Sebuah goresan pengalaman.

Urban Rural Mission (URM) menjunjung tinggi rakyat sebagai

tokoh dari perubahan dan sejarah.

(Rev. Dr.A. George Ninan, Bishop Nasik, India)

Pada mulanya arti kata “rakyat” bagi saya tak berbeda dengan pemahaman umum, yakni kumpulan orang-orang (individu). Ia sama saja artinya dengan kata “masyarakat”. Tahun 1972, di Surabaya tatkala bersama sekelompok kaum muda saya diringkus serdadu karena berdemo soal beras mahal, maka arti kata “rakyat” mulai sedikit khas: orang-orang yang kelaparan, bukan pejabat, serdadu dan tentu saja bukan pengusaha.

Selama bekerja sebagai “penyiar” di radio ARH Jakarta, lagu-lagu rakyat – saat itu, era 70 – 80 an, berarti nyanyian protes menjadi kesukaan saya. Konser rakyat Leo Kristi, Gombloh, Franky Sahilatua, Remy Sylado Company dan The Gang of Harry Rusli menjadi kegemaran lantaran syair-syair mereka mengemukakan sindiran, ironi atau paradoks tentang Indonesia. Dalam salah satu lagunya, dengan mengharukan Leo Imam Sukarno Kristi menyenandungkan nasib rakyat.

Hari itu di empat lima

Kami bernyanyi BAGIMU NEGERI

………

Hari ini di kaki lima

Kami bernyanyi BAGIMU NEGERI

Pada periode ini, saya – sebenarnya agak malu mengakui ini – seperti seorang romantikus bulan purnama, bersimpati kepada nasib rakyat yang menderita… (He, he,he… sepertinya saya tak menderita ya ?).

Adalah Majalah Berita Mingguan FOKUS tempat saya bekerja sebagai redaktur, pada 1984 menurunkan laporan sampul 200 Orang Kaya Indonesia. Laporan ini sebenarnya hanya semacam paparan sederhana siapa saja yang menjadi kaya raya sejak Soeharto berkuasa tahun 1966. Ada di sana nama Liem Soei Liong, Bob Hasan, Prayogo Pangestu dan seterusnya. Eh, tahu-tahu majalah yang terbit sejak 1982 itu dibredel Harmoko, menteri penerangan saat itu. Alhasil, saya merasa menjadi bagian dari rakyat yang menderita.

Namun rakyat sebagaimana dipahami gerakan URM (Urban Rural Mission), barulah mulai sungguh-sungguh saya pelajari tatkala bergaul dengan teman-teman yang bekerja di tengah-tengah rakyat, antara lain Indera Nababan. Sejak 1985, Indera Nababan mulai mengorganisir kembali jaringan gerakan URM Indonesia di tengah-tengah kesibukannya sebagai Kepala Biro Informasi PGI dan Koordinator Pelayanan Buruh Jakarta (PBJ), bagian dari Pelayanan Masyarakat Kota – Huria Kristen Batak Protestan (PMK – HKBP) Jakarta. Saya bergabung bekerja di Majalah Berita OIKOUMENE (sampai 1992) kemudian di YAKOMA PGI (sejak 1992).

Bagi gerakan URM, rakyat adalah orang-orang tertindas, terpinggirkan, tereksploitasi, termiskin. Mereka itu bisa orang miskin kota, petani yang tidak memiliki tanah, nelayan tradisional yang diterjang pukat harimau, buruh pabrik, buruh migran, kaum perempuan yang dinomorduakan. Mereka tersingkir karena alasan-alasan sejarah oleh kelompok masyarakat yang dominan. Nah, rakyat inilah menurut Rev. George Ninan, salah satu tokoh gerakan URM di Asia, yang semestinya menjadi tokoh dari perubahan dan sejarah. Pertanyaannya, bagaimana memampukan rakyat menjadi tokoh?

Dalam pertemuan-pertemuan nasional URM Indonesia sejak 1985 hingga 2000 disepakati berbagai upaya penguatan rakyat, antara lain Pelatihan Community Workers, pelatihan rakyat, perkunjungan (Exposure Program), seminar rakyat dan dialog publik. Kendati begitu, fokus kegiatan lebih menajam kepada pendidikan rakyat. Sejak dini Indera Nababan berulang-ulang menekankan, perubahan di Indonesia tidak mungkin terjadi bila tanpa keikutsertaan rakyat. Karena itu rakyat harus ”dibangunkan”, ”terjaga”, dari situasi pingsan karena penindasan yang dialaminya.

