Sosialisme merupakan sebuah sistem kehidupan, ideologi, paham yang mendambakan kehidupan masyarakat yang ideal, ’sama rata’, berkeadilan, dan sejahtera. Diilhami dari “Utopia”, sebuah judul buku yang dibuat oleh Thomas More (1478-1535), seorang ‘Sir’ yang mati dipenggal pada masa Raja Henry IV. Negeri ’Utopia’ mendambakan kondisi masyarakat yang “sama”; segala apa dimiliki bersama, semua orang bekerja dan semua orang menikmati pendapatan bersama. Adapaun cita-cita sosialisme menurut Theimer, yang dikutip oleh Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno dalam buku “Pemikiran Karl Marx”, ”gagasan bahwa kekayaan dunia ini adalah milik bersama, bahwa pemilikan bersama lebih baik daripada pemilikan pribadi, sudah sangat tua. Pemilikan bersama pada ajaran ini akan menciptakan dunia lebih baik, membuat sama situasi ekonomis semua orang, meniadakan perbedaan antara miskin dan kaya, menggantikan usaha megejar keuntungan pribadi dengan kesejahteraan umum.Dengan demikian sumber segala keburukan sosial dapat dihilangkan, tidak akan ada perang lagi,semua orang akan menjadi saudara”.

Sementara dalam buku “Sosialisme Indonesia” karya Dr. H. Roeslan Abdul Ghani, yang mendeskripsikan cita-cita sosialisme “Sekali lagi saja tegaskan; tjita tjita sosialisme, baik Utopisme maupun Marxisme adalah tjita-tjitanya untuk kaum miskin dan kaum melarat; atau lebih tepat kaum jang dimiskinkan dan kaum jang dimelaratkan”. Dan beliau bicara tentang Falsafah Sosialisme…”Filsafah sosialisme adalah falsafah jang bersumber kepada adanja kemiskinan dimasjarakat, adanja penindasan dan pengisapan”

Sebelum itu,masih menurut Romo Magnis, Plato pernah mengemukakan bahwa dalam memimpin suatu negara, seorang pemimpin negara tidak boleh memiliki hak milik, berkeluarga, segala kepemilikan bersama, dan hidup menurut aturan bersama.Dan pada abad ke-5 SM, Euhemeros dan Jambulos menuntut sosialisme untuk semua, terutama Jambulos yang mendeskripsikan “negara matahari”, segalanya milik bersama, termasuk istri. Hingga sosialisme menjadi sesuatu yang utopis, dan berevolusi menjadi sebuah ajaran yang sedikit bersifat ‘ilmiah’, dengan tidak hanya bertumpu dari sekedar pemikiran dan proses khayal semata. Namun telah beralih pada proses pembuktian ilmiah, yang coba diangkat Marx dalam melahirkan komunisme-nya.

Menurut Marx, bahwa sosialisme sebenarnya berasal dari sifat dasar manusia sebagai mahluk sosial. Diskursus mengenai sosialis, sesungguhnya sudah muncul pada masa pencerahan, abad ke-18, dengan beberapa tokoh, diantaranya: Marquis de Concordet, Voltaire, J.J Rousseau, Diderot, dll. Mereka merupakan para pemikir dan penulis revolusioner asal Perancis. (http://id.wikipedia.org/Sosialisme_Utopis).

Adapun tokoh dan pemikir kaum sosialisme, diantaranya: Francois-Noel Babeuf (1760-1797), seorang inspirator bagi kaum sosialis aliran keras, Saint-Simon, Robert Owen (1771-1858), Charles Fourier (1772-1837),seorang sosialis yang paling utopis, dan seorang feminisme radikal, Etienne Cabet (1788-1856), seorang pengacara, Louis-Auguste Blanqui (1805-1881), seorang revolusioner yang hendak mencapai sosialisme melalui pemberontakan kaum buruh.

Komunisme merupakan sayap radikal sosialisme yang dikembangkan oleh Karl Marx dan Frederich Engles. Marx secara pemikiran memang berkembang diwilayah sosialis dan berkawan dekat dengan beberapa orang sosialis, seperti: Proudhon, Weithling, dll. Meskipun dikemudian hari Marx bersebrangan dengan Proudhon yang jelas-jelas menolak komunisme dan kapitalisme, dan Weithling yang menolak pola sosialisme Marx dan Engles.

Adapun pandangan sosialisme terhadap komunisme yang dikutip dari buku William Ebenstein, Isme-isme yang Menggunjang Dunia. Sebagai berikut:
1) Kaum komunis berusaha mengakhiri kapitalisme dengan suatu tindakan revolusioner dan perang saudara. Sedangklan sosialisme lebih berpegang teguh pada tata cara kontitusi. Kaum sosialis seperti Partai Buruh di Inggris, lebih menjalankan aksi perubahan masyarakatnya dengan masuk di jalur parlemen. Partai Buruh pun menolak untuk bergabung dengan Partai komunis Inggris, atau komunis sekalipun. Sosialisme Inggris nampak ‘anti-komunis’, sehingga dua orang kader Partai Buruh mesti dikeluarkan, disaat mereka menjadi pembicara di kalangan kaum komunis.
2) Paradigma berfikir kaum sosialis mengenai bagaimana memperoleh suara terbanyak dalam parlemen, nampak sedikit lebih maju dari ‘saudaranya’, kaum komunis yang hanya berkutat mengenai kelas dan pertentangan kelas.
3) Mengenai peralihan kepemilikan publik/bersama, kaum komunis lebih pada proses yang berlangsung cepat terlaksana sepenuhnya, dikarenakan pola fikir mereka mengenai kekayaan kapitalis merupakan barang curian yang harus segera dikembalikan, sedangkan kaum sosialis tidak, mesti butuh proses yang panjang, serta menggunakan langkah-langkah strategis secara bertahap.
4) Mengenai kepemilikan perseorangan dan umum.Kaum komunis lebih menganggap kepemilikan umum lebih baik daripada perseorangan sehingga, apa yang disebut nasionalsisasi total mesti diwujudkan. Kaum sosialis lebih memiliki prinsip-prinsip empiris yang menunjukan suatu keadaan istimewa apakah suatu industri atau departemen mesti harus ditempatkan dibawah pemilikan dan pengawasan umum, atau tidak.
5) Dalam melakukan perubahan sosialisme lebih menggunakan anjuran secara damai, sedangkan komunisme tidak.Dan berpendapat bahwa anjuran damai tidak lagi dibutuhkan disaat kapitalisme telah menguasai seluruh aspek kehidupan dari mulai alat komunikasi, pendidikan, dan propaganda yang berpihak untuk keuntungan status quo kapitalis. Intinya kapitalisme dan segala macam perangkat penunjangnya mesti dihancurkan secara seluruhnya.
6) Kaum sosialis menolak tesis kaum komunis yang beranggapan bahwa pilihan Negara demokrasi adalah diantara kapitalisme penuh dan kolektivisme.
7) Paham dan para penganut sosialisme lebih terbuka akan pandangan isme-isme diluar mereka, selama sejalur dengan perjuangan mereka. Seperti yang terjadi di zaman sekarang munculnya sosialisme gaya baru. Sedangkan komunisme dengan tegas menolak system atau paham diluar mereka terutama yang berhubungan erat dengan kapitalisme, liberalisme, demokrasi, hingga aliran sayap kanan-religius.

Sebagaimana diketahui bahwa sosialisme memang menjadi inspirasi perjuangan kaum buruh dan dikemudian hari melahirkan aliran revolusi garis keras dan lebih radikal dari sosialis, komunis. Dan Marx menjadi jiwa yang berusaha mengembangkan dan lebih menyebarluaskannya ke seluruh dunia dengan kitab sucinya, “manifesto komunis”. Ideologi sosialisme memang tidak melahirkan kitab suci spt; marxisme-komunis, dan negara superpower, seperti Uni Soviet. Yugoslavia yang sempat mengarah kepada bentuk sosialis, disaat Joseph Bros Tito memimpin, sebenarnya masih dipengaruhi komunisme walau tidak dominan. Mesti demikian, sosialisme sebagai sebuah ideologi, sistem ekonomi, dan pernah menjadi sistem pemerintahan masih akan tetap berkembang menjadi sebuah ajaran yang mampu disandingkan dengan beberapa paham spt: demokrasi, Islam, liberal, dll. Sosialisme masih akan melangkah kedepan dan maju serta berevolusi untuk melahirkan kreasi baru yang lebih diterima masyarakat. Seperti geliat sosialisme di Indonesia tidak lepas dari keinginan untuk membangkitkan kembali sosialisme yang dahulu sempat tenggelam. Apakah memang sosialisme akan bangkit kembali?

Rujukan :

  • Franz Magnis-Suseno. Pemikiran Karl Marx. Gramedia. 1999
  • William Ebenstein. Isme-isme yang Menggunjang Dunia. Penerbit Narasi. 2006
  • Roeslan Abdul Ghani. Sosialisme Indonesia. Yayasan Prapantja. 1964
  • http://id.wikipedia.org/Sosialisme_Utopis

sumber yang berkaitan dengan Perbedaan Asas Sosial-Demokrat dan Komunis

Komunisme adalah sebuah ideologi. Penganut faham ini berasal dari Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, sebuah manifes politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848 teori mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada perjuangan kelas (sejarah dan masa kini) dan ekonomi kesejahteraan yang kemudian pernah menjadi salah satu gerakan yang paling berpengaruh dalam dunia politik.

Komunisme pada awal kelahiran adalah sebuah koreksi terhadap faham kapitalisme di awal abad ke-19an, dalam suasana yang menganggap bahwa kaum buruh dan pekerja tani hanyalah bagian dari produksi dan yang lebih mementingkan kesejahteraan ekonomi. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, muncul beberapa faksi internal dalam komunisme antara penganut komunis teori dengan komunis revolusioner yang masing-masing mempunyai teori dan cara perjuangannya yang saling berbeda dalam pencapaian masyarakat sosialis untuk menuju dengan apa yang disebutnya sebagai masyarakat utopia.

// <![CDATA[// [ kkan dengan komunis internasional. Komunisme atau Marxisme adalah ideologi dasar yang umumnya digunakan oleh partai komunis di seluruh dunia. sedangkan komunis internasional merupakan racikan ideologi ini berasal dari pemikiran Lenin sehingga dapat pula disebut “Marxisme-Leninisme”.

Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai dari pengambil alihan alat-alat produksi melalui peran Partai Komunis. Logika secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh atau yang lebih dikenal dengan proletar (lihat: The Holy Family [1]), namun pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil dengan melalui perjuangan partai. Partai membutuhkan peran Politbiro sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro. Inilah yang menyebabkan komunisme menjadi “tumpul” dan tidak lagi diminati karena korupsi yang dilakukan oleh para pemimpinnya.

Komunisme sebagai anti-kapitalisme menggunakan sistem partai komunis sebagai alat pengambil alihan kekuasaan dan sangat menentang kepemilikan akumulasi modal atas individu. pada prinsipnya semua adalah direpresentasikan sebagai milik rakyat dan oleh karena itu, seluruh alat-alat produksi harus dikuasai oleh negara guna kemakmuran rakyat secara merata akan tetapi dalam kenyataannya hanya dikelolah serta menguntungkan para elit partai, Komunisme memperkenalkan penggunaan sistim demokrasi keterwakilan yang dilakukan oleh elit-elit partai komunis oleh karena itu sangat membatasi langsung demokrasi pada rakyat yang bukan merupakan anggota partai komunis karenanya dalam paham komunisme tidak dikenal hak perorangan sebagaimana terdapat pada paham liberalisme.

Secara umum komunisme berlandasan pada teori Dialektika materi oleh karenanya tidak bersandarkan pada kepercayaan agama dengan demikian pemberian doktrin pada rakyatnya, dengan prinsip bahwa “agama dianggap candu” yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya dari pemikiran ideologi lain karena dianggap tidak rasional serta keluar dari hal yang nyata (kebenaran materi).

