KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah, kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyusun tugas individu dengan lancar.

Penyusun makalah ini bertujuan untuk memenuhi Tugas Individu Mata Kuliah Aswaja, pada Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Kebumen, semester II, Program SI, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

Terima kasih saya sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyusun tugas ini.

Semoga tugas yang sederhana ini dapat memberikan manfa’at bagi saya khususnya, dan bagi pembaca pada umumnya. Amin

 

 

Kebumen,28 Juni 2009

 

 

Penyusun

Rusminah

DAFTAR ISI

Halaman Judul

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Tujuan
  3. Landasan Teori

BAB II PEMBAHASAN

  1. Ikhlas Dalam Beribadah
  1. B. Bersatu di Atas Al-qur’an dan As-sunnah Dengan Pemahaman Salaful Ummah
  1. Menta’ati Penguasa Muslim yang Sah dalam Hal yang Ma’ruf dan Tidak Memberontak
  2. Menggapai Kemulyaan dengan Ilmu Syar’i
  3. Wali Allah adalah Orang yang Beriman dan Bertaqwa
  4. Mensukseskan Gerakan Tashfiyah dan Tarbiyyah

BAB III PENUTUP

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang Masalah

Latar belakang masalah pembuatan makalah ini adalah, Ajaran aswaja yang merupakan hasil pemikiran yang dipelopori oleh Asy’ari an Imam Maturudi mempunyai prinsip-prinsip Aqidah yang harus dimiliki oleh setiap pengikutnya.

  1. B. Tujuan

Maksud penulisan makalah ini untuk memberikan acuan pemikiran tentang prinsip-prinsip ahlu sunnah wal jama’ah. Adapun tujuan adalah untuk memasyarakatkan prinsip-prinsip ahlu sunnah wal jama’ah kepada masyarakat Indonesia pada umumnya.

  1. C. Landasan Teori

Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah setiap orang dari manapun asalnya yang mengikuti ajaran Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya baik dalam hal keyakinan, amalan maupun ucapan.

BAB II

PEMBAHASAN

Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah setiap orang dari manapun asalnya yang mengikuti ajaran Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya baik dalam hal keyakinan, amalan maupun ucapan.

Ada enam prinsip utama yang membedakan antara Ahlus Sunnah al Jama’ah dan lainnya. Apa sajakan enam prinsip utama itu? Di bawah ini akan dijlaskan satu persatu tentang enam prinsip tersebut.
A. Ikhlas Dalam Beribadah

Ikhlas menurut bahasa artinya, membersihkan atau memurnikan sesuatu dari kotoran. Sedangkan menurut istilah syar’i, ikhlas adalah membersihkan dan memurnikan ibadah dari segala jenis kotoran syirik.

Setelah diketahui pengertian ikhlas menurut pengertian syar’i, dapat diambil kesimpulan bahwa orang dikatakan ikhlas dalam beribadah apabila ia bertauhid dan meninggalkan segal jenis syirik. Perlu diketahui, bahwa seseorang itu dikatakan bertauhid apabila meyakini dengan mantap tiga jenis tauhid dan meninggalkan dua jenis syirik.

Tiga jenis tauhid yang harus diyakini :

Yang Pertama: Tauhid Rububiyyah, maksudnya kita harus yakin bahwa yang mencipta, yang memberi rejeki dan yang mengatur alam semesta hanya Allah Ta’ala tidak ada sekutu bagi-Nya.

Yang Kedua: Tauhid Uluhiyyah, maksudnya kita harus yakin bahwa yang berhak disembah dan diminta hanya Allah Ta’ala tidak ada sekutu bagi-Nya.

Yang Ketiga: Tauhid Asma’ wa Shifat, maksudnya kita harus yakin bahwa Allah Ta’ala memiliki Nama dan Sifat yang Mulia dan tidak sama dengan makhluk-Nya.

Kita harus meyakini seluruh Nama dan Sifat Allah yang ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah apa adanya. Setelah meyakini ketiga jenis tauhid ini, maka wajib meninggalkan dua jenis syirik yang menjadi musuh bagi orang-orang yang bertauhid.

