jadi, melalui term Hikmatul Isyraqiyyah ini Suharawardi hendak mengatakan bahwa filafat iluminisme ini adalah filsafat yang khas sebagai representasi absah dari peradaban Timur, karena secara sosio-cultural, ia diramu dari tradisi-tradisi klasik Timur yang dikenal dengan tradisi zoroasterian.

Namun seperti yang dikatakan di atas, meskipun ini merupakan jenis pengalaman spiritual, namun ketika sudah didapatkan bukan berarti ia menjadi realitas yang tak terbahasakan. Tetapi bagi Suhrawardi pengalaman itu justru harus dikonfirmasikan, didiskursuskan secara logis.

Menurutnya ada beberapa metode yang harus ditempuh oleh seseorang untuk mendapatkan pengetahuan model iluminasi ini. Tahap pertama, seseorang harus membersihkan diri dari kecenderungn diri, dari kecenderungn duniawi untuk menerima pengetahuan duniawi. Kedua, setelah menempuh tahap pertama, sang filsof memasuki tahap iluminasi yang di dalamnya ia mendapatkan penglihatan akan sinar ketuhanan (An-nur Ilahiyah) serta mendapatkana apa yang disebut dengan cahaya ilham (Al-Anwarus Sanihah). Ketiga, tahap pembangunan pengetahuan yang utuh, di dasarkan atas logika diskursif. Keempat adalah tahap pengungkapan dan penulisannya.

 

Komentar

Kelebihan filsafat Suhrawardi ini adalah terletak pada epistemologinya yang lebih menggunakan tradisi local, yakni tradisi zoroasterian yang lebih dulu ada sebelum Islam. Dengan hal ini Suhrawardi tidak terlalu terjebak pada imitasi dari pola pemikiran orang lain. Ia tidak berfilsafat dari “alam” pikirannya orang lain, melainkan justru berangkat dari tradisinya sendiri. Dengan bertolak dari tradisi lokalnya itu, ia satu sisi tetap menjaga orosinalitas (ashlah) tetapi tetap terbuka dengan wacana-wacana pemikran baru yang berasal dari pihak lain (ahdatsah). Dengan ini pula dibuktikan bahwa, kalau memang fislafat Suharawardi dikatakan sebagai filsafat Islam, maka sejak dahulu kala Islam memang sudah berkolaborasi dengan tradisi lokal. Sehingga tidak mungkin Islam ditarik pada wilayah purifikasi, seperti yang diusung oleh gerakan-gerakan Islam puritan sekarang ini, yang menolak mentah-mentah tradisi lokal para pengamal Islam itu sendiri.

Namun kelemahan dalam metode filsafat tersebut adalah tidak adanya ilustrasi dan metodologi jelas terkait cara untuk mengafirmasi, membahasakan atau memverivikasi pengalaman iluminatif yang sifatnya spiritual tersebut ke dalam diskursus logis. Suhrawradi hanya menyuguhkan metodologi yang masih sangat umum. Masalah ini justru sangat penting. Karena secara sepintas ini terkesan paradoks. Karena masalah spiritual diklaim sebagai sesuatu yang berlawanan dengan yang rasional. Maka, sekilas sungguh tidak masuk akal ketika pengalaman iluminasi itu oleh Suhrawardi harus diwacanakan secara logis. Bagaimana caranya untuk memverivikasikan dari yang spiritual ke rasional itu? Inilah sebenarnya PR Suhrawardi.

 

 

2. Madzhab Isfahan

Filsafat madzhab Isfahan ini lebih dikenal dengan Al-Hikamtul Muta’aliyyah atau fislafat tinggi. Munculnya madzhab Isfahan ini tak terlepas dari pergelokan politik pada waktu itu. Isfahan adalah sebuah daerah di daratan Persia. Istilah ini mula-mula dipopulerkan oleh Nasr, Corbin Asytiyani dan selanjutnya diperluas oleh sarjana-sarjana lainnya. Pendiri madzhab ini adalah Mir Damad yang kelak melahirkan murid tersohornya: Mulla Shadra sebagai penerus dan pengembang madzhab Isfahan ini. Oleh karena itu filsafat Hikmah (Al-Hikmatul Muta’aliyyah) atau mdazhab Isfahan ini merupakan fiilsafat yang bermuara pada kedua tokoh guru murid tersebut.

Madzhab ini muncuk ketika dinasti Shafawiyah mulai memindahkan ibukotanya dari Tibriz, kemudian ke Qazwin dan terakhir di Isfahan. Pada periode ini, Madzhab Isfahan berhasil membangun teologi yang kukuh, dan Persia mengalami salah satu periode terbesar dalam kemakmuran politik dan materialnya. Namun pada perjalanan selanjutnya, dalam usaha yang tak kenal untuk memperkuat legitimasi kekuasaannya dinasti shafawiyyah membutuhkan ahli fiqh dan para ahli Syi’ah dogmatis. Ini belum lagi para pengkhutbah dan para ulama yang ditugaskan untuk menyebarluaskan idiologi negara.

Inti madzhab isfahan ini adalah upaya untuk menyatukan kekuatan yang beragam dan bertentangan dalam sejarah intelektual Islam ke dalam kesatuan epistemologis dan ontologis yang selaras. Hingga puncak gerakan ini pada diri Mulla Shadra As-Syirazi, upaya-upaya Mir Damad haruslah dianggap sebagai kerangka persiapan..