[sunting] Komunis Internasional

Komunis internasional sebagai teori ideologi mulai diterapkan setelah meletusnya Revolusi Bolshevik di Rusia tanggal 7 November 1917. Sejak saat itu komunisme diterapkan sebagai sebuah ideologi dan disebarluaskan ke negara lain. Pada tahun 2005 negara yang masih menganut paham komunis adalah Tiongkok, Vietnam, Korea Utara, Kuba dan Laos. Komunis internasional adalah teori yang disebutkan oleh Karl Marxis.

[sunting] Maoisme

Ideologi komunisme di Tiongkok agak lain daripada dengan Marxisme-Leninisme yang diadopsi bekas Uni Soviet. Mao Zedong menyatukan berbagai filsafat kuno dari Tiongkok dengan Marxisme yang kemudian ia sebut sebagai Maoisme. Perbedaan mendasar dari komunisme Tiongkok dengan komunisme di negara lainnya adalah bahwa komunisme di Tiongkok lebih mementingkan peran petani daripada buruh. Ini disebabkan karena kondisi Tiongkok yang khusus di mana buruh dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari kapitalisme.

[sunting] Indonesia dan komunisme

Indonesia pernah menjadi salah satu kekuatan besar komunisme dunia. Kelahiran PKI pada tahun 1920an adalah kelanjutan fase awal dominasi komunisme di negara tersebut, bahkan di Asia. Tokoh komunis nasional seperti Tan Malaka misalnya. Ia menjadi salah satu tokoh yang tak bisa dilupakan dalam perjuangan di berbagai negara seperti di Cina, Indonesia, Thailand, dan Filipina. Bukan seperti Vietnam yang mana perebutan kekuatan komunisme menjadi perang yang luar biasa. Di Indonesia perubuhan komunisme juga terjadi dengan insiden berdarah dan dilanjutkan dengan pembantaian yang banyak menimbulkan korban jiwa. Dan tidak berakhir disana, para tersangka pengikut komunisme juga diganjar eks-tapol oleh pemerintahan Orde Baru dan mendapatkan pembatasan dalam melakukan ikhtiar hidup mereka.

Komunisme di Indonesia memiliki sejarah yang kelam, kelahirannya di Indonesia tak jauh dengan hadirnya para orang-orang buangan dari Belanda ke Indonesia dan mahasiswa-mahasiswa jebolannya yang beraliran kiri. Mereka diantaranya Sneevliet, Bregsma, dan Tan Malaka (yang terahir masuk setelah SI Semarang sudah terbentuk). Alasan kaum pribumi yang mengikuti aliran tersebut dikarenakan tindakan-tindakanya yang melawan kaum kapitalis dan pemerintahan, selain itu iming-iming propaganda PKI juga menarik perhatian mereka. Gerakan Komunis di Indonesia diawali di Surabaya, yakni di dalam diskusi intern para pekerja buruh kereta api Surabaya yang dikenal dengan nama VSTP. Awalnya VSTP hanya berisikan anggota orang Eropa dan Indo Eropa. saja, namun setelah berkembangnya waktu, kaum pribumi pun ikut di dalamnya. Salah satu anggota yang menjadi besar adalah Semaoen kemudian menjadi ketua SI Semarang. Komunisme Indonesia mulai aktif di Semarang, atau sering disebut dengan Kota Merah setelah menjadi basis PKI di era tersebut. Hadirnya ISDV dan masuknya para pribumi berhalauan kiri ke dalam SI (Sarekat Islam) menjadikan komunis sebagian cabangnya karena hak otonomi yang diciptakan Pemerintah Hindia Belanda atas organisasi lepas menjadi salah satu ancaman bagi pemerintah. ISDV menjadi salah satu organisasi yang bertanggung jawab atas banyaknya pemogokan buruh di Jawa. Konflik dengan SI pusat di Yogyakarta membuat personil organisasi ini keluar dari keanggotaan SI, setelah disiplin partai atas usulan Haji Agus Salim disahkan oleh pusat SI. Namun ISDV yang berganti nama menjadi PKI semakin kuat saja dan diantara pemimpin mereka dibuang keluar Hindia Belanda. Kehancuran PKI fase awal ini bermula dengan adanya Persetujuan Prambanan yang memutuskan akan ada pemberontakan besar-besaran di seluruh Hindia Belanda. Tan Malaka yang tidak setuju karena komunisme di Indonesia kurang kuat mencoba menghentikannya. Namun para tokoh PKI tidak mau menggubris usulan itu kecuali mereka yang ada di pihak Tan Malaka. Pemberontakan itu terjadi pada tahun 19261927 yang berakhir dengan kehancuran PKI dengan mudah oleh pemerintah Hindia Belanda. Para tokoh PKI menganggap kegagalan itu karena Tan Malaka mencoba menghentikan pemberontakan dan mempengaruhi cabang PKI untuk melakukanya.

Gerakan PKI lahir pula pada masa Perang Kemerdekaan Indonesia yang diawali oleh kedatangan Muso secara misterius dari Uni Sovyet ke Negara Republik (Saat itu masih beribu kota di Yogyakarta). Sama seperti Soekarno dan tokoh pergerakan lain, Muso berpidato dengan lantang di Yogyakarta dengan kepercayaanya yang murni komunisme. Disana ia juga mendidik calon-calon pemimpin PKI seperti D.N. Aidit. Musso dan pendukungnya kemudian menuju ke Madiun. Disana ia dikabarkan mendirikan Negara Indonesia sendiri yang berhalauan komunis. Gerakan ini didukung oleh salah satu menteri Soekarno, Amir Syarifuddin yang tidak jelas ideologinya. Divisi Siliwangi akhirnya maju dan mengakhiri pemberontakan Muso ini. Beberapa ilmuwan percaya bahwa ini adalah konflik intern antarmiliter Indonesia pada waktu itu.

Pasca Perang Kemerdekaan Indonesia tersebut PKI menyusun kekuatannya kembali. Didukung oleh Soekarno yang ingin menyatukan semua aspek masyarakat Indonesia saat itu, dimana antar ideologi menjadi musuh masing-masing, PKI menjadi salah satu kekuatan baru dalam politik Indonesia. Permusuhan itu tidak hanya terjadi di tingkat atas saja, melainkan juga di tingkat bawah dimana tingkat anarkisme banyak terjadi antara tuan tanah dan para kaum rendahan. Namun Soekarno menjurus ke kiri dan menganak-emaskan PKI. Akhirnya konflik dimana-mana terjadi. Ada suatu teori bahwa PKI dan militer yang bermusuhan akan melakukan kudeta. Yakni PKI yang mengusulkan Angkatan Perang Ke 5 (setelah AURI, ALRI, ADRI dan Kepolisian) dan isu penyergapan TNI atas Presiden Soekarno saat ulang tahun TNI. Munculah kecurigaan antara satu dengan yang lain. Akhirnya dipercaya menjadi sebuah insiden yang sering dinamakan Gerakan 30 September.

Ada kemungkinan Indonesia menjadi negara komunis andai saja PKI berhasil berkuasa di Indonesia. Namun hal tersebut tidak menjadi kenyataan setelah terjadinya kudeta dan peng-kambing hitaman komunisme sebagai dalang terjadinya insiden yang dianggap pemberontakan pada tahun 1965 yang lebih dikenal dengan Gerakan 30 September. Hal ini juga membawa kesengsaraan luar biasa bagi para warga Indonesia dan anggota keluarga yang dituduh komunis meskipun belum tentu kebenarannya. Diperkirakan antara 500.000 sampai 2 juta jiwa manusia dibunuh di Jawa dan Bali setelah peristiwa Gerakan 30 September. Hal ini merupakan halaman terhitam sejarah negara Indonesia. Para tertuduh yang tertangkap kebanyakan tidak diadili dan langsung dihukum. Setelah mereka keluar dari ruang hukuman mereka, baik di Pulau Buru atau di penjara, mereka tetap diawasi dan dibatasi ruang geraknya dengan penamaan Eks Tapol.

Semenjak jatuhnya Presiden Soeharto, aktivitas kelompok-kelompok komunis, marxis, dan haluan kiri lainnya mulai kembali aktif di lapangan politik Indonesia, walaupun belum boleh mendirikan partai karena masih dilarang oleh pemerintah.

Apakah Komunisme Telah Mati?

Banyak orang yang mengira komunisme ‘mati’ dengan bubarnya Uni Soviet di tahun 1991, yang diawali dengan keputusan Presiden Mikhail Gorbachev. Namun komunisme yang murni belum pernah terwujud dan tak akan terwujud selama revolusi lahir dalam bentuk sosialisme (Uni Soviet dan negara-negara komunis lainnya). Dan walaupun komunis sosialis hampir punah, partai komunis tetap ada di seluruh dunia dan tetap aktif memperjuangkan hak-hak buruh, pelajar dan anti-imperialisme. Komunisme secara politis dan ekonomi telah dilakukan dalam berbagai komunitas, seperti Kepulauan Solentiname di Nikaragua.

Seperti yang digambarkan Anthony Giddens, komunisme dan sosialisme sebenarnya belum mati. Ia akan menjadi hantu yang ingin melenyapkan kapitalisme selamanya. Saat ini di banyak negara, komunisme berubah menjadi bentuk yang baru. Baik itu Kiri Baru ataupun komunisme khas seperti di Kuba dan Vietnam. Di negara-negara lain, komunisme masih ada didalam masyarakat, namun kebanyakan dari mereka membentuk oposisi terhadap pemerintah yang berkuasa.

Waspada Sosialisme dan Komunisme?

April 23rd, 2007 | Politics

Beberapa waktu lalu saya ngeliat “canda-candaan” antara Papernas dan FPI di bilangan Sudirman. Sayangnya “canda-candaan” itu harus dibayar mahal mengingat ada korban cedera, bus kota diamuk dan dirusak, dan tentu saja bikin macet seputaran Sudirman yang memang sudah langganan macet.

Malam harinya, Papernas didatangkan untuk berdiskusi di sebuah televisi swasta. Mereka memang mengaku mengusung sosialisme — kendati mengedepankan demokrasi kerakyatan dan tetap mengakui Pancasila serta UUD 1945. Sementara yang duduk di seberang mempermasalahkan soal Papernas yang mengusung jargon, atribut, bendera yang identik dengan komunis. Sayangnya, dialog tersebut lebih mirip debat kusir tanpa ada solusi dan penyelesaian berarti.

Mengenai ketakutan terhadap paham komunis (PKI) yang mungkin tumbuh lagi, sebenarnya wajar adanya. Ideologi tersebut memang boleh dilarang melalui undang-undang demi melindungi kepentingan negara. Pelarangan itu sesuai dengan human rights. Orang-orang Jerman, misalnya, sampai kini pun sangat antipati terhadap Nazi. Atribut, jargon, dan simbol yang identik dengan Hitler dilarang keras di negeri itu.

Saya sendiri tidak terlalu mencemaskan akan “kelahiran” kembali komunisme di Indonesia. Faham kekirian terbukti sangat tidak populer di hati rakyat Indonesia. PKI memang pernah jadi salah satu partai dengan kader luar biasa, namun watak sewenang-wenang dan strategi yang penuh intimidasi membuatnya kontroversial. Apalagi PKI kemudian terpancing untuk melakukan gerakan yang pada akhirnya malah menghancurkan dirinya sendiri.

Terbukti bahwa komunis juga gagal total di Uni Soviet, Yugoslavia, dan negara-negara Eropa timur lainnya. China dan Vietnam memang masih mengaku komunis, namun disebabkan karena “alasan praktis” saja, mengingat merubah suatu paham di negeri tersebut sangat mahal ongkos politik dan ekonominya. Pada prakteknya, China malah membuka pintu lebar-lebar buat pemodal asing (baca: pro-kapitalis). Sosialisme, praktis tak lagi banyak dianut di bumi ini.

Berkaca dari China, sebaiknya kita memang tidak melihat dikotomis antara sosialisme dan kapitalisme. Sosialisme, kalau dilihat dari dalil Karl Marx, adalah usaha ilmiah untuk memproyeksikan perjalanan dan nasib modal. Marx menggunakan pendekatan deterministik yang kemudian jadi ciri khas sosialisme. Sayangnya, untuk bisa konsisten determinis dalam ilmu sosial, seseorang musti mengasumsikan bahwa masa depan berjalan linier.