Dua macam syrik yang harus ditinggalkan :

Yang Pertama disebut Syirik Akbar, yaitu syirik yang menyebabkan pelakunya bisa dikeluarkan dari Islam. Syirik jenis ini amat banyak jumlshah dan macamnya, di antaranya adalah: meyakini ada yang mencipta dan yang mengatur alam ini selain Allah Ta’ala, meminta rejeki atau jodoh kepada orang yang telah mati atau kepada jin, menolak sebagian atau seluruh Nama dan Sifat Allah Ta’ala dan lainnya.

Yang Kedua disebut Syirik Asyghar, yaitu syirik kecil yang tidak menyebabkan pelakunya dikeluarkan dari Islam. Namun dosanya lebih besar daripada dosa zina, dosa mencuri atau kemaksiatan lainnya. Di antara amalan yang termasuk jenis syirik ini adalah riya’ (ingin dilihat oleh orang ketika beribadah), sum’ah (ingin didengar ibadahnya oleh orang lain), bersumpah dengan nama slain Allah, memakai jimat dengan keyakinan bahwa kekuatannya bersumber dari Allah. Untuk yang satu ini bila diyakini bahwa sumber kekuatan itu dari jimatnya, maka sudah termasuk Syirik Akbar.

Dan masih banyak lagi macamnya. Siapa saja yang telah meyakini tiga jenis tauhid dan meninggalkan dua jenis syirik ini, maka dia telah ikhlas dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Inilah prinsip utama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang terus diperjuangkan. Anda bisa melihat, mereka terus berdakwah menegakkn tauhid dan memberantas segala penyakit syirik walaupun banyk kalangan yang menentangnya, mereka memiliki dasar Al-Quran Surat Al-Bayyinah ayat 5 yang artinya: “Dan tidaklah mereka diperintah kecuali untuk beribadh kepada Allah dengan cara ikhlas dalam melaksanakan agama-Nya dan Hanif (meninggalkan segala jenis syirik) …”

  1. B. Bersatu di Atas Al-qur’an dan As-sunnah Dengan Pemahaman Salaful Ummah

Banyak aktivis Islam yang saat ini menyerukan persatuan ummat. Ada yang menggunakan partai sebagai alat pemersatu, ada juga yang menggunakan suku bangsa bahkan ada juga yang menyatukan ummat dengan slogan “yang penting muslim.” Walaupun keyakinan dan prinsip hidupnya berbeda-beda, akibatnya terjadi banyak perpecahan di kalangan mereka karena masing-masing memiliki kepentingan yang berbeda. Kalaupun secara dhohir mereka bersatu, _ias dipastikan mereka akan mengorbankan prinsip Al-Qur’an dan As-Sunnah semata-mata dalam rangka menjaga persatuan antara mereka.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah memiliki prinsip persatuan yang mantap dan akan terus diperjuangkan. Apa itu? Yaitu bersatu di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah. Mengapa harus bersatu di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah? Karena ini memang perintah dari Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihat Firman Allah Ta’ala dalam surat Ali Imron [3] ayat 103 yang artinya: ”Dan berpegang teguhlah dengan tali Allah seluruhnya dan jangan kalian berpecah belah … “Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata: “Tali Allah” artinya Kitabullah (Al-Qur’an). (Lihat Tafsir Ibnu Jarir dan lainnya). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Aku tinggalkan sesuatu untuk kalian. Bila kalian berpegang teguh dengannya maka kalian tidak akan tersesat selamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Imam Malik, Al-Hakim, dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Al-Misykah nomor: 186).
Bila ada yang berkomentar, “banyak kelompok yang mengklaim dirinya di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun kenapa terjadi perbedaan prinsip dan cara pandang yang menyebabkan mereka terpecah belah?”

Untuk menjawab pertanyaan ini cukup mudah, “karena mereka memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan kemampuan akal yang disesuaikan dengan keinginan dan kepentingan kelompoknya.” Lalu bagaimana seharusnya? Dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah wajib merujuk kepada pemahaman dan penjelasan dari Salaful Ummah. Siapa sebenarnya Salaful Ummah itu? Mereka adalah para shahabat Nabi radliyallahu ‘anhum yang betul-betul paham maksud Al-Qur’an dan As-Sunnah karena merekalah yang langsung mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa harus sesuai dengan pemahaman mereka, bukankah mereka juga manusia seperti kita? Karena mereka dan orang-orang yang mengikuti pemahaman mereka diridloi oleh Allah Ta’ala. Di dalam Al-Qur’an surat At-Taubah [9] ayat 100 disebutkan yang artinya:
”Generasi pertama dari kalangan shahabat muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka dengan baik, Allah ridlo kepada mereka dan mereka pun ridlo kepada-Nya.”