Pada mulanya terdapat beragam pertentangan intelelektual Islam. Satu sisi ada kelompok filafat, kemudian kaum sufistik dan dogmatikawan Syi’ah. Ketiga kelompok ini memunculkan pandangan yang berbeda sehingga berpotensi menimbulkan perpecahan. Hal ini terutama para doktrinal Syi’ah yang didukung oleh penguasa Shafawiyyah hendak membabat habis para filsof. Praktik filsafat yang diupayakan oleh para filsof Persia dianggap sebagai amalan berbahaya dan mempunyai resiko bahay bagi merek asendiri.

Hal ini mempengaruhi terhadap kebijakan politik Bani shafawiyyah. Penguasa shafawiyyah tidak mengalokasikan anggaran untuk studi filsafat. Hal ini diperparah dengan serangan yang keras dari para dogmatikawan Syi’ah. Mereka menilai negatif para filsof dengan menganggap bahwa para filsof adalah orang-orang kafir dan menghina Tuhan. Tantangan yang hendak dipenuhi oleh madzhab Isfahan adalah mengawinkan semua diskursus yang beragam dan bertentangan mengenai pemhaman yang sah yang secara historis telah mengkotak-kotakan kaum muslimin dan selanjutnya menemptkan Syi’ah yang memimpin semua itu. Butir-butir penting sisnya bukan hanya membuat tradisi filsafat madzhab peripatetik dan ilumininsme, melainkan juga gnosis versi Ibnu Arabi san Syai’ah periode pasca Ghaibah.

Terilhami oleh cita-cita itu, Mulla Shadra, sebagai murid kaliber Mir Damad, kemudian mengembangkan filsafat yang revolusioner dan ambisius dalam upaya membuat sintesis yang menyeluruh, bukan hanya antara orientasi-orientasi beragam dalam tradisi paripatetik dan illuminisme Islam, melainkan yang lebih mendasar lagi, mengkoordinasikan sintesis yang sulit itu dengan dioktrin gnosis dan doktrin fiqh Syai’ah. Filsafat ini secara umum bertumpu pada tiga teori yaitu kesatuan wujud (wahdatul wujud), keutamaan wujud (ashalatul wujud), gerak substansial (alkharokatul jauhuhariyyah) dan kemanunggalan yang menmgetahui dan diketahui (ittihad al-‘aqil wa ma’qul). Filsafat ini berusaha menjembatani antara paradigma rasional empiristik dengan spiritula –mistik. Oleh karena itu, titik tolak dari seluruh bangunan filsafat Isfahan ini adalah konsep Ada (wujud). Jadi obyek material filsafat ini yang paling pokok adalah Being atau Ada.

Sebelumnya, ketika masih di tangan Mir Damad filsafat ini berpijak pada keberhasilan berkelanjutan diskursus-diskusus Paripatetik (rasionalistik-aristotelian) dan iluminisme (spiritual) yang dominan dalam jagat diskurusus filsafat Islam di masa Ibnu Shina dan suharawardi. Baik Mir Damad maupun Mulla Shadra mencela praktik spiritual-sufistik hingga melalaikan rasio dan juga sebaliknya para ahli fiqh yang dogmatis. Bahkan Mulla Shadra mengecam keras kaum sufi yang mabuk maupun para fiqh yang literalis.

Komentar

Sebagai filsafat yang berdasarkan pada konsep Ada, filsafat ini pada level ontologis hampir sama dengan filsafatnya Heidegger. Filsafat Heidegger adalah filsafat yang berprinsip pada konsep Ada (Being). Hal ini diilhami oleh filsafat Barat yang menurut Heidegger sendiri terjangkiti amnesia tentang Ada. Ada pada filsafat modern Barat disamakan dengan adaan (being). Maka dari itu, filsafat madzhab Isfahan ini untuk era postmodernisme ini sebenarnya menemukan momentumnya. Ketika filsafat modern diklaim sebagai filsafat yang tak kenal Ada sehingga menimbulkan beragam masalah akut pada wilayah aksiologinya, maka filsafat Isfahan ini mempunyai potensi antitesis terhadap spirit filsafat modern yang mulai dikritik dan digugat oleh banyak orang itu.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA:

 

-Nasr, Sayyed Hosein, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, Buku Pertama Mizan Bandung, 2003.

-Ziai, Hosein, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, Buku kedua, Mizan Bandung, 2003

-Bagir, Haidar, Buku Saku Filasafat Islam,Mizan Bandung,2006

-Yazdi, M.T.Misbah, Buku Darras Filsafat Islam, Mizan Bandung,2003

-Fakhry,Madjid, Sejarah Filsafat Islam:Sebuah Peta Kronologis, Mizan Bandung, 2002

Makalah ini adalah tugas Kuliah S-2 yang disarikan dari Kuliah Filsafat Ilmu Oleh Ir. H. Fuad Rumi, MS,pada PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR, tahun 1425 H/2005 M, Oleh Muhammad Kasim Saguni (NIM : 459.03.16.2004. Mohon maaf ya, nama saya di ijazah dan kartu-kartu identitas adalah Muh.Kasim Saguni. Adapun Qasim, itu menyesuaikan dengan tulisan Arabnya, he… he… he….