Faktanya, di masyarakat ada sebagian orang yang lebih cerdas, lebih berbakat, lebih oportunis, yang ingin naik kelas sosialnya (upgrading). Inilah yang kemudian memunculkan kapitalisme: dorongan trial and error yang dilakukan di level individu yang meluas ke masyarakat. Desain asli kapitalisme memang ditujukan buat orang biasa yang ingin naik kelas, baik secara ekonomi maupun politik.

Kapitalisme memang tidak pernah muncul sebelum Marx menuliskannya. Orang yang dicap Marx sebagai kapitalis adalah mereka yang menganut prinsip-prinsip dasar kebebasan memiliki dan berusaha — sesuatu yang tidak dianggap oleh Marx. Marx sendiri menilai bahwa hak milik adalah sumber dari segala bencana kemanusiaan — sesuatu yang jelas tidak realistis. Kapitalisme bukan lahir dari kalangan yang menyebut mereka demikian, melainkan dari orang-orang yang berseberangan ideologi semata-mata untuk merujuk pada golongan yang tak sepaham.

Joseph Schumpeter bilang kapitalisme adalah semangat untuk mengalahkan kaum aristokrat. Hernando de Soto memandang kapitalisme sebagai pemberdayaan kaum marjinal. Max Weber mengaitkannya dengan spirit protestanisme (tidak harus protestan sih), yakni pembebasan manusia akan nasib dan kodratnya. Sementara Deng Xiao Ping bilang to be rich is glorius; kapitalisme adalah untuk meringankan beban negara.

Tentunya ada saja golongan yang melakukan resistensi karena tidak ingin tinggal kelas. Banyak penggagas gerakan antikapitalisme justru biasanya berasal dari golongan-golongan yang merasa terancam status kelasnya. Padahal sejarah mencatat bahwa ekonomi dunia dalam dua abad ini digerakkan oleh sistem kapitalis, baik murni atau campuran. Uni Soviet adalah contoh gamblang betapa pengambil keputusan melakukan tindakan yang justru menimbulkan disinsentif pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang demi kepentingan sesaat pribadi maupun golongan.

Sosialisme memang terkesan stagnan, karena pendekatannya cenderung sentralistik. Niatnya memang mulia, namun sangat rentan agency problem karena terdistorsi oleh kepentingan dan motif politis. Tapi bukan berarti sosialisme mati. Dalam beberapa kasus sosialisme malah lahir dari inisiatif individu, bukan karena sentralisme keputusan. Henry Ford, John Rockefeller, Bill Gates, Warren Buffett misalnya menyumbang jutaan dolar untuk kepentingan sosial. Aksi sosial tersebut bukan lahir dari paksaan, melainkan (meminjam konsep Maslow) untuk aktualisasi diri.

Kapitalisme dan sosialisme memang nggak bisa dilihat secara hitam-putih. Kapitalisme dibangun secara trial and error secara kontinu. Yang salah diperbaiki. Yang kurang coba ditingkatkan. Impetus bagi perbaikan ini justru banyak lahir dari kritik-kritik aliran sosialis. Tanpa tantangan ini, kapitalisme yang sebenarnya dinamis bisa musnah. Kapitalisme adalah kompetisi. Sejauh ada persaingan yang sehat dan dorongan untuk berubah, menurut saya, tidak ada yang salah dengan kapitalisme (dan sosialisme).

Yang saya sesalkan, mengapa musti ada kekerasan, perusakan, pakai bawa-bawa agama lagi.

 

 

 

 

Sistem Tata Ekonomi Kapitalisme, Sosialisme dan Komunisme – Definisi, Pengertian, Arti & Penjelasan – Sejarah Teori Ilmu Ekonomi

Thu, 07/09/2006 – 8:17pm — godam64

1. Sistem Perekonomian / Tata Ekonomi Kapitalisme

Kapitalisme adalah sistem perekonomian yang memberikan kebebasan secara penuh kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan perekonomian seperti memproduksi baang, manjual barang, menyalurkan barang dan lain sebagainya. Dalam sistem ini pemerintah bisa turut ambil bagian untuk memastikan kelancaran dan keberlangsungan kegiatan perekonomian yang berjalan, tetapi bisa juga pemerintah tidak ikut campur dalam ekonomi.

Dalam perekonomian kapitalis setiap warga dapat mengatur nasibnya sendiri sesuai dengan kemampuannya. Semua orang bebas bersaing dalam bisnis untuk memperoleh laba sebesar-besarnya. Semua orang bebas malakukan kompetisi untuk memenangkan persaingan bebas dengan berbagai cara.

2. Sistem Perekonomian / Tata Ekonomi Sosialisme

Sosialisme adalah suatu sistem perekonomian yang memberikan kebebasan yang cukup besar kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan ekonomi tetapi dengan campur tangan pemerintah. Pemerintah masuk ke dalam perekonomian untuk mengatur tata kehidupan perekonomian negara serta jenis-jenis perekonomian yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara seperti air, listrik, telekomunikasi, gas lng, dan lain sebagainya.

Dalam sistem ekonomi sosialisme atau sosialis, mekanisme pasar dalam hal permintaan dan penawaran terhadap harga dan kuantitas masih berlaku. Pemerintah mengatur berbagai hal dalam ekonomi untuk menjamin kesejahteraan seluruh masyarakat.

3. Sistem Perekonomian / Tata Ekonomi Komunisme

Komunisme adalah suatu sistem perekonomian di mana peran pemerintah sebagai pengatur seluruh sumber-sumber kegiatan perekonomian. Setiap orang tidak diperbolehkan memiliki kekayaan pribadi, sehingga nasib seseorang bisa ditentukan oleh pemerintah. Semua unit bisnis mulai dari yang kecil hingga yang besar dimiliki oleh pemerintah dengan tujuan pemerataan ekonomi dan kebersamaan. Namun tujuan sistem komunis tersebut belum pernah sampai ke tahap yang maju, sehingga banyak negara yang meninggalkan sistem komunisme tersebut.

Sosialisme Dan Komunisme Marx

Sosialisme Dan Komunisme Marx

Oleh JJ Amstrong Sembiring
(Mahasiswa Magister Hukum Universitas Indonesia (UI))