Di samping itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintah kita untuk mengikuti pemahaman para shahabat sebagaimana dalam sebuah hadits yang artinya: ”Sesungguhnya barangsiapa yang masih hidup sepeninggalku nanti, ia akan melihat perbedaan prinsip yang banyak sekali, untuk itu wajib bagi kalian mengikuti subbahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, peganglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham dan jauhilah perkara baru dalam agama, karena setiap perkara baru dalam agama itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dishohihkan oleh Al-Albani dalam Shohih Sunan Abu Dawud nomor: 4607). Inilah prinsip persatuan ummat yang harus dijadikan sebagai pegangan. Barangsiapa yang menggunakan cara lain untuk menyatukan ummat maka ia akan menuai kegagalan atau mungkin berhasil tetapi bersatu di atas kebatilan.

C. Menta’ati Penguasa Muslim yang Sah dalam Hal yang Ma’ruf dan Tidak Memberontak

Menggulingkan kekuasaan pemerintah pada saat ini seolah-olah menjadi tujuan kebanyakan orang. Mereka ingin tokoh idolanya menjadi pengegang tampuk kekuasaan, lebih-lebih bila sang penguasa memiliki banyak kelemahan walaupun masih sah dan beragama Islam, mereka berusaha mati-matian untuk menggulingkan dengan mengatasnamakan rakyat dan keadilan. Ada juga yang memanfaatkan keadaan untuk merebut pangkat dan jabatan dengan cara membela sang penguasa habis-habisan bahkan membenarkan seluruh ucapan dan keputusan walaupun menyimpang jauh dari syari’at Islam.

Lalu bagaimana prinsip Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah dalam menyikapi sang penguasa?

Dalam Al-Qur’an surat An-Nisa [4] ayat 59 disebutkan: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosul dan Ulil Amri (pemimpin/penguasa muslim) … ” As-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya halaman 183-184 menjelaskan maksud ayat ini sebagai berikut: “Allah memerintahkan untuk taat kepada Ulil Amri, mereka adalah pemimpin negara, hakim atau muftih (ahli fatwa).

Karena urusan agama dan dunia tidak akan berjalan dengan baik melainkan dengan cara taat dan tunduk kepada lil Amri sebagai wujud taat kepada perintah Allah dan dalam rangka mengharap pahala dari-Nya. Akan tetapi dengan syarat penguasa tidak memerintah kita untuk berbuat maksiat. Bila diperintah untuk maksiat maka tidak ada ketaatan sedikitpun kepada makhluk untuk bermaksiat kepada Kholiq (Allah).

Barangkali inilah rahasia tidak disebutkannya Fi’il Amr (kata perintah) ketika ALlah memerintahkan untuk taat kepada Ulil Amri dan sebaliknya disebutkan Fi’il Amr (kata perintah) ketika memerintahkan untuk taat kepada Rasul-Nya. Karena beliau hanya memerintah untuk mentaati Allah, sehingga barangsiapa yang mentaati beliau sama saja dengan mentaati Allah Ta’ala. Adapun Ulil Amri baru ditaati bila tidak memerintah untuk bermaksiat.”
Dalam hadits shohih disebutkan, dari Ubadah bin Shomit radliyallahu ‘anhu, ia bercerita:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengambil janji setia kepada kami, agar kami mendengar dan taat (kepada penguasa) baik dalam keadaan bersemangat atau lesu, dalam keadaan sulit atau mapan meskipun kami didlolimi, dan agar kami tidak menggulingkan kekuasaan lalu beliau bersabda: “Kecuali kalian melihat ada kekufuran yang nyata (pada penguasa) dan kalian memiliki dalil dari Allah (dalil syar’i) dalam masalah tersebut.” (HR. Muslim / 1709, Nasa’i dan lainnya).