I. PENGERTIAN FILSAFAT ILMU
A. Pengertian Filsafat
Istilah Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia, yang tersusun dari kata philo yang berarti cinta dan sophia yang berarti kebenaran atau hikmah. Dengan demikian, philoshopia mengandung arti cinta kebenaran atau cinta akan hikmah. Istilah yang sama dengan filsafat adalah falsafah yang berasal dari bahasa Arab, kedua istilah ini sekalipun penyebutannya berbeda tetapi memiliki arti dan sumber yang sama.
Orang yang ahli dalam bidang filsafat disebut filsuf atau filosof. Dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah failasuf, sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah philosoper.
Dalam tinjauan terminologis, pengertian filsafat dikemukakan oleh beberapa ahli, antara lain:

1. Plato (427 – 347 sebelum masehi), seorang filsuf Yunani yang memiliki murid bernama Aristoteles dan berguru pada Socrates, berpendapat bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada.
2. Immanuel Kant (1724 – 1804 M), seorang filsuf yang dikenal sebagai raksasa berpikir barat, mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang tercakup di dalamnya empat persoalan, yaitu:
(1) Metafisika, yang membahas mengenai apakah yang dapat diketahui,
(2) Etika, yang membahas apa yang boleh dikerjakan,
(3) Agama, yang membahas sampai di mana pengharapan manusia, dan
(4) Anthropologi, yang membahas apa dan siapa manusia itu sesungguhnya.
3. Al Farabi (wafat 950 M), filsuf muslim besar sebelum Ibnu Sina mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu tentang sesuatu yang maujud (mengada) sebagaimana ia secara hakiki sebagai wujud.
4. Harold H.Titus, seorang filsuf mutakhir, berpendapat bahwa filsafat ialah usaha mencari suatu konsep rasional tentang alam semesta serta kedududkan manusia di dalamnya.

B. Pengertian Ilmu Pengetahuan

Dalam banyak hal, untuk menyatakan bentuk pengetahuan yang disebut ilmu, dalam bahasa Indonesia digunakan istilah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sebagai sebuah nama, sebenarnya terdiri atas dua kata yang masing-masing mempunyai arti saling berkaitan, yaitu ilmu dan pengetahuan. Karena itu kedua kata tersebut sering kita dapati digunakan secara sendiri-sendiri dan pula terkadang kita dapati secara bergandengan.
Dalam bahasa Inggris, digunakan kata science sebagai padanan kata ilmu dan knowledge sebagai padanan kata pengetahuan. Adapun kata ilmu pengetahuan, tidak kita temukan padanannya. Yang ada ialah scientif knowledge. Tapi bila scientif knowledge diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka ia menjadi Pengetahuan Ilmiah, bukan ilmu pengetahuan.
Dalam bahasa Arab, terdapat kata ‘ilmun ( علم ) yang bermakna ilmu dan ‘ilmiyah ( علمية ) yang bermakna ilmiah atau memiliki sifat-sifat sebagai ilmu. Dari gambaran tersebut di atas dapat kita lihat beberapa kata ilmu dan ilmiah dalam bahasa Indonesia secara konsonan lebih dekat pada bahasa Arab, seperti halnya kursi (Indonesia) dari kata kursiyyun.

Yang dimaksudkan dengan istilah ilmu pengetahuan dalam bahasa Indonesia sebenarnya adalah scientific knowledge (pengetahuan ilmiah) itu. Bila dengan kata ilmu yang kita maksudkan adalah science, maka itu berarti sekaligus sama juga dengan scientific knowledge. Atau secara lebih jelas ditulis: ilmu = science = scientific knowledge = pengetahuan ilmiah. Dengan demikian, seharusnya tidak ada istilah ilmu pengetahuan dalam bahasa Indonesia, sebab itu telah diwakili pengertiannya oleh kata ilmu. Demikian seterusnya, istilah ilmu pengetahuan dan teknologi yang diakronimkan sebagai iptek seharusnya menjadi ilmu dan teknologi yang akronimnya adalah iltek. Iltek dapat pula ditulis dalam akronim piltek, yaitu pengetahuan ilmiah dan teknologi.
Sebenarnya, istilah ilmu pengetahuan bagi pengetahuan ilmiah dalam bahasa Indonesia, dilatarbelakangi oleh batasan penggunaan kata science (ilmu) dalam khazanah science modern sebagai ilmu-ilmu kealaman belaka. Alasannya, karena ilmu-ilmu tersebut benar-benar diperoleh melalui proses keilmiahan yang kebenarannya dapat dibuktikan atau diversifikasi secara obyektif empiris. Karena itulah, dengan memandang bahwa ilmu pengetahuan ilmiah bukan hanya sekadar ilmu-ilmu kealaman tapi juga ilmu-ilmu kemanusiaan, dalam khazanah bahasa indonesia digunakan istilah ilmu pengetahuan.
Karena istilah ilmu pengetahuan telah menjadi sebuah istilah dalam kebudayaan kita, maka ia bisa tetap dipakai dalam pengertian bahwa yang dimaksud olehnya adalah pengetahuan ilmiah, sehingga dengan demikian dapat ditulis : ilmu pengetahuan = pengetahuan ilmiah = ilmu = science = scientific knowledge, dengan catatan bahwa kata ilmu atau science tidak hanya dipahami secara sempit sebagai ilmu-ilmu kealaman saja.