Dosen : Dr. Jufrina Rizal, SH, MA

a. Sosialisme ilmiah menurut Marx :
Karl Marx pelopor utama gagasan “sosialisme ilmiah” dilahirkan tahun 1818 di kota Trier, Jerman, Ayahnya ahli hukum dan diumur tujuh belas tahun Karl masuk Universitas Bonn juga belajar hukum. Belakangan dia pindah ke Universitas Berlin dan kemudian dapat gelar Doktor dalam ilmu Filsafat dari Universitas Jena.
Marx menolak pendasaran sosialisme pada pertimbangan_pertimbangan moral. Sosialisme tidak akan datang karena dinilai baik atau karena kapitalisme dinilai jahat, melainkan karena syarat-syarat obyektif penghapusan hak milik pribadi atau alat-alat produksi terpenuhi.
Dan kapitalisme itu sendiri adalah sistem dimana alat-alat produksi dikuasai oleh minoritas, kaum buruh dieksploitir, dan proses akumulasi kapital didorong oleh persaingan antara perusahaan-perusahaan.
Ada juga kapitalisme negara (seperti halnya di negara Uni Soviet) dimana negara sendiri kapitalisme negara bertindak seperti perusahaan besar, dan persaingan bisa mengambil bentuk non-pasar seperti persaingan militer (seperti dalam Perang Dingin).
Sosialisme adalah sebuah masyarakat dimana kaum pekerja sendiri yang menguasai alat-alat produksi dan merencanakan ekonomi secara demokratik dan semua ini secara internasional.
Bilamana menilik di dalam sejarahnya, sosialisme muncul ketika feodalisme tersingkir, dan masyarakat merdeka kapitalis muncul di dunia, maka muncullah suatu sistem untuk penindasan dan eksploitasi terhadap golongan pekerja.
Disinilah berbagai doktrin sosialis muncul sebagai refleksi dari protes terhadap penindasan ini. Dan sosialisme pada awalnya, bagaimanapun merupakan sosialisme utopis. Ia mengkritik masyarakat kapitalis, mengutuknya, memimpikan keruntuhan kapitalisme. Ia mempunyai gagasan akan adanya pemerintahan yang lebih baik. Ia berusaha membuktikan kepada orang-orang bahwa eksploitasi itu tak bermoral. (red, akan tetapi disini perspektif sosialisme Marx menolak pada pertimbangan-pertimbangan moral).
Namun sosialisme utopis tidak memberikan solusi nyata. Ia tak dapat menjelaskan sifat sebenarnya dari perbudakan di bawah sisitem kapitalisme. Ia tak mampu mengungkapkan hukum-hukum perkembangan kapitalis atau memperlihatkan kekuatan sosial apa yang mampu membentuk suatu masyarakat yang baru.
Berbagai revolusi terjadi di eropa, khusunya di Perancis, mengingiringi kejatuhan feodalisme, penghambahan, yang semakin lama semakin jelas mengungkapkan perjuangan kelas-kelas sebagai basis dan kekuatan pendorong dari semua perkembangan.
Setiap kemenangan politis atas feodalisme merupakan hasil dari perlawanan serentak dan tiba-tiba. Setipa negeri kapitalis berkembang di atas basis yang kurang lebih demokratis, diakibatkan adanya perjuangan hidup-mati di antara kelas-kelas yang ada dalam masyarakat kapitalistik. Inilah kemudian oleh Marx dibuat menjadi doktrin dari Perjuangan Kelas.
Dan filosofi materialisme yang dipaparkan Marx menunjukkan jalan bagi proletariat untuk bebas dari perbudakan spiritual yang membelenggu setiap kelas yang tertindas hingga kini.
Apa yang dipaparkan Marx bahwasanya materialisme adalah teori yang timbul secara wajar didalam sebuah kelas buruh yang harus memperjuangkan pembebasan. Tetapi jelas kita tidak boleh mengidentifikasikan materialisme historis hanya dengan materialisme saja.
Materialisme sudah muncul 2000 tahun sebelum lahirnya Marx, dan di abad ke-18 materialisme malah menjadi pendirian kelas borjuis. Apa yang membedakan materialisme Marxis dari materialisme borjuis? Menurut Marx (dalam Tesis Tentang Feuerbach) Kekurangan utama dari semua materialisme yang ada sampai sekarang — termasuk materialisme Feuerbach — ialah bahwa hal ihwal, kenyataan, kepancainderaan, digambarkan hanya dalam bentuk benda atau renungan, tetapi tidak sebagai aktivitas pancaindra manusia, praktek, tidak secara subyektif.
Artinya, materialisme borjuis melihat manusia sebagai makhluk pasif, sebagai hasil atau efek dari kondisi materiil “ sebagai obyek. Ini memang mencerminkan keadaan sehari-hari manusia dalam masyarakat kapitalis: si buruh yang dikuasai oleh mesin di pabrik, kerja sebagai “faktor produksi” yang tidak dibedakan dari faktor lain seperti tanah atau mesin, dsb.
Namun materialisme mekanis ini tidak mampu menjadi 100% konsisten; orang tidak bisa hidup menurut filsafat yang 100% fatalistis. Maka materialisme itu selalu menyembunyikan pasal kekecualian yang memperbolehkan idealisme masuk melalui pintu belakang, sebagai “pengetahuan”, “ilmu” atau terkadang “kehendak” para elit.
Ajaran materialis bahwa manusia itu adalah hasil dari keadaan dan didikan, dan bahwa, oleh karenanya, manusia yang berubah adalah hasil keadaan-keadaan lain, dan didikan yang berubah, melupakan bahwa manusialah yang mengubah keadaan dan bahwa pendidik itu sendiri memerlukan pendidikan.
Karena itu, ajaran ini menurut keharusan sampai membagi masyarakat menjadi dua bagian, yang satu diantaranya lebih unggul daripada masyarakat. Marx mengatasi kontradiksi ini melalui konsep praktek. “Terjadinya secara bersamaan perubahan keadaan dengan perubahan aktivitas manusia bisa dibayangkan dan dimengerti secara rasional hanya sebagai praktek yang merevolusionerkan.”
Model untuk konsep ini adalah kerja manusia; kerja yang mengubah lingkungan alam dan juga menciptakan manusia sendiri. Menurut Marx, pengertian Hegel atas aspek ini merupakan keberhasilannya yang utama. Namun Hegel hanya mengerti kerja tersebut sebagai “kerja mental yang abstrak”.
Marx dapat berpikir lebih lanjut, sampai berhasil menjungkirbalikkan gagasan Hegel ini; dia berhasil mengidentifikasi kerja manusia yang konkrit dan praktis sebagai dasar perkembangan sejarah. Ini dimungkinkan, karena Marx sempat menyaksikan kerjaan dan perjuangan kelas buruh “ suatu golongan sosial yang mampu untuk mentransformasikan dan menguasai sistem sosial.
Konsep tentang peranan kerja, produksi dan kelas buruh ini yang menjadi titik tolak teori historis Marxisme. Mulai dari titik tolak itu Marx mengembangkan konsep-konsep seperti “kekuatan produksi”, “hubungan produksi” dan “mode produksi” yang bermuara dalam teori revolusi sosial.
Di dalam masyarakat, manusia memasuki hubungan-hubungan produksi yang mencerminkan tahap-tahap tertentu dalam perkambangan kekuataan produksi. Hubungan-hubugan tersebut merupakan struktur ekonomi masyarakat, dan di atas dasar itu timbul sebuah superstruktur legal dan politik, dan kesadaran sosial tertentu. “Pada tahap-tahap tertentu, kekuataan produksi materiil masyarakat bentrok dengan hubungan produksi yang ada.
Hubungan itu berubah dari bentuk perkembangan kekuataan produksi menjadi belenggu-belenggu untuk perkembangannya. Kemudian mulailah era revolusi sosial.” Di sini kita harus menerangkan satu masalah. Materialisme historis sering mengalami distorsi mekanis, dimana dialektika antara kekuatan dengan hubungan produksi ditafsirkan sebagai antagonisme antara alat-alat teknis dan sistem kepemilikan swasta. Kedua unsur itu dimengerti seperti sesuatu yang independen dari manusia “ sebuah determinisme teknologis. Maka kedua konsep Marxis tadi direduksi artiannya.
Namun buat Marx sendiri kekuataan produksi bukan hanya alat-alat seperti palu atau mesin,melainkan semua kapasitas produktif kelas buruh: “¦kekuatan produktif yang terbesar ialah kelas revolusioner sendiri.” Di lain pihak, kepemilikan swasta hanya merupakan “ucapan legal dari hubungan produksi”. Maka kontradiksi antara kekuataan dengan hubungan produksi bukan sesuatu yang terpisah dariperjuangan kelas, melainkan perjuangan tersebut muncul dari, dan berlangsung atas dasar kekuataan dan hubungan tersebut.
Dengan menelusuri perkembangan materialisme secara teoretis kita telah membuktikan bahwa materialisme historis tidak lain adalah sejarah yang dilihat dari sudut pandang proletariat. Analisis asul-usul historis menuju ke kesimpulan yang sama.
Pernyataan pertama tentang materialisme historis terdapat dalam buku Ideologi Jerman yang terbit pada tahun 1845. Sebelum itu terbit dua buku lain yang penting, yakni naskah-naskah Ekonomi dan Filosofis dan Pengantar Kritik Terhadap Filsafat Hukum Hegel yang terbit pada tahun 1844. Naskah-Naskah tidak mulai dengan rumusan tentang “filsafat” atau “alienasi” melainkan dengan perjuangan kelas.
Kalimat pertama menyatakan bahwa “Tingkat upah ditentukan oleh perjuangan pahit antara sikap kapitalis dan si buruh.” Analisis ekonomi yang dimuat dalam buku tersebut masih kurang matang; tetapi analisis itu secara terang-terangan dijelaskan dari sudut pandang kaum buruh yang menjadi “barang dagangan” dalam masyarakat kapitalis.
Kesengsaraan kaum buruh semakin meningkat dengan naiknya produktivitas kerja, sedangkan masyarakat semakin terbagi dua — antara kelas pemilik modal dan kelas buruh yang tidak memiliki apa-apa.
Untuk menjelaskan keadaan itu Marx menganalisis kerja kaum buruh. Kaum buruh menghasilkan kekayaan buat kaum pemilik modal sekaligus memproduksi kesengsaraan diri sendiri karena kerja mereka teralienasi (terasing).
Maka Marx melihat peranan kerja yang mendua: kerja produktif sebagai cara untuk menciptakan masyarakat, dan kerja teralienasi sebagai cara kaum buruh menciptakan sistem serta kelas dominan yang menindas dan menghisap mereka sendiri. Dalam kontradiksi ini Marx juga melihat harapan akan masa depan: dengan menghapuskan kerja teralienasi itu, pembebasan manusia dapat tercapai.
Jadi dalam Naskah-Naskah tahun 1884 Marx sudah mengantisipasi titik tolak dan juga kesimpulan-kesimpulan pokok materialisme historis. Namun jika kita mundur satu langkah dan menyimak Pengantar ke Kritik Terhadap Filsafat Hukum Hegel (awal 1844) kita sudah mendapati apa yang akan timbul lagi kelak sebagai hasil materialisme historis, yaitu peranan revolusioner proletariat. “Tatkala proletariat menyatakan pembubaran tatanan masyarakat yang ada, mereka hanya membuka rahasia eksistensi mereka sendiri, karena proletariat ialah pembubaran tatanan tersebut.”
Seperti sudah dicatat di atas, pengakuan Marx atas peranan itu justru berasal dari pengamalannya diantara kalangan buruh revolusioner di Paris. Maka baik secara teoretis maupun historis, rumusan-rumusan Marx tentang sejarah dan masyarakat bisa dilacak kembali ke asal materiilnya, yaitu perjuangan proletarian.
Analisis Marxis tentang kapitalisme (yang biasanya disebut “ekonomi Marxis” walau sebenarnya merupakan “kritik terhadap ekonomi politik”) dimaksudkan untuk menyediakan dasar ilmiah yang kuat untuk gerakan buruh dengan menjelaskan hukum pergerakan mode produksi kapitalis.
Sudah jelas, bahwa semua analisis ini dijalankan dari sudut pandang kelas buruh revolusioner, dengan t esis pokok sebagai berikut: analisis eksploitasi, bukti bahwa seluruh tatanan sosial berdasarkan eksploitasi itu, serta ramalan bahwa sistem kapitalisme harus ambruk persisnya karena dasar eksploitatifnya tersebut.
Meskipun begitu, aspek Marxisme ini begitu sering diajukan sebagai sesuatu yang “obyektif” sehingga beberapa catatan diperlukan tentang asal-usal dan logika kritik Marx terhadap ekonomi politik itu. Kritik Marx tentu saja merupakan penerapan materialisme historis pada mode produksi kapitalis, dan seperti materialisme historis sendiri, kritik tersebut berakar dalam analisis kerja “ lebih tepatnya kerja teralienasi.
Nota bene, ini bukan teori tentang perasaan subyektif kaum buruh terhadap kerja, atau tentang kesadaran umat manusia pada umumnya ¸ melainkan sebuah teori yang persisnya membahas kerja yang teralienasi “ dengan kata lain, kerja yang harus dijual pada orang lain. (Kata “alienate” juga berarti menjual sesuatu pada orang lain yang “asing”.)
Kerja teralienasi ialah kerja yang diupah (wage labour) “ dia bukan hanya kondisi dalam otak orang tetapi juga merupakan fakta ekonomi yang konkrit. Namun fakta ini hanya dapat dilihat atau dirasakan dari sudut pandang kelas buruh. Marx adalah seorang “filsuf” dan” ekonom” yang pertama dalam sejarah yang meneliti proses kerja dari sudut. pandang kaum buruh.
Betapa pentingnya teori alienasi bagi analisis Marxis terhadap kapitalisme dapat dilihat dari dua aksioma Marx. Yang pertama, bahwa: “walau kepemilikan swasta tampaknya dasar dan sebab dari kerja terasing, sebenarnya ialah akibatnya”. Yang kedua: kapitalisme mempunyai sifat dasar, bahwa tenaga kerja menjadi barang dagangan.
Sepanjang jalan ini, kritik generis yang dikembangkan Marx semasa masih muda tentang kapitalisme secara umum, telah ditransformasikan dengan upaya yang telaten sehingga menjadi alat analistis tajam yang sangat efektif untuk menelusuri semua seluk-beluk perekonomian kapitalis.
Namun konsep awal tentang kerja teralienasi itu tidak dilupakan apalagi dipungkiri, melainkan tetap menjadi jantung dari analisis Marx. Dalam Das Kapital Marx berkali-kali mengungkit masalah
Secara Umum Pengertian Sosialisme
Dalam kehidupan sehari-hari sosialisme digunakan dalam banyak arti. Istilah sosialisme selain digunakan untuk menunjukkan system ekonomi, juga digunakan untuk menunjukkan aliran filsafat ideologi, cita-cita, ajaran-ajaran atau gerakan. Sosialisme sebagai gerakan ekonomi muncul sebagai perlawanan terhadap ketidak adilan yang timbul dari sistem kapitalisme.
John Stuart Mill (1806-1873), menyebutkan sebutan sosialisme menunjukkan kegiatan untuk menolong orang-orang yang tidak beruntung dan tertindas dengan sedikit tergantung dari bantuan pemerintah.
Sosialisme juga diartikan sebagai bentuk perekonomian di mana pemerintah paling kurang bertindak sebagai pihak dipercayai oleh seluruh warga masyarakat, dan menasionalisasikan industri-industri besar lain yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Dalam bentuk yang paling lengkap sosialisme Negara, dan menghilangkan milik swasta (Blinton : 1981).
Dalam masyarakat sosialis hal yang menonjol adalah kolektivisme atau rasa kebersamaan. Untuk mewujudkan rasa kebersamaan ini, alokasi produksi dan cara pendistribusian semua sumber-sumber ekonomi diatur oleh negara.
Secara Umum Pengertian Kapitalisme
Faham Kapitalisme berasal dari Inggris abab 18, kemudian menyebar ke Eropa Barat dan Amerika Utara. Sebagai akibat dari perlawanan terhadap ajaran Gereja, tumbuh aliran pemikiran Liberalisme di negara-negara Eropa Barat. Aliran ini kemudian merambah kesegala bidang termasuk bidang ekonomi.
Dasar filosofis pemikiran ekonomi Kapitalis bersumber dari tulisan Adam Smith dalam bukunya An Inquri into the Nature and Cause of the wealth of Nation yang ditulis pada tahun 1776. Isi buku tersebut sarat dengan pemikiran-pemikiran tingkah laku ekonomi masyarakat. Dari dasar filosofi tersebut kemudian menjadi sistem ekonomi, dan pada kahirnya kemudian mengakar menjadi ideologi yang mencerminkan suatu gaya hidup (way of life).
Mith berpendapat manusia melakukan kegiatan ekonomi adalah dasar dorongan kepentingan pribadi, yang bertindak sebagai tenaga pendorong yang membimbing manusia mengerjakan apa saja asal masyarakat sedia membayar “Bukan berkat kemurahan tukang daging, tukang pembuat Bir atau tukang pembuat Roti kita dapat makan siang”. Kata Smith “akan tetapi karena memperhatikan kepentingan pribadi mereka. Kita berbicara bukan kepada rasa kemanusian mereka, melainkan kepada cinta mereka kepada diri mereka sendiri, dan janganlah sekali-sekali berbicara tentang keperluan-keperluan kita, melainkan tentang keuntungan-keuntungan mereka”. (Robert L Heibroner, 1986. UI Press).
Motif kepentingan individu didorong oleh filsafat liberlisme kemudian melainkan system ekonomi pasar bebas, pada akhirnya melahirkan ekonomi kapitalis.
Milton H. Spencer (1977), menulis dalam bukunya Contemporary Ecomics: “Kapitalisme merupakan sebuah system oraganisasi ekonomi yang dicirikan oleh hak milik privat (individu) atas alat-alat produksi dan distribusi (tanah, pabrik-pabrik, jalan kereta api, dan sebagainya) dan pemanfatannya untuk mencapai laba dalam kondisi-kondisi yang sangat kompetitif.”
Para individu memperoleh peransang agar aktiva mereka diamnfaatkan seproduktif mungkin. Hal tersebut sangat mempengaruhi distribusi kekayaan serta pendapatan karena individu-individu diperkenankan untuk menghimpun aktiva dan memberikannya kepada para ahli waris secara mutlak apabila mereka meninggal.
Ia memungkinkan laju pertukaran yang tinggi oleh karena orang memiliki hak pemilikan atas barang-barang sebelum hak tersebut dapat dialihkan kepada pihak lain.
Dengan demikian kapitalisme sangat erat hubungannya dengan pengejaran kepentingan individu. Bagi Smith bila setiap individu diperbolehkan mengejar kepentingannya sendiri tanpa adanya campur tangan pihak pemerintah, maka ia seakanj-akan dibimbing oleh tangan yang tak nampak (the imvisible hand) untuk mencapai yang terbaik pada masyarakat.
Kebebasan ekonomi tersebut juga diilhami oleh pendapat Legendre yang ditanya oleh Menteri Keuangan Perancis pada masa pemerintahan Louis XII/ pada akhir abab 17, yakni Jean bapiste Colbert. Bagaimana kiranya pemerintah dapat membantu dunia usaha, Legendre menjawab : “Laisse nouis faire” (jangan menggangu kita, (leave us alone), kata ini dikenal kemudian sebagai laissez faire. Dewasa ini prinsip laissez faire diartikan sebagai tiadanya intervensi ekonomi dan kebebasan ekonomi.
Dengan kata lain dalam system kapitali berlaku, “ Free Fight Liberalism” (system persaingan bebas). Siapa yang memilijki dan mampu menggunakan kekuatan modal (capital) secara efektif dan efesien akan dapat memenangkan pertarungan bisnis. Faham yang menggunakan kekuatan modal sebagai syarat memenangkan pertarungan ekonomi disebut Kapitalisme.
b. Komunisme Menurut Marx :
Bahwasanya menurut Marx ciri_ciri inti dari masyarakat komunis tersebut adalah :
– Penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi
– Penghapusan adanya kelas-kelas social
– Penghapusan pembagian kerja