Dari keterangan Al-Qur’an dan As-Sunnah inilah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah berprinsip bahwa: Wajib bagi kita mentaati penguasa muslim yang sah dalam hal yang ma’ruf (bukan maksiat) dan haram menggulingkan kekuasaannya dengan alasan apapun kecuali memenuhi dua syarat yang telah dijelaskan oleh Asy-Syaikh – bin – Baz setelah membawakan hadits di atas. Apa dua syarat tersebut?

Yang Pertama : Adanya kekufuran yang nyata pada diri sang penguasa dan kita menemukan dalil syar’i dalam masalah kekufuran tersebut.

Yang Kedua : Adanya kemampuan untuk menyingkirkan penguasa tersebut dengan cara yang tidak menimbulkan madlorot yang lebih besar.

Tanpa kedua syarat ini, maka tidak boleh ! (Al-Ma’lum min Wajibil ‘Alaqoh Bainal Hakim wal Mahkum, hal 19) Wahai kaum muslimin, kembalilah kepada petunjuk Allah dan Rosul-Nya, jangan sekali-kali menentangnya hanya karena semangat yang masih perlu dipertanyakan yaitu semangat “ATAS NAMA RAKYAT DAN KEADILAN”. Wallahul musta’an.

D. Menggapai Kemulyaan dengan Ilmu Syar’i

Kita semua sepakat bahwa tujuan hidup manusia di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah Ta’ala sebagaimana yang telah ditegaskan di dalam Al-Qur’an surat Adz-Dzariyat [51] ayat 56. Oleh sebab itu, merupakan keharusan bagi kita untuk mengerti, apa yang dimaksud dengan ibadah itu? Apakah ibadah hanya sebatas sholat, puasa, haji atau lainnya? Ibnu Taimiyyah dala kitabnya Al-‘Ubudiyyah halaman 38 menjelaskan bahwa ibadah itu mencakup segala perkara yang dicintai dan diridloi Allah Ta’ala baik berupa ucapan maupun perbuatan, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

Setelah kita mengerti makna ibadah, kita wajib mengerti macam-macam ibadah secara terperinci agar kita bisa menunaikan tugas dengan baik dan benar. Dari sini timbul pertanyaan, dari mana kita bisa mengetahui secara rinci macam-macam ibadah yang dicintai dan diridloi Allah Ta’ala? Mampukah akal kita menyimpulkansendiri perincian tugas ibadah itu?

Untuk mengetahui secara rinci ibadah yang dicintai dan diridloi Allah Ta’ala tidak bisa disimpulkan dengan akal kita, tetapi harus ada petunjuk langsung dari Allah Ta’ala yang menugaskankita untuk beribadah kepada-Nya. Petunjuk itu bernama Al-Qur’andan As-SUnnah yang telah dijelaskan secara rinci oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para shahabatnya radliyallahu ‘anhum. Singkat kata, wajib bagi kita mempelajari Al-Qur’andan As-Sunnah agar kita bisa menunaikan tugas ibadah dengan baik dan benar. Perlu diketahui, bahwa Al-Qur’an dan As-Sunnah itulah yang disebut “ILMU SYAR’I” sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma dan lainnya. Lihat “Al-Ilmu Asy-Syar’i” halaman 8-10 karya Abdurrahman Abul Hasan Al-‘Aizuri.

Oleh sebab itu, siapa saja yang mempelajari ilmu syar’i dan mengamalkannya berarti ia telah menjalankan tugas ibadah dengan baik dan benar. Barangsiapa telah menunaikan tugas dengan baik, ia layak mendapat kemulyaan dan kehormatan dari Allah Ta’ala. Di dalam Al-Qur’an surat Mujadalah [58] ayat 11 disebutkan: “Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kalian.”