C. Pengertian Filsafat Ilmu

Filsafat Ilmu sebenarnya adalah ilmu mengenai ilmu (science for sciences). Filsafat ilmu berkenaan dengan penyelidikan tentang ciri-ciri suatu pengetahuan untuk disebut sebagai pengetahuan ilmiah, karena itu bisa diberi predikat sebagai ilmu. Tercakup di dalamnya penyelidikan terhadap cara-cara untuk memperoleh ilmu itu. Dalam filsafat ilmu akan dipertanyakan kembali secara dejure, landasan serta asas-asas yang memungkinkan suatu pembenaran terhadap ilmu dan apa yang dianggap benar oleh ilmu.
Selanjutnya, filsafat ilmu dibedakan lagi menurut tendensinya, yaitu; (1) filsafat ilmu dalam arti luas, dan (2) filsafat ilmu dalam arti sempit.
Filsafat ilmu dalam arti luas, disebut juga filsafat yang bertendensi metafisik, yakni membicarakan permasalahan yang menyangkut hubungan ilmu ke luar, seperti implikasi ontologik-metafisik dari citra dunia yang bersifat ilmiah (bagaimana imu memandang obyeknya sebagai obyek pengetahuan ilmiah), nilai-nilai yang menjadi pegangan penyelenggara ilmu serta konsekwensi etis penyelenggaraan dan penggunaan ilmu. Dengan tendensi ini, filsafat ilmu menyelidiki dasar-dasar ilmu. Misalnya apabila ilmu ukur menggunakan kata ruang, maka apakah ruang itu sesungguhnya? Apakah ia sungguh ada sebagai ruang mutlak, atau hanya merupakan skematisasi yang dipaksakan pada gejala-gejala yang diamati manusia. Demikian halnya dengan pertanyaan yang lain, seperti bagaimana peranan hukum sebab akibat dalam realitas alam? Apakah gejala sejarah dapat ditampilkan dalam suatu ilmu dengan alasan-alasan obyektif, dan sebagainya.
Sedangkan filsafat ilmu dalam arti sempit bertendensi metodologik, yaitu membicarakan permasalahan yang bersangkutan dengan hubungan-hubungan ke dalam yang terdapat dalam proses ilmu itu sendiri. Misalnya, bagaimana sifat ilmu sebagai pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk mencapai pengetahuan ilmiah. Pada pembicaraan filsafat ilmu dalam arti ini dipertanyakan segala hal yang berkenaan dengan konstruksi argumen yang sahih, misalnya: apakah verifikasi atau falsifikasi? peran apa yang dibuat oleh sebuah hipotesis, terdapatkah penalaran induktif di samping penalaran deduktif.
Sementara itu ahli lain tidak melihat pembicaraan filsafat ilmu bedasarkan klasifikasi kecondongan, tetapi secara umum sebagai suatu kesatuan konseptual yang membicarakan tiga problem, yaitu: (1). Problema Asal Pengetahuan (Origin of knowledge), (2). Problema penampilan (appearance) realitas. Dan, (3). Problema Pengujian (verivication) Kebenaran.
Jujun S. Suriasumantri melihat lain, bahwa filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafati yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu dalam tiga landasan filosofis, yaitu:

1. Landasan Ontologis, dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar: obyek apa yang ditelaah ilmu? bagaimana wujud hakiki obyek tersebut? bagaimana hubungan obyek itu dengan daya tangkap manusia?
2.Landasan epistemologis, dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar: bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? bagaimana prosedurnya? hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?
3.Landasan Aksiologis, dengan pertanyaan mendasar: untuk apa ilmu digunakan? bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional?

II. KESALAHAN FILSAFAT BARAT

A. Karakteristik Filsafat Barat

Filsafat Barat mengandalkan pemikiran yang lahir dari tradisi rasional dan sekuler Yunani dan Roma. Karena itu Barat tidak dapat merumuskan visinya mengenai kebenaran dan realitas berdasarkan pengetahuan yang diwahyukan. Demikian yang diungkapkan oleh C. A. Qadir, seorang filsuf muslim kontemporer dalam bukunya, Philosophy and Science in the Islamic Word.
Pengetahuan Barat lahir dari spekulasi-spekulasi metafisis para pemikir yang menganut yang menganut faham evolusi kehidupan dan penjelasan psikoanalitik tentang kodrat manusia, yang kemudianmenghasilkan desakralisasi pengetahuan. Melalui pandangan yang melalui desakralisasi itulah kemudian, Barat benar-benar memotong pengetahuan dari akarnya sehingga kehilangan wawasan tentang yang sakral. Akibat dari kecendrungan ini, yang pertama-tama mendapat pengaruh ialah pemikiran itu sendiri. Filsafat pada akhirnya hanya dipandang sebagai produk rasio semata-mata. Yang lebih lanjut timbul dari padanya ialah pandangan yang mekanistik mengenai realitas serta pandangan dunia yang tidak memberi tempat bagi nilai-nilai kerohanian.
Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa Barat memandang bahwa filsafat adalah segala upaya (berfikir filsafati) untuk menemukan kebenaran berdasarkan fikiran atau akal belaka, mereka kemudian memperjelas pengertiannya dengan mengatakan bahwa kebenaran tersebut dicapai bukan menggunakan wahyu atau ajaran agama, sebab jawaban berdasarkan wahyu atau ajaran agama bukan jawaban berdasarkan fikiran atau akal belaka. Karena itu mereka membedakan antara kebenaran filasafat dengan kebenaran wahyu atau agama. Cara pandang yang seperti inilah yang disebut sekularistik.
Pola fikir sekularistik inilah yang merupakan akar kesalahan konsep filsafat yang dibangun oleh Barat. Implikasi dari akar kesalahan ini, akan kelihatan secara jelas dalam pembahasan berikut ini.