Menurut Marx komunisme menitik beratkan ada empat :
Pertama, Sekelumit kecil orang kaya hidup dalam kemewahan yang berlimpah, sedangkan kaum pekerja yang teramat banyak jumlahnya hidup bergelimang papa sengsara. Kedua, cara untuk merombak ketidakadilan ini dengan jalan melaksanakan sisitem sosialis yaitu system dimana alat produksi dikuasai Negara dan bukannya oleh pribadi swasta. Ketiga, pada umumnya salah satunya jalan paling praktis untuk melaksanakan sistem sosialis ini adalah lewat revolusi kekerasan.Keempat, untuk menjaga kelanggengan sisitem sosialis harus diatur oleh kediktatoran partai Komunis dalam jangka waktu yang memadai.
Tiga dari ide pertama sudah dicetuskan dengan jelas sebelum Marx, sedangkan ide keempat berasal dari gagasan Marx mengenai “diktatur proletariat”. Sementara itu, masa kediktatoran Soviet sekarang lebih merupakan hasil dari langkah-langkah Lenin dan Stalin dari pada gagasan Marx.
Hal ini tampaknya menimbulkan anggapan bahwa pengaruh Marx dalam komunisme lebih kecil dari kenyataan sebenarnya, dan penghargaan orang terhadap tulisan-tulisannya lebih menyerupai sekedar etalasi untuk membenarkan sifat “keilmihan” daripada ide dan politik yang sudah terlaksana dan diterima.
Sementara boleh jadi ada benarnya juga anggapan itu, namun tampaknya kelewat berlebihan. Lenin misalnya, tidak sekedar menggap dirinya mengikuti ajaran-ajaran Marx, tapi dia betul-betul membacanya, menghayatinya, dan menerimanya. Dia yakin betul yang dilimpahkannya persis diatas rel yang dibentangkan Marx. Begitu juga terjadi pada diri Mao Tse Tung dan pemuka-pemuka Komunis lain. Memang benar, ide-ide Marx mungkin sudah disalah artikan dan ditafsirkan lain.
Mungkin bisa diperdebatkan bahwa Lenin, politikus praktis yang sesungguhnya mendirikan Negara Komunis, memegang saham besar dalam hal membangun Komunisme sebagai suatu ideologi yang begitu besar pengaruhnya di dunia.
Pendapat ini masuk akal Lenin benar-benar seorang tokoh penting. Tapi tulisan-tulisan Marx begitu hebat pengaruhnya terhadap jalan pikiran bukan saja Lenin tapi juga pemuka-pemuka Komunis lain.
Akhirnya sering dituding orang bahwa teori Marxis di bidang ekonomi sangatlah buruk dan banyak keliru. Terlepas benar atau tidak, kita perlu meng-amininya tentu saja, tak bisa juga dipungkiri banyak hipotesa “proyeksi kedepan” tertentu Marx terbukti atau tidaknya, misalkan saja, bahwasanya Marx meramalkan bahwa dalam negeri-negeri kapitalis kaum buruh akan semakin melarat dalam perjalanan sang waktu. Marx juga memperhitungkan bahwa kaum menengah akan disapu dan sebagian besar orang-orangnya akan masuk kedalam golongan proletariat dan hanya sedikit yang bisa bangkit dan masuk kedalam kelas kapitalis.
Tapi terlepas apakah teori ekonominya benar atau salah, semua itu tidak ada sangkut pautnya dengan pengaruh Marx. Bahwasanya arti penting seorang filosof terletak bukan pada kebenaran pendapatnya tapi terletak pada masalah apakah buah pikirannya telah menggerakkan orang bertindak atau tidak. Diukur dari sudut ini, tak perlu diragukan lagi Karl Marx punya arti penting yang luar biasa hebatnya.
Secara Umum Pengertian Komunisme
Komunisme muncul sebagai aliran ekonomi, ibarat anak haram yang tidak disukai oleh kaum kapitalis. Aliran ekstrim yang muncul dengan tujuan yang sama dengan sosialisme, sering lebih bersifat gerakan ideologis dan mencoba hendak mendobrak sistem kapitalisme dan system lainnya yang telah mapan.
Kampiun Komunis adalah Karl Marx. Sosok amat membenci Kapitalisme ini merupakan korban saksi sejarah, betapa ia melihat para anak-abak dan wanita-wanita termasuk keluarganya yang dieksploitir para kapitalis sehingga sebagian besar dari mereka terserang penyakit TBC dan tewas, karena beratnya penderitaan yang mereka alami. Sementara hasil jerih payah mereka dinikmati oleh para pemilik sumber daya (modal) yang disebutnya kaum Borjuis.
Kata Komunisme secara historis sering digunakan untuk menggambarkan sistem-sistem sosial di mana barang-barang dimiliki secara bersama-sama dan distribusikan untuk kepentingan bersama sesuai dengan kebutuhan masing-masing anggota masyarakat. Produksi dan konsumsi berdasarkan motto mereka : from each according to his abilities to each according to his needs. (dari setiap orang sesuai dengan kemampuan, untuk setiap orang sesuai dengan kebutuhan).
Walaupun tujuan sosialisme dan komunisme sama, dalam mencapai tujuan tersebut sangat berbeda. Komunisme adalah bentuk paling ektrim dari sosialisme.Bentuk sistem perekonomian didasarkan atas system, dimana segala sesuatu serba dikomando.
Begitu juga karena dalam sistem komunisme Negara merupakan pengusa mutlak, perekonomian komunis sering juga disebut sebagai “sistem ekonomi totaliter”, menunjuk pada suatu kondisi social dimana pemerintah main paksa dalam menjalankan kebijakan-kebijakannya, meskipun dipercayakan pada asosiasi-asosiasi dalam system social kemasyarakatan yang ada. Sistem ekonomi totaliter dalam praktiknya berubah menjadi otoriter, dimana sumber-sumber ekonomi dikuasai oleh segelintir elite yang disebut sebagai polit biro yang terdiri dari elite-elite partai komunis.

   
  SOSIALISME MEMANDANG KOMUNISME* Apr 2, ’08 3:51 AM
for everyone

Sosialisme merupakan salah satu ideologi yang cukup berpengaruh di abad ke-20. Sosialisme yang kemudian menjadi ruh perjuangan kaum tertindas dan menjadi ruh perjuangan para kaum ‘kiri’.Sosialisme tidak identik dengan fasisme, komunisme atau Marxisme, melainkan merekalah yang sebenarnya mendapat pengaruh dari sosialisme itu sendiri, meskipun dikemudian mereka keluar secara terang-terangan dari sosialisme. Sosialisme utopis, merupakan cikal bakal lahirnya sosialisme modern. Dari sana muncul beberapa tokoh yang berpengaruh dalam melahirkan sosialisme sebagai sebuah ideolog, sistem kehidupan, atau bahan diskursus yang cukup penting dizamannya.

Sosialisme merupakan sebuah sistem kehidupan, ideologi, paham yang mendambakan kehidupan masyarakat yang ideal, ’sama rata’, berkeadilan, dan sejahtera. Diilhami dari “Utopia”, sebuah judul buku yang dibuat oleh Thomas More (1478-1535), seorang ‘Sir’ yang mati dipenggal pada masa Raja Henry IV. Negeri ’Utopia’ mendambakan kondisi masyarakat yang “sama”; segala apa dimiliki bersama, semua orang bekerja dan semua orang menikmati pendapatan bersama. Adapaun cita-cita sosialisme menurut Theimer, yang dikutip oleh Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno dalam buku “Pemikiran Karl Marx”, ”gagasan bahwa kekayaan dunia ini adalah milik bersama, bahwa pemilikan bersama lebih baik daripada pemilikan pribadi, sudah sangat tua. Pemilikan bersama pada ajaran ini akan menciptakan dunia lebih baik, membuat sama situasi ekonomis semua orang, meniadakan perbedaan antara miskin dan kaya, menggantikan usaha megejar keuntungan pribadi dengan kesejahteraan umum.Dengan demikian sumber segala keburukan sosial dapat dihilangkan, tidak akan ada perang lagi,semua orang akan menjadi saudara”.

Sementara dalam buku “Sosialisme Indonesia” karya Dr. H. Roeslan Abdul Ghani, yang mendeskripsikan cita-cita sosialisme “Sekali lagi saja tegaskan; tjita tjita sosialisme, baik Utopisme maupun Marxisme adalah tjita-tjitanya untuk kaum miskin dan kaum melarat; atau lebih tepat kaum jang dimiskinkan dan kaum jang dimelaratkan”. Dan beliau bicara tentang Falsafah Sosialisme…”Filsafah sosialisme adalah falsafah jang bersumber kepada adanja kemiskinan dimasjarakat, adanja penindasan dan pengisapan”

Sebelum itu,masih menurut Romo Magnis, Plato pernah mengemukakan bahwa dalam memimpin suatu negara, seorang pemimpin negara tidak boleh memiliki hak milik, berkeluarga, segala kepemilikan bersama, dan hidup menurut aturan bersama.Dan pada abad ke-5 SM, Euhemeros dan Jambulos menuntut sosialisme untuk semua, terutama Jambulos yang mendeskripsikan “negara matahari”, segalanya milik bersama, termasuk istri. Hingga sosialisme menjadi sesuatu yang utopis, dan berevolusi menjadi sebuah ajaran yang sedikit bersifat ‘ilmiah’, dengan tidak hanya bertumpu dari sekedar pemikiran dan proses khayal semata. Namun telah beralih pada proses pembuktian ilmiah, yang coba diangkat Marx dalam melahirkan komunisme-nya.