As-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya halaman 846 berkata: “di dalam ayat ini terdapat keutamaan ilmu syar’i, dan buah dari ilmu itu adalah beradab dan beramal atas dasar ilmu tersebut.” Dalam hadits shohih juga ditegaskan: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah mendapat kebaikan, maka Allah jadikan paham agama ini.” Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullah dalam Fathul Bari juz 1 halaman 222 menjelaskan: “Dari hadits ini dapat dipahami, bahwa orang-orang yang tidak paham agama dan dasar-dasarnya, ia tidak akan mendapat kebaikan sedikitpun.” Ahlus Sunnah wal Jama’ah memahami hal ini, untuk itu mereka gigih dan bersemangat untuk mempelajari ilmu syar’i dan mengamalkannya dengan baik dan benar. Mereka punya prinsip yang mantap dan mengagumkan, yakni “BERILMU SEBELUM BERKATA DAN BERAMAL” untuk menggapai kemulyaan.
E. Wali Allah adalah Orang yang Beriman dan Bertaqwa

Bila kita mengamati sejenak keadaan ummat, kita akan mengetahui satu masalah yang sangat “ngetren”. Apa itu? Yakni adegan-adegan luar biasa yang membuat sebagian orang merasa kagum. Ada yang tidak mempan ditusuk senjata tajam, ada yang bisa makan “beling” seperti makan kerupuk, ada yang tidak “penyet” digilas mobil, ada yang kepalanya dipenggal lalu bisa langsung sambung dan yang sejenisnya. Anehnya, para penonton yan gkebanyakan ummat Islam, secara langsung memberi gelar kehormatan “WALI ALLAH” kepada para pendekar kebanggaan mereka itu. Benarkah orang-orang sakti seperti itu disebut Wali Allah? Apa sebenarnya pengertian dan ciri-ciri Wali Allah menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah?

Allah Ta’ala telah menyatakan di dalam Al-Qur’an surat Yunus [10] ayat 62 yang artinya: “Ingatlah, sesungguhnya Wali Allah itu tidak akan takut dan tidak bersedih hati, mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa.”
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsirnya (2/442) menjelaskan: “Allah Ta’ala menyatakan bahwa para wali-Nya adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa, siapa saja yang benar-benar bertaqwa maka ia layak disebut Wali Allah Ta’ala.”
Di dalam Al-Qur’an banyak disebutkan ciri-ciri Wali ALlah, di antaranya adalah:

  1. Beriman dan bertaqwa (QS. Yunus [10]: 62),
  2. Kedua: Mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (QS. Ali Imron [3]: 31),
  3. Ketiga: Mencintai dan dicintai Allah Ta’ala, karena merekasayang kepada kaum muslimin dan tegas di hadapan orang-orang kafir, mereka berjihad fii sabilillah dan tidak takut celaan apapun. (QS. Al-Maidah [5]: 54).

Di dalam As-SUnnah As-Shohihah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dalam Kitab Ar-Riqoq bab At-Tawadlu’ (7/190) dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan ciri-ciri Wali Allah, yaitu mereka rajin mengamalkan amalan sunnah setelah menunaikan amalan wajib.

Lalu, apakah hal-hal yang luar biasa yang terjadi pada diri seseorang itu termasuk ciri utama Wali Allah? Perlu diketahui bahwa hal-hal yang luar biasa yang terjadi pada diri seseorang itu ada beberapa jenis: Yang pertama disebut Mu’jizat, ini terjadi pada diri para Nabi dan Rasul. Yang kedua disebut Irhash, ini terjadi pada diri calon Nabi dan Rasul. Yang ketiga disebut Karomah, ini terjadi pada diri Wali Allah selain para Nabi dan Rasul. Yang keempat disebut Istidroj atau Sihir, ini terjadi pada diri pala wali syaithon.

Dari sini dapat diketahui bahwa Wali Allah itu kadang-kadang diberi hal-hal yang luar biasa dan ini disebut karamah. Namun perlu diingat bahwa karamah ini bukan ciri utama Wali Allah dan tidak bisa dipelajari. Adapun adegan-adegan luar biasa yang saat ini semarak di masyarakat lebih condong kepada istdroj atau sihir dengan beberapa alasan: Yang pertama, pelakunya tidak memiliki ciri-ciri Wali Allah Ta’ala. Yang kedua, hal-hal luar biasa yang mereka tampilkan bisa dipelajari, terbukti mereka punya perguruan-perguruan yang mengajarkan seperti itu.