B. Pandangan Filsafat Barat Tentang Sumber Ilmu
Pembicaraan tentang sumber ilmu merupakan permasalahan yang sangat mendasar dalam filsafat ilmu, karena dari padanyalah berpijak landasan-landasan filosofis (filsafat) ilmu.
Menurut filsafat science modern, yang dikenal juga dengan filsafat Barat (baca: filsafat sekularistik), ada empat sumber ilmu, yaitu:

1. Orang yang Memiliki Otoritas
yaitu mereka yang karena otoritasnya, tepat dan relevan dijadikan sebagai sumber pengetahuan tentang suatu hal. Otoritas tersebut didasarkan pada kesaksian yang bisa diberikannya.
Di zaman moderen ini, orang yang ditempatkan memiliki otoritas, misalnya, dengan pengakuan melalui gelar, diploma/ijazah. Termasuk juga dalam hal ini, misalnya, hasil publikasi resmi mengenai kesaksian otoritas tersebut, seperti buku-buku atau publikasi resmi pengetahuanlainnya.
Namun, penempatan otoritas sebagai sumber pengetahuan tidaklah dilakukan dengan penyandaran pendapat sepenuhnya, dalam arti tidak dilakukan secara kritis untuk tetap bisa menilai kebenaran dan kesalahannya. Karena itu, otoritas hanya ditempatkan sebagai sumber kedua, yang berkedudukan sebagai sumber eksternal, sedangkan sumber-sumber internal pada diri sendiri tetap sebagai sumber pertama.
2. Indra
Indra adalah peralatan pada diri manusia sebagai salah satu sumber internal pengetahuan. Untuk memahami posisi indra sebagai sumber pengetahuan biasanya diajukan pertanyaan misalnya, bagaimana mengetahui bahwa besi memuai bila dipanaskan ? atau air membeku bila didinginkan hingga mencapai derajat kedinginan tertentu ? Terhadap pengetahuan semacam itu, filsafat science moderen berpandangan bahwa indra lah yang menjadi sumbernya.
Bahkan pandangan empirisme yang diterapkan dalam filafat science moderen menyatakan bahwa pengetahuan pada dasarnya adalah dan hanyalah pengalaman-pengalaman konkrit kita yang terbentuk karena persepsi indra, seperti persepsi penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pencicipan dengan lidah.
Namun dalam menempatkan indra sebagai sumber penegetahuan, filsafat ilmu sekuler juga menekankan pentingnya kehati-hatian, utamanya terhadap kemungkinan pengaruh prasangka dan emosi yang akan merusak obyektifitas.
3. Akal
Dalam kenyataannya ada pengetahuan tertentu yang bisa dibangun oleh manusia tanpa harus atau tidak bisa mempersepsinya dengan indera terlebih dahulu. Manusia bisa membangun pengetahuan, misalnya, dari anggapan dua entitas yang masing-masing sama besarnya dengan entitas ketiga adalah entitas sama besar. Pengetahuan semacam itu jelas dengan sendirinya (tanpa persepsi indra) karena ada akal yang memungkinkannya. Demikian argumentasi yang dibangun para filsuf ilmu sekuler untuk melandasi pemikiran mereka mengenai akal sebagai sumber pengetahuan.
Bertitik tolak dari kenyataan tersebut, maka filsafat ilmu sekuler menempatkan akal adalah salah-satu sumber pengetahuan yang mungkin untuk memperoleh pengetahuan ilmiah. Pandangan ini merupakan representasi dari pandangan filsafat Rasionalisme, yang dalam pandangan moderatnya berpendirian bahwa manusia memiliki potensi mengetahui dengan pasti dengan sendirinya, tentang beberapa hal yang relevan. Misalnya, kenyataan-kenyataan : keseluruhan adalah lebih besar dari bagian-bagiannya; satu adalah separuh dari dua; keliling lingkaran lebih besar dari garis tengahnya; adalah pengetahuan yang dapat diketahui dengan pasti dan dengan sendirinya karena potensi akal.