Menurut Marx, bahwa sosialisme sebenarnya berasal dari sifat dasar manusia sebagai mahluk sosial. Diskursus mengenai sosialis, sesungguhnya sudah muncul pada masa pencerahan, abad ke-18, dengan beberapa tokoh, diantaranya: Marquis de Concordet, Voltaire, J.J Rousseau, Diderot, dll. Mereka merupakan para pemikir dan penulis revolusioner asal Perancis. (http://id.wikipedia.org/Sosialisme_Utopis).

Adapun tokoh dan pemikir kaum sosialisme, diantaranya: Francois-Noel Babeuf (1760-1797), seorang inspirator bagi kaum sosialis aliran keras, Saint-Simon, Robert Owen (1771-1858), Charles Fourier (1772-1837),seorang sosialis yang paling utopis, dan seorang feminisme radikal, Etienne Cabet (1788-1856), seorang pengacara, Louis-Auguste Blanqui (1805-1881), seorang revolusioner yang hendak mencapai sosialisme melalui pemberontakan kaum buruh.

Komunisme merupakan sayap radikal sosialisme yang dikembangkan oleh Karl Marx dan Frederich Engles. Marx secara pemikiran memang berkembang diwilayah sosialis dan berkawan dekat dengan beberapa orang sosialis, seperti: Proudhon, Weithling, dll. Meskipun dikemudian hari Marx bersebrangan dengan Proudhon yang jelas-jelas menolak komunisme dan kapitalisme, dan Weithling yang menolak pola sosialisme Marx dan Engles.

Adapun pandangan sosialisme terhadap komunisme yang dikutip dari buku William Ebenstein, Isme-isme yang Menggunjang Dunia. Sebagai berikut:

1) Kaum komunis berusaha mengakhiri kapitalisme dengan suatu tindakan revolusioner dan perang saudara. Sedangklan sosialisme lebih berpegang teguh pada tata cara kontitusi. Kaum sosialis seperti Partai Buruh di Inggris, lebih menjalankan aksi perubahan masyarakatnya dengan masuk di jalur parlemen. Partai Buruh pun menolak untuk bergabung dengan Partai komunis Inggris, atau komunis sekalipun. Sosialisme Inggris nampak ‘anti-komunis’, sehingga dua orang kader Partai Buruh mesti dikeluarkan, disaat mereka menjadi pembicara di kalangan kaum komunis.

2) Paradigma berfikir kaum sosialis mengenai bagaimana memperoleh suara terbanyak dalam parlemen, nampak sedikit lebih maju dari ‘saudaranya’, kaum komunis yang hanya berkutat mengenai kelas dan pertentangan kelas.

3) Mengenai peralihan kepemilikan publik/bersama, kaum komunis lebih pada proses yang berlangsung cepat terlaksana sepenuhnya, dikarenakan pola fikir mereka mengenai kekayaan kapitalis merupakan barang curian yang harus segera dikembalikan, sedangkan kaum sosialis tidak, mesti butuh proses yang panjang, serta menggunakan langkah-langkah strategis secara bertahap.

4) Mengenai kepemilikan perseorangan dan umum.Kaum komunis lebih menganggap kepemilikan umum lebih baik daripada perseorangan sehingga, apa yang disebut nasionalsisasi total mesti diwujudkan. Kaum sosialis lebih memiliki prinsip-prinsip empiris yang menunjukan suatu keadaan istimewa apakah suatu industri atau departemen mesti harus ditempatkan dibawah pemilikan dan pengawasan umum, atau tidak.

5) Dalam melakukan perubahan sosialisme lebih menggunakan anjuran secara damai, sedangkan komunisme tidak.Dan berpendapat bahwa anjuran damai tidak lagi dibutuhkan disaat kapitalisme telah menguasai seluruh aspek kehidupan dari mulai alat komunikasi, pendidikan, dan propaganda yang berpihak untuk keuntungan status quo kapitalis. Intinya kapitalisme dan segala macam perangkat penunjangnya mesti dihancurkan secara seluruhnya.

6) Kaum sosialis menolak tesis kaum komunis yang beranggapan bahwa pilihan Negara demokrasi adalah diantara kapitalisme penuh dan kolektivisme.

7) Paham dan para penganut sosialisme lebih terbuka akan pandangan isme-isme diluar mereka, selama sejalur dengan perjuangan mereka. Seperti yang terjadi di zaman sekarang munculnya sosialisme gaya baru. Sedangkan komunisme dengan tegas menolak system atau paham diluar mereka terutama yang berhubungan erat dengan kapitalisme, liberalisme, demokrasi, hingga aliran sayap kanan-religius.

Sebagaimana diketahui bahwa sosialisme memang menjadi inspirasi perjuangan kaum buruh dan dikemudian hari melahirkan aliran revolusi garis keras dan lebih radikal dari sosialis, komunis. Dan Marx menjadi jiwa yang berusaha mengembangkan dan lebih menyebarluaskannya ke seluruh dunia dengan kitab sucinya, “manifesto komunis”. Ideologi sosialisme memang tidak melahirkan kitab suci spt; marxisme-komunis, dan negara superpower, seperti Uni Soviet. Yugoslavia yang sempat mengarah kepada bentuk sosialis, disaat Joseph Bros Tito memimpin, sebenarnya masih dipengaruhi komunisme walau tidak dominan. Mesti demikian, sosialisme sebagai sebuah ideologi, sistem ekonomi, dan pernah menjadi sistem pemerintahan masih akan tetap berkembang menjadi sebuah ajaran yang mampu disandingkan dengan beberapa paham spt: demokrasi, Islam, liberal, dll. Sosialisme masih akan melangkah kedepan dan maju serta berevolusi untuk melahirkan kreasi baru yang lebih diterima masyarakat. Seperti geliat sosialisme di Indonesia tidak lepas dari keinginan untuk membangkitkan kembali sosialisme yang dahulu sempat tenggelam. Apakah memang sosialisme akan bangkit kembali?

Rujukan :

  • Franz Magnis-Suseno. Pemikiran Karl Marx. Gramedia. 1999
  • William Ebenstein. Isme-isme yang Menggunjang Dunia. Penerbit Narasi. 2006
  • Roeslan Abdul Ghani. Sosialisme Indonesia. Yayasan Prapantja. 1964
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Moxeeb’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

« MENEGUHKAN ISLAM “MADZHAB” INDONESIA

BAHASA: ANTARA NALAR PUITIS DAN NALAR DOGMATIS »

KARL MARX DAN TRAKTAT EKONOMI SOSIALIS

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

…………….Imagine no possesion/I wonder if you can/ No need for greed or hunger/ A brotherhood of man/ Imagine all the people sharing all the world/…………..and the world may live as one ( John Lennon)

Dialektika dan dinamika sistem ekonomi dunia, pada tingkat ketegangannya yang paling tinggi, adalah terjadi antara aliran libralis-kapitalis versus sosialis-komunis. Maenstream dua sistem perekonomian tersebut, pada umumnya merujuk pada dua tokoh besar yakni Adam Smith sebagai representasi dari aliran pertama, dan Karl Marx sebagai representasi dari yang kedua.

Kedua sistem ekonomi tersebut telah menancapkan sebuah fakta dalam proses sejarah manusia dan sekarang mengental menjadi “rezim” peradaban. Seluruh wacana, diskursus dan perspektif ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang ekonomi politik, selalu melibatkan atau bahkan merujuk pada dua aliran di atas. Sehingga dunia seolah hanya disodori oleh dua tawaran:liberalis atau sosialis, komunis atau kapitalis, kanan atau kiri dan seterusnya.

Khusus dalam dunia ekonomi, arus utama dari sistem nilai atau paradigma yang mendominiasi sebagai dasar operasional berjalanya aktifitas ekonomi global adalah dua aliran tersebut. Sistem ekonomi dengan segala macam derivasi, modifikasi dan cabang-cabangnya adalah fenomena sosial yang berada dalam koridor liberalisme vis a vis sosialisme. Bahkan meskipun sekarang, khususnya di Indonesia, sedang berkembang sistem ekonomi Islam atau ekonomi Syari’ah, namun ketika diselidiki lebih mendalam, ternyata di dalamnya juga sangat kapitalis. Bahkan bank Syari’ah yang selama ini sedang menggejala ditengarai lebih kapitalis daripada bank konvensional. Dengan melihat sistem operasional bank Syari’ah tersebut, istilah Islam sebagai jalan alternatif dari kapitalisme dan sosialisme, yang sering dilontarkan oleh aktifis-aktifis Islam kanan, hanya sebatas jargon. Dalam realitas empiriknya, sistem ini tetap merupakan modifikasi dari sistem kapitalis. Hanya saja pola managemennya lebih dilabeli dengan istilah Islam atau Syari’ah.

Sepanjang sejarahnya, kedua sistem ekonomi di atas, masing-masing berusaha untuk mendominasi dunia. Baik liberalisme maupun komunisme oleh para pengagumnya dipercayai sebagai “mantera” atau “agama” yang paling tepat untuk membangun dunia. Kedua aliran tersebut mempunyai landasan etis yang di dalamnya masing-masing menawarkan mimpi-mimpi kesejahteraan dan kemakmuran. Hanya saja tipe dan dasar operasionalnya berbeda.

Bagi liberalisme, untuk menciptakan kemakmuran, maka sebagai prasyaratnya harus diciptakan ruang kebebasan bagi para indifidu untuk menentukan dan mengejar kepentingan ekonomi. Pola semacam ini mengandaikan adanya sistem kompetensi yang tinggi. Sehingga konsekuensinya, bagi mereka yang kuat yang berhak memenangkan pertarungan. Sementara bagi mereka yang lemah, harus bersedia menyingkir dari percaturan ekonomi-politik dunia.

Pertarungan ternyata, sekarang dimenangkan oleh kubu liberal-kapitalis. Maka,muncullah yang namanya sistem kelas. Dalam sistem ini, negara, regulasi, sistem perundang-undangan dilarang keras untuk melakukan intervensi, melainkan harus membuka jalan seluas-luasnya demi terimpelementasikannya sistem tersebut.

Sebaliknya, traktat ekonomi sosialis percaya bahwa untuk menciptakan kemakmuran, maka segala potensi alam harus dibagi sama rata, sama rasa. Indifidu tidak mempunyai kebebasan untuk memiliki atau apalagi mengakumulasi modal. Sistem penyamarataan ini, bagi sekte sosialis, dirasa sangat adil. Karena di dalamnya tidak ada lagi kelas sosial:kaya miskin, juragan-buruh, majikan-jongos, pimpinan- karyawan dan sebagainya.

Tulisan ini mencoba mengulas persoalan apa sebenarnya yang melatarbelakangi lahirnya ekonomi sosialisme Marx dan bagaimana konsep dasarnya? Tentu saja dalam kajian ini, penulis tidak bisa menyajikan analisis yang detail dan mendalam tetapi lebih bersifat umum saja.

 

Marx dan Ekonomi Sosialis

B.1. Riwayat singkat Marx (Lahir, karir dan akhir)

Karl Marx lahir pada 5 Mei 1818 di Trier atau Traves, Jerman. Ia terbilang dari keluarga terpandang. Ayahnya Hinrich Marx adalah seorang yang berdarah Yahudi yang menjadi pengacara di Traves, sementara ibunya juga berdarah Yahudi adalah putri pendeta Belanda. Sejak kecil ia sudah pernah mengalami pergolakan keagamaan yang dahsyat. Sejak berusia 6 tahun, seluruh keluarganya berpindah agama (converse) dari Yahudi ke Kristen Protestan. Perpindahan agama ini sudah barang tentu merubah dasar keyakinan dan keberagamaan Marx. Maka dari itu, peristiwa converse ini merupakan salah satu persitiwa yang sangat membekas di hati Marx dan mempengaruhi perjalanan hidup Marx selanjutnya.