Singkat kata, Ahlus Sunnah wal Jama’ah berkeyakinan bahwa Wali Allah itu adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa, baik mendapat karamah maupun tidak.

F. Mensukseskan Gerakan Tashfiyah dan Tarbiyyah

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimi dalam kitabnya “Fadhlullah As-Shomad” (1/17) menyatakan, ada tiga penyebab perpecahan dan kelemahan kaum muslimin saat ini, Yang pertama: tidak bisa membedakan antara ajaran Islam yang murni dan ajaran yang disuspkan ke dalam Islam, Yang Kedua: kurang yakin dengan kebenaran Islam, dan Yang ketiga: tidak mengamalkan Islam secara utuh. Benarlah apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para shahabatnya.

Dari Abu Najih Al-‘Irbadl bin Sariyah, ia bercerita: Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat kepada kita, nasehat yang membuat hati bergetar dan air mata bercucuran. Kita berkata: Wahai Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- seperti nasehat ini adalah nasehat perpisahan (nasehat terakhir), untuk itu berilah kami wasiat! maka beliaupun bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla dan tetap mendengar dan taat (dalm hal yang baik -pent.) walaupun kalian diperintah oleh pengasa dari budak Habsy.

Sesungguhnya, siapa saja di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku nanti, pasti melihat banyak perselisihan, maka wajib atas kalian untuk tetap berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk, peganglah sunnah itu dan gigitlah dengan gigi geraham (jangan sampai lepas) dan jauhilah perkara-perkara yang baru yang disusupkan ke dalam agama karena sesungguhnya setiap perkara baru yang disusupkan ke dalam agama itu bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan dishohihkan oleh Al-Albani dalam Shohihul Jami’ nomor: 2546).

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘aalihi wa sallam dengan jelas menyatakan bahwa penyebab perpecahan ummat dan kelemahannya adalah tidak bisa membedakan antara sunnah beliau dan bid’ah yang disusupkan ke dalam ajaran agama. Di samping itu beliau juga memberikan solusinya dengan cara berpegang teguh dan mengamalkan sunnah beliau (ajaran Islam yang murni).
Berangkat dari sinilah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah berusaha sekuat tenaga untuk mensukseskan gerakan Tashfiyah dan Tarbiyah. Lalu apa yang dimaksud dengan Tashfiyah dan Tarbiyah itu?

Tashfiyah adalah gerakan pemurnian ajaran Islam dengan cara menyingkirkan segala keyakinan, ucapan maupun amalan yang bukan berasal dari Islam. Sedangkan Tarbiyah adalah usaha mendidik generasi muslim dengan ajaran Islam yang murni, yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para shahabat radliayallahu ‘anhum.

Dalam rangka mensukseskan gerakan ini, Ahlus Sunnah wal Jama’ah terus menerus memperingatkan ummat dari segala bentuk penyimpangan baik berupa kekufuran , kesyirikan , kebid’ahan maupun kemaksiatan, di samping itu juga meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi baik yang ada di kitab-kiatb yang tersebar di tangan ummat maupun pernyataan-pernyataan sesat dari orang-orang yang tidak punya rasa takut kepada Allah Ta’ala, dan yang termasuk program ini adalah memisahkan antara hadits shohih dan hadits dlo’if. Ini semua dinilai sebagai amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi kewajiban kita semua.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Menyuruh ummat untuk mengikuti sunnah dan melarang mereka dari kebid’ahan termasuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan termasuk amal sholeh yang paling utama.” (Minhajus Sunnah: 5/253).
Semoga dengan gerakan Tashfiyah dan Tarbiyah ini, kaum muslimin sadar dan mau kembali ke agama Islam yang murni sehingga pertolongan Allah akan datang. Wallahul musta’an.

BAB III

PENUTUP

Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah setiap orang dari manapun asalnya yang mengikuti ajaran Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya baik dalam hal keyakinan, amalan maupun ucapan.

Enam prinsip Aswaja :

1. Ikhlas Dalam Beribadah

Ikhlas menurut bahasa artinya, membersihkan atau memurnikan sesuatu dari kotoran. Sedangkan menurut istilah syar’i, ikhlas adalah membersihkan dan memurnikan ibadah dari segala jenis kotoran syirik.