4. Intuisi
George Santayana (dalam Titus et al, 1984) memakai istilah intuisi dalam arti kesadaran tentang data-data yang langsung dirasakan. Misalnya sewaktu kita mendengar bunyi, maka selain kita mendengar, kita juga sadar tentang pendengaran kita dan sadar tentang diri kita sebagai yang mendengar. Jadi menurut Titus, Smith dan Nolan (1984) intuisi terdapat dalam pengetahuan tentang diri sendiri, kehidupan diri sendiri dan dalam aksioma matematika. Intuisi ada dalam pemahaman kita tentang hubungan antara kata-kata (preposition) yang membentuk bermacam-macam langkah dari argumen. Unsur intuisi adalah dasar dari pengakuan kita terhadap keindahan ukuran moral yang kita terima dari nilai-nilai agama.
Kesimpulannya adalah, bahwa ilmu bersumber dari aktifitas optimal yang dilakukan oleh manusia, dengan belajar, memaksimalkan indra, akal, atau ilmu itu datang secara tiba-tiba, dengan kata lain sumber ilmu menurut Barat adalah manusia dan alam.

C. Kesalahan Pandangan Filsafat Barat Tentang Sumber Ilmu

Sebelum dijelaskan lebih lanjut tentang sumber ilmu menurut filsafat Barat, maka yang terlebih dahulu perlu didefinisikan adalah, makna Sumber.
Logika sehat kita pasti mengatakan, bahwa yang disebut sumber adalah yang tidak pernah tidak memiliki sesuatu. Ketika kita menimba air di sumur, maka timba tidak bisa dikatakan sebagai sumber air, sumber air itu sendiri adalah sumurnya, sedangkan timba yang kita gunakan hanyalah merupakan alat.
Filsafat Barat berkesimpulan bahwa sumber ilmu adalah dari manusia dan alam. Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah: Apakah manusia dan alam menciptakan dirinya sendiri? Apakah manusia dan alam lahir/tercipta dalam keadaan sudah memiliki ilmu. Logika sehat akan menjawab, manusia dan alam tidak tercipta dengan sendirinya (ada yang menciptakan), kalau begitu manusia dan alam pernah tidak memiliki sesuatu kemudian berusaha untuk memiliki, dalam hal ini ilmu. kalau demikian faktanya maka tidaklah benar (baca: kesalahan) yang sangat fatal jika kita mengatakan manusia dan alam adalah sumber ilmu.
Disinilah letak kesalahan yang paling mendasar dari teori filsafat Barat yang memisahkan aktifitas berfikir dengan wahyu.

III. FILSAFAT ISLAMI SATU-SATUNYA ALTERNATIF

A.Filsafat Islami

Karena Islam dapat memberikan semua yang didefinisikan oleh para filsafat misalnya yang dikatakan oleh Leighton, yaitu pandangan dunia, konsep rasional tentang keseluruhan kosmos, pandangan hidup, doktrin nilai-nilai, makna-makna dan tujuan hidup, maka sebenarnya pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan tersebut dapat dijawab dengan cara berpikir filsafat yang berakar pada ajaran Islam.
Memberi jawaban dengan mendasarkan fikiran pada ajaran islam, tidaklah berarti memberi jawaban menurut agama belaka dalam arti bukan filsafat sebagaimana yang dikatakan oleh para filsuf barat. Yang dimaksud berfikir filsafat berdasar ajaran Islam di sini, tetap merupakan kegiatan berpikir. Yaitu berpikir Islami dengan cara berfikir filsafat. Yaitu berfikir filsafati berdasarkan pandangan dunia yang dibentuk oleh pemahaman akan ajaran Islam. Yaitu berfikir filsafati menurut pandangan hidup menurut ajaran Islam. Yaitu berfikir filsafati menurut konsep rasional tentang kesatuan kosmos yang dibentuk oleh pemahaman akan ajaran Islam. Yaitu berfikir filsafati menurut konsep rasional tentang kesatuan kosmos yang dibentuk oleh pemahaman akan ajaran Islam. Yaitu berfikir filsafati dengan pemahaman nilai-nilai, makna-makna dan tujuan hidup manusia menurut ajaran Islam. Pertanyaan yang dimunculkan dan jawaban yang diberikan di dalamnya, tetap merupakan perwujudan segala ihwal pemikiran, tapi pemikiran yang didasarkan pada ajaran agama Islam, baik dalam kerja fikirnya maupun isi pemikirannya. Karena itu, ia tetap merupakan kegiatan berfikir, yaitu berfikir filsafat dengan mengacukan fikiran pada dan di atas landasan ajaran Islam. Secara singkat ia diistilahkan berfikir filsafat secara Islami. Pemikiran yang dihasilkannya diberi nama Filsafat Islami.
Memang berfikir itu sendiri oleh Islam dipandang sebagai suatu yang fitrah (kodrati) pada manusia. Karena itu ajaran Islam dipresentasikan dalam Al Quran dan Hadis Nabi, berulang-ulang memerintahkan (baca : memberi stimulus) agar manusia berfikir, serta memberi landasan petunjuk agar manusia bisa : (1) melahirkan pandangan filsafati mengenai berfikir, (2) merumuskan kaidah-kaidah berfikir logis secara formal, (3) memformulasi materi pemikiran filsafati dan materi pengetahuan ilmiah, dan (4) memformulasi model pengujian kebenaran pemikiran.
Jadi jika berfikir filsafati yang dimaksudkan adalah berfikir dengan semata-mata menggunakan akal, dan bukannya dengan berdasarkan agama, sebenarnya polarisasi yang terjadi bukan antara filsafat dengan agama, tetapi antara berfikir filsafat yang tidak berpijak pada ajaran agama dengan berfikir filsafat dengan berpijak pada ajaran agama. Demikian halnya mengenai kebenaran, polarisasi yang terjadi bukan kebenaran akal dan kebenaran agama atau kebenaran wahyu, tetapi antara kebenaran akal tanpa dasar wahyu dan kebenaran akal dengan dasar wahyu.
Yang paling penting dari cara berfikir filsafati secara Islami itu ialah karena ia ingin meletakkan pemikiran dan cara berfikir itu sendiri tidak terlepas dari akarnya. Sistim nilai, pandangan dunia, konsep tentang kosmos, pandangan tentang tujuan dan makna hidup yang diangkat dari pandangan Islam dengan basis wahyu, dengan sendirinya akan memberi makna pada filsafat dan berfilsafat yang akan tetap menempatkan manusia dalam kedudukannya yang seharusnya, tanpa melepaskan dirinya dari hubungan terhadap Tuhan dalam alam kehidupannya.