Sejak usia 17 tahun, tepatnya tahun 1835 Marx masuk Gymnasium (sebuah sekolah menegah) di Traves. Sehabis lulus dari Gymnasium Marx melanjutkan kuliah di universitas Bonn dengan mengambil fakultas hukum. Tapi karena studi Marx di sini lebih disebabkan oleh paksaan orang tuanya, maka Marx hanya bisa bertahan satu tahun. Selepas dari Bonn Marx akhirnya masuk ke Universitas Berlin dengan konsentrasi mempelajari filsafat dan sejarah. Rupanya disiplin ini yang dia cita-citakan semula. Maka di Universitas Berlin inilah ia mulai membangun basis intelektualnya yang akhirnya menjadi filsof besar. Di universitas inilah ia juga ikut Young Hegelian Club hingga mempertemukan dia dengan tokoh seniornya Feuearbach.pendidikannya ini ia akhiri ketika dia, dalam usia 23 berhasil memperoleh memeproleh gelar doktor dengan desertasi The Diffrent between natural phillosopy of Democritos and Epicurus, dari universitas Jena.

Dalam karirnya Marx termasuk orang yang terseok-seok. Awal mulanya ia berkeinginan meniti karis sebagai dosen, tetapi gagal karena disebabkan oleh pemikirannya yang radikal dan tidak pernah mau kompromi dengan status quo. Gagal menjadi dosen akhirnya ia terjun ke dunia jurnalistik dengan menjadi wartawan di koran Rhenissche Zeitung (Rhine Gazete). Pada tahun 1842 Marx diangkat menjadi redaktur koran ini. Karena kritinya yang sangat keras terhadap pemerintah, maka majalah ini akhirnya dibredel dan Marx diusir dari negerinya hingga akhirnya Marx pindah ke Paris bersama Arnold Ruge. Di Paris inilah jiwa dan semangat sosialismenya mulai tumbuh. Karena Paris pada waktu itu menjadi pusat pelarian para tokoh-tokoh sosialis dunia. Di paris ini pula ia bertemu dengan kawan sejatinya, Freidrick Angels—seorang anggota sosialis dari London—yang nantinya menjadi tulang punggung keluarga Marx dalam hal membiayai kehidupan.

Tahun 1847 Marx bersama Engels menulis buku yang berjudul La Misere de la Philoshopie (the poverty of philoshopy) sebagai kritik terhadap Piere Joseph Prudon yang dianggapnya kurang revoluisoner dan tidak membrikan gambaran prosepk yang jelas terhadap masa depan kaum buruh. Kemuidan di tahun yang sama ia juga menerbitkan buku Die Deutsche Idiologie (the German Idiology) yang juga dikerjakan dengan Engels. Di buku inilah ia sesungguhnya telah meletakkan dasar historis materialismenya. Kemudian tahun 1845 bersama Engels, Marx membuat Liga komunis (Communist League) di Brussel. Liga ini yang konon menjadi wadah perjuangan gerakan pekerja internasional. Karir Marx diakhiri dengan posisinya dia sebagai penulis buku tentang ekonomi-politik yang menggugat sistem ekonomi kapitalis. Hidupnya termasuk tragis. Anak –anaknya banyak yang mati karena kelaparan dan bunuh diri. Istrinya sendiri, Jenny van Whestpallen, meninggal karena sakit tanpa pengobatan yang memadahi. Marx tidak bisa ikut mengantarkan ke pemakaman istrinya karena dia sendiri, pada waktu itu sakit. Marx meninggal di ruang belajarnya pada 14 Maret 1883.

B.2. Latar kultural dan historis lahirnya ekonomi sosialis Marx.

Eropa baru saja menyelesaikan pertentangannya antara kekuatan kapitalisme yang baru lahir dengan rezim feodalisme. Sebelumnya, sejarah masyarakat Eropa lebih didominasi oleh kaum bangsawan dan feodal. Kelas masyarakat inilah yang telah lama mencengkramkan kuku penjajahannya pada masyarakat bawah. Namun, sejarah ternyata berubah. Setelah sekian lama berada dalam cengkraman kaum feodal, maka lahirlah kekuatan baru yakni kaum kapitalis yang berusaha meruntuhkan otoritarianisme kaum feodal. Hal ini ditandai dengan lahirnya Renaissance di Eropa. Lahirnya era ini menandai lepasnya masyarakat dari era kegelapan yang lebih didominasi oleh kaum bangsawan –feodal.

Era pencerahan membawa Eropa ke dalam sebuah peralihan dari kaum feodal ke kaum kapital. Hal ini dipicu dengan ditemukannya mesin cetak oleh Johan Guttenberg pada abad ke 15 M. Hadirnya mesin cetak ini mampu merubah kondisi sosial-budaya masyarakat Eropa pada waktu itu. Hal ini terutama dalam hal produksi. Oleh mesin cetak ini, produksi buku akhirnya bisa dilakukan secara massal. Sebelumnya, proes produksi buku atau tulisan lebih bersifat manual. Tehnik ini dilakukan dengan menggunakan tangan atau menulis di atas batu (litografi). Pola manual semacam ini jelas sangat melelahakn dan jelas tidak efektif untuk meningkatkan produksi tulisan.

Semakin mudah orang mencetak buku secara massal, gairah untuk menulis juga meningkat. Namun, bagi masyarakat awam mereka menyimpan tulisannya untuk dirinya sendiri. Hanya para bangsawan yang mampu mencetak tulisannya. Karena biaya atau ongkos untuk cetak sangat mahal. Namun yang harus diketahui adalah bahwa ditemukannya mesin cetak ini merupakan fenomena revolusioner yang mampu mendobrak kebuntuan produksi selama berabad-abad. Mesin cetak ini merupakan faktor utama terjadinya akselerasi dan peningkatan produksi buku dan bacaan. Fenomena ini berimplikasi pada lahirnya era keterbukaan komunikasi. Dengan banyakanya kuantitas buku yang dicetak, masing-masing orang terpicu untuk saling tukar ide dn pikiran. Maraknya diskusi dan pertukaran ide ini ternyata membawa akibat fatal terhadap rezim bangsawan. Derasnya wacana dan pertukaran ide membuat budaya kritis masyarakat semakin terasah sehingga mampu membongkar segala macam kebusukan dan kebobrokan rezim bangsawan atau kaum feodal sekaligus meruntuhkan mitos surgawi yang diwartakan para raja.

Revolusi teknologi itulah yang akhirnya menjadi titik tolak terjadinya perubahan-perubahan besar di masyarakat. Fakta yang paling jelas sebagai konsekuensi munculnya revolusi teknolgi ini melahirkan apa yang dinamakan dengan Engels Revolusi industri. Hal ini, dalam bidang ekonomi berarti, telah terjadi perubahan mendasar dari sistem pertanian ke sistem perindustrian. Ketika revolusi industri lahir, maka fenomena ini diikuti dengan lahirnya revolusi sosial. Salah satunya adalah terjadinya revolusi Perancis.

Bagi Gracchu Babeuf, revolusi Perancis adalah pelopor revolusi lainnya, revolusi yang lebih cemerlang menjadi revolusi terakhir.Dalam revolusi sosial ini, pihak yang menjadi aktor utamanya adalah kelas sosial baru yakni kaum borjuis atau kapitalis. Dengan hadirnya revolusi sosial ini, sistem feodal mulai runtuh dan kehilangan legitimasinya di mata masyarakat dan digantikan oleh sistem kapitalis. Namun, yang perlu diketahui juga, bahwa peralihan dari feodalisme ke kapitalisme ini tidak sepenuhnya diwarnai dengan revolusi. Negara-negara di Eropa pada waktu itu mempunyai caranya tersendiri yang berbeda. Di Inggirs misalnya, peralihan ini lebih didukung oleh hasil kerja sama antara kelas feodal dengan kelas borjuis atau kapital.

Ketika sistem feodal tergantikan oleh sistem kapital, bukan berarti sebuah masalah selesai. Namun di sinilah justru muncul problematika baru. Budaya penindasan yang awalnya didominasi oleh kaum feodal kini tergantikan oleh kaum kapital. Dari sinilah akhirnya kaum buruh Eropa sadar, bahwa dengan berkaca pada evolusi Perancis, gerakan revolusi mereka ternyata hanya ditunggangi oleh kaum borjuis untuk memperjuangkan kepentingan mereka sendiri. Setelah kekuasaan berada di tangannya, kaum borjuis ini segera menunjukkan taring dan kuku-kuku tajamnya. Mereka ganti melakukan borjuasi baru seperti yang dilakukan oleh seniornya, kaum feodal. Sistem penindasan dan borjuasi itu terlihat dengan pemerasan tenaga para buruh di pabrik-pabrik mereka.

Kondisi pekerja amat memprihatinkan, sementara upah buruh sangat rendah. Pemandangan yang tak manusiawi ini merupakan kondisi sehari-hari di tengah masyarakat Eropa waktu itu. Teknologi baru yang ditemukan itu, bukannya meningkatkan kesejahteraan kaum buruh, tetapi justru memerangkap kehidupan kaum buruh ke dalam peniondasan yang lebih kejam.sebab, pada akhirnya, penemuan teknologi ini akhirnya dijadikan oleh kaum borjuis untuk menekan para buruh. Hadirnya teknologi ini menajdikan para kapitalis bebas melakukan tawar menawar kepada buruh. Dengan bantuan teknologi itu, mereka mampu menggerakkan pabriknya tanpa memerlukan tenaga manusia yang banyak.

Rupanya hal itulah yang dijadikan senjata para borju untuk meneror buruh. Para borju itu seolah berkata kalau pabrik yang dioperasikan tidak begitu membutuhkan tenaga buruh yang banyak karena sudah mempunyai alat-alat teknologi untuk produksi, maka para buruhlah yang harus membutuhkan pabrik karena mereka butuh pekerjaan. Kondisi buruh yang terhimpit dan terintimidasi ini membuat para juragan semakin seenaknya sendiri terhadap buruh. Mereka menggaji murah para buruh, melakukan PHK sesuakanya dengan alasan tidak dibutuhkan tenaga dan sebagainya. PHK ini menjatuhkan daya tawar kaum buruh di hadapan para majikan dengan berprinsip pada teori Adam Smith.

Fenomena penindasan terhadap kaum buruh oleh kaum borjuis inilah yang menegaskan Marx sebagai orang sosialis. Hal ini ditunjukkan oleh sikap dan kritik-kritiknya terhadap kaum borjuis dan kecamannya terhadap para tokoh atau pemikir yang cenderung idealisme atau religius. Sebagai seorang penulis handal, Marx mengutuk para penulis liberal yang memfokuskan dirinya untuk usaha propaganda menangkal ateisme. Marx berpendapat bahwa tenaga atau pikiran harus ditujukan pada hal-hal yang konkrit, yang berkaitan erat dengan kondisi berat para buruh.

 

3. Ekonomi Sosialis Marx, kritik terhadap kapitalisme

Seperti yang sudah disinggung di atas bahwa lahirnya wacana ekonomi sosialis Marxis adalah lebih sebagai antitesis atau counter balik (feed back) terhadap sistem ekonomi kapitalis. Teori ini, ia cetuskan setelah melakukan penelitian berjam-jam selama bertahun-tahun di British Liberary. Hal ini dilakukan oleh Marx karena berangkat dari kegelisahannya bahwa sistem kapitalisme merupakan sistem ekonomi yang tidak manusiawi. Di dalamnya telah diberlakukan dan dilegalkan penindasan dan perbudakan yang sebesar-besarnya terhadap para buruh. Dari sinilah Marx, sewaktu di Paris, menyerukan bersatu kepada kaum buruh sedunia untuk melawan kapitalisme.

Perlawanan kaum buruh ini pada tingkat yang paling radikal adalah dimanifestasikan dengan terjadinya revolusi proletariat. Bagi Marx, revolusi proletariat adalah sebuah keniscayaan sejarah. Hal ini terjadi ketika kapitalisme sudah berada di puncak kejayaannya. Puncak kejayaan kapitalisme, bagi Marx, adalah justru awal runtuhnya kapitalisme. Revolusi ini lahir sebagai sikap kaum buruh yang sudah mencapai tingkat kemuakan dan kebingungan atas kerasnya penindasan dari para pemodal.