  1. Bersatu di Atas Al-qur’an dan As-sunnah Dengan Pemahaman Salaful Ummah

Banyak aktivis Islam yang saat ini menyerukan persatuan ummat. Ada yang menggunakan partai sebagai alat pemersatu, ada juga yang menggunakan suku bangsa bahkan ada juga yang menyatukan ummat dengan slogan “yang penting muslim.” Walaupun keyakinan dan prinsip hidupnya berbeda-beda, akibatnya terjadi banyak perpecahan di kalangan mereka karena masing-masing memiliki kepentingan yang berbeda. Kalaupun secara dhohir mereka bersatu, _ias dipastikan mereka akan mengorbankan prinsip Al-Qur’an dan As-Sunnah semata-mata dalam rangka menjaga persatuan antara mereka.

3. Menta’ati Penguasa Muslim yang Sah dalam Hal yang Ma’ruf dan Tidak Memberontak

Menggulingkan kekuasaan pemerintah pada saat ini seolah-olah menjadi tujuan kebanyakan orang. Mereka ingin tokoh idolanya menjadi pengegang tampuk kekuasaan, lebih-lebih bila sang penguasa memiliki banyak kelemahan walaupun masih sah dan beragama Islam, mereka berusaha mati-matian untuk menggulingkan dengan mengatasnamakan rakyat dan keadilan. Ada juga yang memanfaatkan keadaan untuk merebut pangkat dan jabatan dengan cara membela sang penguasa habis-habisan bahkan membenarkan seluruh ucapan dan keputusan walaupun menyimpang jauh dari syari’at Islam.

4. Menggapai Kemulyaan dengan Ilmu Syar’i

Kita semua sepakat bahwa tujuan hidup manusia di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah Ta’ala sebagaimana yang telah ditegaskan di dalam Al-Qur’an surat Adz-Dzariyat [51] ayat 56. Oleh sebab itu, merupakan keharusan bagi kita untuk mengerti, apa yang dimaksud dengan ibadah itu? Apakah ibadah hanya sebatas sholat, puasa, haji atau lainnya? Ibnu Taimiyyah dala kitabnya Al-‘Ubudiyyah halaman 38 menjelaskan bahwa ibadah itu mencakup segala perkara yang dicintai dan diridloi Allah Ta’ala baik berupa ucapan maupun perbuatan, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

5. Wali Allah adalah Orang yang Beriman dan Bertaqwa

Bila kita mengamati sejenak keadaan ummat, kita akan mengetahui satu masalah yang sangat “ngetren”. Apa itu? Yakni adegan-adegan luar biasa yang membuat sebagian orang merasa kagum. Ada yang tidak mempan ditusuk senjata tajam, ada yang bisa makan “beling” seperti makan kerupuk, ada yang tidak “penyet” digilas mobil, ada yang kepalanya dipenggal lalu bisa langsung sambung dan yang sejenisnya.
Anehnya, para penonton yan gkebanyakan ummat Islam, secara langsung memberi gelar kehormatan “WALI ALLAH” kepada para pendekar kebanggaan mereka itu.

 

 

 

 

6. Mensukseskan Gerakan Tashfiyah dan Tarbiyyah

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimi dalam kitabnya “Fadhlullah As-Shomad” (1/17) menyatakan, ada tiga penyebab perpecahan dan kelemahan kaum muslimin saat ini, Yang pertama: tidak bisa membedakan antara ajaran Islam yang murni dan ajaran yang disuspkan ke dalam Islam, Yang Kedua: kurang yakin dengan kebenaran Islam, dan Yang ketiga: tidak mengamalkan Islam secara utuh.
Benarlah apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para shahabatnya. Dari Abu Najih Al-‘Irbadl bin Sariyah, ia bercerita: Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat kepada kita, nasehat yang membuat hati bergetar dan air mata bercucuran. Kita berkata: Wahai Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- seperti nasehat ini adalah nasehat perpisahan (nasehat terakhir), untuk itu berilah kami wasiat! maka beliaupun bersabda:
“Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla dan tetap mendengar dan taat (dalm hal yang baik -pent.) walaupun kalian diperintah oleh pengasa dari budak Habsy.