B. Filsafat Ilmu Islami

Yang dimaksud dengan filsafat ilmu Islami di sini ialah pembahasan mengenai masalah ilmu secara filsafati berdasarkan pandangan yang dibentuk oleh pemahaman akan ajaran Islam, dengan sumber utama Al Quran dan Hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Dengan penyajian bahasan filsafat ilmu yang demikian, akan diperoleh beberapa manfaat, antara lain :
1.memperkaya pandangan mengenai ilmu secara filsafati baik bagi kalangan mahasiswa, sarjana dan kalangan ilmuan muslim lainnya, maupun kalangan ilmuan non muslim. Bahwa dalam hal filsafat ilmu, juga terdapat satu filsafat khas yang berwatak Islami.
2.memberikan bahan pemikiran kritis bagi ilmuan muslim untuk melakukan koreksi atau bandingan terhadap jalan dan cara yang telah ditempuhnya selama ini dalam membentuk pemikirannya mengenai segala hal yang berkenaan dengan ilmu, yang selama ini secara formal hanya dibentuk oleh dasar pemikiran non-Islami.
3.dimilikinya suatu konsep keilmuan secara filsafati, yang tidak menempatkan ilmu dan agama sebagai dua hal yang masing-masing berdiri berdampingan secara komplementer atau berhadap-hadapan secara kontradiktif. Juga dengan itu, menyodorkan suatu bentuk filsafat ilmu yang tidak memisahkan antara dimensi keduniaan dan dimensi keakhiratan sebagaimana paham sekularisme yang mendasari filsafat ilmu sekuler.
Salah satu ayat Al Quran yang dapat dijadikan dasar perumusan pandangan mengenai filsafat ilmu yang Islami, yaitu ayat 190-191 Surah Ali Imran sebagai berikut :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ. الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Artinya :
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Dari ayat tersebut diperoleh gambaran tentang orang yang disebut sebagai ulul albaab, yang ciri-cirinya dapat diidentifikasi sebagai berikut:

1.memiliki pandangan bahwa seluruh realitas yang ditunjukkan oleh fenomena alam semesta adalah tanda-tanda adanya Allah dengan segala kemahaan dalam sifat-sifatNya (seperti Maha Kuasa, Maha Berilmu, dsb), yang menciptakan alam semesta itu.
2.berfikir dalam keadaan senantiasa sadar (zikir) akan Allah. Dengan filosofi berfikir yang demikian itu ia memikirkan segala kejadian di alam semesta, sehingga : (1) kesadaran keTuhanannya senantiasa terawat (ditunjukkan oleh cetusan kata rabbana), dan (2) menemukan kejelasan makna (ilmu) tentang ketidak-sia-siaan ciptaan Allah.
3.menjadikan pengetahuannya beresensi sebagai doa, dalam bentuk penggunaan pengetahuan tersebut sebagai alat untuk melaksanakan berbagai kegiatan duniawi yang mencegah dirinya menemui adzab neraka, yang pada pengertian hakikinya merupakan perwujudan ibadah kepada Allah.
Dari gambaran mengenai cara pandang ulul albaab tersebut di atas, kita bisa menemukan konsep Filsafat Ilmu Islami yang berbicara pada tiga dataran mendasar sebagai berikut :

1.Konsep ontologi ilmu, yang memandang realitas dari sudut pandang ke-Khalik-makhluk-an. Artinya, melihat realitas dari pemahaman adanya Allah sebagai Khalik (Pencipta) dan segala sesuatu selainNya sebagai makhluk. Segala atribut yang bisa secara benar dilekatkan pada makhluk adalah perwujudan niscaya karena kemakhlukannya.
2.Konsep Epistemologi Ilmu, yang menempatkan pemikiran (fikir) yang bersenyawa dengan kesadaran akan Allah (zikir) sebagai suatu cara untuk mencapai ilmu yang tetap lekat dengan kesadaran ke Tuhan an.
3.Konsep Aksiologi Ilmu, yang mengarahkan proses ilmiah dan pemanfaatan ilmu tetap berpegang pada nilai-nilai keilmiahan yang tidak terpisahkan dengan nilai-nilai moralitas, sehingga ilmu digunakan sebagai alat dan sarana untuk mewujudkan kegiatan kehidupan dunia yang tidak berkonsekwensi pada azab neraka. Secara umum dan singkat, kegiatan ilmu yang demikian itu menempatkan ilmu sebagai alat dan sarana untuk ibadah kepada Allah.