Secara struktural, sistem ekonomi Marx ini didasarkan pada masalah kapital yang terdiri dari persoalan komoditi, uang atau sirkulasi sederhana dan kapital secara umum. Dalam pembahasan teorinya ini Marx mendasarkan pada konsep pertentangan kelas. Bagi Marx sejarah manusia adalah sejarah konflik dan pertentangan kelas yakni kelas borjuis dan keas proletar. Kelas borjuis adalah pihak yang menguasai alat-alat produksi sementara kelas proletar adalah pihak yang dikesloitasi tenaganya dalam proses produksi.

Menurut Marx, sebuah perekonomian kapitalis pada awalnya terdiri dari komoditas-komoditas dalam jumlah besar, ditambah dengan individu-individu yang menjadi pemilik dari komoditas itu, dan beberapa hubungan pertukaran yang saling menghubungkan individu-individu itu. Pada awalnya, individu-individu ini tidak merasa sebagai bagian dari kelas- kelas sosial-ekonomi yang ada. Mereka juga tidak menganggap bahwa kepentingan-kepentingan mereka bukan sebuah representasi dari kelas mereka.

Pembentukan kelas-kelas individu ini lebih ditentukan oleh struktur dan dinamika perekonomian kapitalis. Penentuan kelas ini tidak hanya berdasarkan pada kesamaan selera individu tetapi posisi dan nasib mereka dalam struktur produksi. Artinya, posisi kelas mereka ini lebih ditentukan oleh hubungan produksi mereka dalam aktifitas ekonomi.

Argumen yang ditunjukkan Marx untuk menguatkan teorinya tentang konsep kelas ditunjukkan dengan kritik Marx terhadap konsep dan tujuan pasar. Bagi Marx, perekonomian pasar, yang merupakan corak utama sistem kapitalisme liberal, bukanlah mekanisme untuk memaksimalkan kesejahteraan pribadi dari individu-individu di dalamnya, melainkan sebuah sarana untuk memfasilitasi para kapitalis untuk merampas (appropiation) nilai surplus dan mengakumulasi kapital.

Lahirnya globalisasi pasar bebas (free tread) misalnya, yang merupakan penegasan dari sistem kapitalisme neoliberal, tidalk lain adalah strategi para kaum borjusi (dalam hal ini negara-negara maju yang dipimpin oleh AS) untuk memepertahankan kepentingannya. Dalam sistem itu, regulasi yang dipakai adalah mekanisme pasar. Sehingga tidak ada pihak lain, termasuk negara yang bisa melakukan distorsi atau intervensi. Seluruh sistem yang dibangun dan pola kerja yang diciptakan tidak lain adalah manifestasi dari kepentingan ekonomi kaum borjuis dari brbagai negara maju. Maka tidak heran kalau kebijakan pasar sering bertabarkan dengan spirit keadilan dan kepentingan masyarakat bawah.

Dalam kaitannya dengan masalah pasar di atas, konsep ekonomi yang dikritik oleh Marx adalah sistem ekonomi yang terformulasikan dalam bentuk hubungan C (kumpulan dari jenis komoditas tertentu atau nilai guna yakni barang-barang komoditas seperti kursi, roti, meja, baju dan sebagainya, dengan M yang merupakan tanda dari uang. Dalam perspektif ekonomi modern, orang mempunyai uang hanya sekedar untuk membeli barang-barang atau komoditi yang berguna bagi mereka. Mereka mempunyai uang untuk membeli mobil, karena memang mereka butuh mobil itu, atau uang untuk membeli rumah karena mereka sangat butuh rumah. Untuk mendapatkan uang supaya bisa membeli barang-barang yang dibutuhkan, individu perlu menjaal komoditas lainnya.

Bentuk penjualan komoditas ini bagi Marx, meliputi tenaga manusia. Jadi, supaya bisa membeli mobil atau rumah seseorang harus menjual komoditasnya yang beruapa tenaganya atau kemampuannya itu ke pabrik(dengan cara bekerja) untuk mendapatkan uang yang bisa digunakan untuk membeli barang atau komoditas lain yang mereka butuhkan. Atau kalau tidak berupa komoditas kemampuan atau tenaga, seseorang akan menjual barang-barang miliknya yang lain untuk membeli komoditas yang dibutuhkan. Misalnya, indifidu yang membutuhkan rumah, ketika yang dipunyai mobil, maka ia akan menjaul mobil itu untuk mendapatkan uang supaya bisa beli rumah. Pola semacam ini oleh Marx dinamakan dengan “sirkulasi komoditas sederhana”. Konsep ini bisa dirumuskan dnegan sebagai berikut:

 

C (kemampuan kerja) à M (upah)à C (sarana konsumsi) atau

 

C (motor bekas) à M (hasil penjualan) à (rumah baru).

 

Pola sirkulasi komoditas sederhana itu, bagi Marx , sebenarnya lebih terjadi di pasar-pasar non-kapitalis. Namun, di pasar –pasar kapitalis juga terjadi sistem atau pola sirkulasi tersebut. Menurut Marx, pola sirkulasi yang khas dari pasar kapitalis sehingga membedakan dengan pola sirkulasi komoditas itu adalah pola sirkulasi kapital. Sebuah sirkulasi terbali dengan sirkulasi komoditas di atas. Ada perbedaan mendasar antara pola sirkulasi komoditas dengan pola sirkulasi kapital. Kalau sirkulasi komoditas yang dituju adalah mendapatkan barang, maka kalau dalam sirkulasi kapital ini tujuan yang hendak diraih adalah mendapatkan uang. Pola sirkulasi kapital ini secara formulatif bisa dirumuskan dengan :

 

Mà C à M’

 

Bahwa sang kapital mengeluarkan uang (M) dengan harapan bahwa investasi bisa menghasilkan laba ( yaitu sebesar M’ dikurangi M) yang oleh Marx disebut dengan nilai surplus (surplus value). Maka dalam dangan Marx pasar kapitalis sebenarnya mempunyai dua fungsi yaitu sebagai tempat untuk sirkulasi barang atau komoditas untuk mendistribusikan barang itu kepada pihak yang membutuhkan (konsumen) (fungsi C-M-C) sekaligus sebagai sirkulasi kapital untuk mendapatkan uang atau mengakumulasi modal (fungsi M-C-M).

Posisi kelas terjadi ketika adanya perbedaan tujuan masing-masing individu dalam menggunakan sirkulasi modal atau komoditasnya. Bagi individu yang yang tidak mempunyai kapital atau komoditasnya terbatas, maka ia akan mensirkulasikan komoditas itu sebatas untuk mendapatkan barang atau komoditas baru. Namun sebaliknya, bagi mereka yang mempunyai modal berlimpah, mereka mensirkulasikan modal dan komoditasnya jelas bertujuan untuk mengakumulasikan modal. Dari sinilah bisa dipetik benag merahnya bahwa aktifitas ekonomi itulah yang menurut Marx merupakan faktor determinan terbentuknya posisi-posisi atau kelas-kelas sosial di masyarakat.

Perbedaan pola dan orientasi dari dua model sirkulasi itulah yang memicu konflik. Konflik antar kelas (kelas borjuis dan proletar) terjadi ketika dari pihak kaum borjuis menerapkan sistem “upah subsistensi” yang berfungsi untuk menyambung hidup para pekerja. Artinya, dengan orientasi kaum kapitalis untuk mengakumulasikan kapital, sementara kaum proletar (yang tak mempunyai banyak modal) hanya sekedar untuk mendapatkan komoditas lain yang dibutuhkan, maka kaum kapitalis cukup memberikan upah kepada buruh sebatas upah itu bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para buruh. Para kaum borjuis cukup memberikan upah kepada buruh sekedar bisa untuk makan dan memnuhi kebutuhan primer mereka. Sementara mereka tidak diberi upah yang layak supaya mereka juga bisa mengumpulkan modal atau memenuhi kebutuhan sekunder dan bahkan tersier mereka.

Jika yang diberikan kepada buruh hanyalah sebatas upah subsistensi, maka disinilah letak permasalahn selanjutnya: para kapital itu telah menciri atau maerampas upah buruh yang tersisa. Dengan tenaganya yang mahal itu, buruh sebenarnya memproduksi upah yang tinggi, namun oleh pihak kapitalis, upah yang diberikan kepada kaum proletar (buruh) hanya sebatas upah untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, maka jelas upah yang tersisa masih sangat banyak. Inilah yang dinamakan dengan nilai surplus. Nilai surplus yang sebenarnya milik para buruh itu akhirnya masuk kantong para kapitalis. Maka wajar, kalau kemudian, meskipun para juragan itu tidak membanting tulang ikut bekerja, mereka selalu kaya dan terus kaya, modalnya semakin meningkat, sementara meskipun para buruh itu kerja menghasilkan produk yang bisa dijual ke pasaran, hidup mereka tetap miskin. Karena hak-hak mereka dipangkas sedemikian besarnya, sehingga mereka tidak bisa maksimal dalam menikmati hasil kerjanya.

Bagi Marx, kalau mau jujur, seluruh nilai tambah yang dihasilkan oleh para buruh, yang ada di dalam modal kapitalis tersebut seharusnya diberikan kepada buruh.Sementara bagi kaum pemodal, ia sebenarnya hanya mempunyai modal pokok itu saja. Kalau mau megambil seharusnya yang dia ambil adalah modal pokoknya saja. Kenapa? Karena dia tidak ikut bekerja menghasilkan nilai tambah itu. Namun dalam dunia kapitalisme yang berlaku tidak demikian. Tetapi sebaliknya, keuntungan, laba atau nilai tambah itu yang separonya masuk ke kantongnya dia, kemudian yang separo masih dibagi –bagi: untuk pembiayaan administrasi, ansuransi, dana cadangan perusahaan dan kalau sudah hampir habis baru dibagikan kepada buruh.

Inilah yang menurut Marx bahwa sistem kapitalisme adalah sistem penghisapan. Sistem ini bisa langgeng karena hasil penghisapan dan perampasannya terhadap hak-hak buruh, yang dalam kontek ini adalah nilai tambah yang dihasilkan oleh para buruh itu sendiri. Oleh karena itu, Karl Marx percaya bahwa dalam rangka menghentikan penghisapan dan penindasan sistem ekonomi liberalis-kapitalis yang tak manusiawi itu, perlu ditegakkan ekonomi sosialis, sebuah sistem ekonomi tanpa kelas, tanpa hak milik pribadi, tanpa kasta, tanpa kerakusan, tanpa ketamakan, non diskriminatif and non sektarian, tak ada yang menguasai dan tak ada yang dikuasai. Kehidupan benar-benar sama untuk semua, dan dunia akhirnya menjadi satu (and the world may live as one), seperti mimpi John Lennon dalam sebuah lagunya, Imagine di atas.

DAFTAR PUSTAKA:

 

-Marx, Karl, Kata pengantar Pada Sebuah Sumbangan Untuk Kritik Terhadap Ekonomi Politik (artikel terjemahan), London, 1859

 

-Caporaso, James. A, dan Lavine, David P., Teori-Teori Ekonomi Politik, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2008.

 

-Kusumandaru, Ken Budha, Karl Marx, Revolusi dan Sosialisme:Sanggahan Terhadap Franz Magnis –Suseno, Resist Book, 2003

 

-Ramly, andi Muawiyyah, Peta pemikiran Karl Marx:materialisme dialektis dan materialisme historis, Yogyakarta, LKiS, 2000

 

-Berlin, Isaiah, Karl Marx: Riwayat Sang Pemikir Revolusioner, Yogyakarta, Panji Pustaka, 2000

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A. pendahuluan

This entry was posted on February 11, 2009 at 6:13 am and is filed under Uncategorized . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed You can leave a response, or trackback from your own site.

One Response to “KARL MARX DAN TRAKTAT EKONOMI SOSIALIS”

Brigida Freitas Says:
February 23, 2009 at 10:21 am

aluya

Reply

Leave a Reply

Click here to cancel reply.

Name (required)

E-mail (will not be published) (required)

Website

Notify me of follow-up comments via email.

Notify me of new posts via email.

Get a free blog at WordPress.com Theme: Black Letterhead by Ulysses Ronquillo.

// <![CDATA[//
// <![CDATA[//

// <![CDATA[//