C. Konsep yang Benar terhadap Sumber Ilmu

Telah dikemukakan di atas beberapa pandangan filosofis mengenai sumber ilmu menurut filsafat Barat, demikian pula telah dibedah dimana letak kesalahan mendasar dari pandangan-pandangan itu. Karena itu di sini akan ditunjukkan dan diuraikan konsep yang benar terhadap sumber ilmu itu.
Ada beberapa ayat Al Quran yang akan kita jadikan landasan dalam membangun pemikiran filsafati mengenai sumber ilmu yang hakiki. Yaitu:

إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا (طه : 98)
Artinya :
Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu”.

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (الحشر : 22)
Artinya :
Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا (الطلاق : 12)
Artinya :
Dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.

فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (النحل : 74)
Artinya :
Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (النحل : 78)
Artinya :
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (العلق : 3-5)
Artinya :
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

الرَّحْمَنُ. عَلَّمَ الْقُرْءَانَ. خَلَقَ الْإِنْسَانَ. عَلَّمَهُ الْبَيَانَ (الرحمن : 1-4)
Artinya :
(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al Qur’an. Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara.

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ (النحل : 89)
Artinya :
Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu.

قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ (ال عمران : 118)
Artinya :
Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (الأنبياء : 7)
Artinya :
Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.

Dari ayat-ayat Al Quran tersebut di atas dapat diturunkan beberapa makna mendasar yang daripadanya bisa dirumuskan pandangan filosofis mengenai sumber ilmu. Makna-makna mendasar tersebut ialah :

1.Bahwa manusia tidak membawa pengetahuan sejak awal diciptakan / dilahirkan (An Nahl 78), karena itu tidak mungkin menempati posisi sebagai sumber ilmu.
2.Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu (Thaha 98, At Thalaq 12), yang ilmuNya meliputi yang gaib maupun yang nyata (Al Hasyr 22).
3.Pada hakikatnya hanya Allah Yang Maha Mengetahui dan manusia pada hakikatnya tidak mengetahui (An Nahl 74).
4.Manusia dikaruniai Tuhan “peralatan”, “jalan” dan petunjuk yang secara potensial memungkinkan ia memperoleh ilmu (An Nahl 74, Ar Rahman 1-4, An Nahl 89, Ali Imran 118, Al Anbiya’ 7, Thaha 98, Al Hasyr 22).
5.Perolehan ilmu oleh manusia adalah perolehan dengan perantaraan (knowledge by…), yakni segala perantara (bil) yang meniscayakan (qalam) ilmu itu diridhai oleh Allah untuk diperolehnya, sebagai perwujudan Allah mengajarkan (‘allama) kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya (ma lam ya’lam).
6.Segala ilmu yang diusahakan oleh manusia untuk diperolehnya, pada hakikatnya tercakup dan merupakan ilmu Allah.

Dari makna-makna mendasar di atas, maka Filsafat Ilmu Islami berpandangan bahwa satu-satunya sumber pengetahuan ialah Allah Subhanahu Wata’ala.
Dengan pandangan filsafati bahwa hanya Allah sumber ilmu, tidak berarti bahwa manusia tidak memiliki keniscayaan memiliki ilmu. Sebagai sumber ilmu – yang menyatakan diriNya mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya – Dia telah melengkapi manusia segala peralatan dan jalan yang meniscayakan manusia mengusahakan peroleh ilmu (Al ‘Alaq 3-5). Yang meniscayakan manusia memperoleh ialah peralatan indrawi lahirian yang diwakili penyebutannya oleh as sam’a (kemampuan mendengar), al abshar (kemampuan melihat, berpandangan), serta indra batiniah (al af’idah) dan kemampuan berakal (An Nahl 74 dan Ali Imran 118). Peralatan diri (qalam internal) yang meniscayakan ilmu tersebut berada pada diri manusia sebagai peralatan dengan potensialitas internal untuk berilmu.

Kemudian diantara manusia ada yang dapat menjadi “jalan” lebih lanjut bagi manusia lain untuk memperoleh ilmu. Mereka itu adalah disebut ahl al zikr (Al Anbiya 7). Ahl al zikr ini adalah mereka yang diberi otoritas oleh Allah sebagai jalan bagi manusia lain untuk memperoleh bagian kecil tertentu dari ilmuNya.
Kenyataan bahwa pengetahuan tentang sumber itu sendiri adalah salah-satu bentuk pengetahuan tersendiri yang diperoleh melalui petunjuk Allah dalam Al Quran semakin menjelaskan bahwa Allah adalah Sumber Ilmu.

Demikian pula, sebagai sumber, Dia mengajarkan manusia tentang apa saja yang dikaruniakanNya yang meniscayakan pengetahuan itu diperoleh.
Dia (Allah) juga menjelaskan bahwa salah satu yang utama meniscayakan diperolehnya ilmu itu (baca : Allah mengajarkan pada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya) ialah petunjuk Al Quran. Dalam hal ini, Al Quran adalah referensi utama bagi manusia untuk memperoleh ilmu. Bahkan dalam arti ini, untuk menyatakan Allah sebagai sumber ilmu, adakalanya digunakan istilah Al Quran sebagai sumber ilmu.

Wallahu Ta’ala ‘Alam