Di dunia ini, menurut Paulo Freire, terdapat dua jenis manusia. Jenis pertama, yakni, bagian terbesar, menderita karena ketidakadilan, sedang jenis yang kedua, yakni sebagian kecil, menikmati jerih payah orang lain secara tidak adil. Itulah situasi penindasan, situasi yang tidak manusiawi (dehumanisasi). URM Indonesia begitu yakin situasi penindasan terhadap rakyat Indonesia bukanlah takdir yang mesti diterima secara pasrah, namun suatu realitas yang bisa diubah. Rakyat memiliki naluri, kesadaran, kepribadian dan ungkapan diri. Ia mampu memahami keberadaan dirinya dan dunianya, dengan bekal pikiran dan tindakan ia mampu mengubah realitas dunianya. Untuk itu diperlukan pendidikan rakyat, yang merupakan proses berkeseimbangan dari penyadaran, dilanjutkan dengan pendidikan, pengorganisasian, aksi, sampai kepada refleksi.

Penyadaran.

Dari pengalaman pendidikan rakyat yang diselenggarakan URM Indonesia, ada dua bentuk ”permainan penyadaran” yang bisa membantu menjelaskan makna penyadaran: permainan ”orang buta dituntun orang melek”, dan permainan mencipta ”patung orang yang dibenci dan orang-orang yang disayangi”.

Permainan pertama bermakna, proses penyadaran adalah memampukan orang dari situasi tidak melihat (buta) menjadi mampu melihat (celik). Bila kita buta, kita akan sangat tergantung kepada yang menuntun (tidak buta). Dia memperlakukan kita sesuka-sukanya. Orang yang sadar adalah orang yang berjuang mengubah situasi dari buta menjadi tidak buta.

Permainan kedua, mengajak rakyat memahami realitas, ada orang-orang yang kita ”sayangi”, boleh jadi karena keprihatinan kita terhadap nasibnya (yang buta sejarah, buta hukum, dan seterusnya), yang sebenarnya disebabkan oleh tindakan dari orang-orang yang kita ”benci”. Permainan ini mengajak rakyat menyadari, kesengsaraan mereka bukanlah takdir, namun disebabkan oleh tindakan dari orang-orang yang kita ”benci”. Permainan ini mengajak rakyat menyadari, kesengsaraan mereka bukanlah takdir, namun disebabkan oleh kesewenang-wenangan segelintir orang, yang mendapatkan peluang dari sebuah sistem atau struktur yang menindas.

Melalui dua permainan yang sejujurnya diinspirasi oleh permainan anak-anak, rakyat menyadari bahwa manusia terbagi dalam dua kelas: kelas penindas dan tertindas. Ia menjadi sadar, kebutaannya bukanlah nasib buruk, namun buah dari kesewenang-wenangan kaum ”berpenglihatan” yang suka menindas. Alhasil, langkah pertama dalam upaya memperkuat rakyat adalah penyadaran akan situasi penindasan sebagai realitas. Apakah ia menerima saja realitas itu sebagai takdir, atau mau mengubahnya. Andai ia mau mengubahnya, maka perjalanan atau pengembaraan dapat dilanjutkan.

Pendidikan.

Pendidikan popular atau pendidikan rakyat jelas berbeda dengan pendidikan di sekolah (formal). Pendidikan sekolah membelenggu murid, menempatkan murid sebagai objek dalam sistem pendidikan yang menyebabkan manusia menjadi komoditi bagi keperluan pembangunanisme. Sebaliknya pendidikan popular menempatkan rakyat menjadi subyek yang membebaskan dirinya dari belenggu ketertindasan. Paulo Freire, tokoh pendidikan rakyat asal Brasil menyebutnya sebagai pendidikan hadap masalah: rakyat diajak menggali pengalamannya. Belajar dari pengalaman itu rakyat menyadari situasi penindasan yang menyengsarakan, menggerakkan mereka untuk berjuang mengubah realitas (kenyataan) sesuai harapan dan cita-cita rakyat.

Pendidikan rakyat mengenal tiga tahap pengembangan.

Pengembangan sikap (attitude): rakyat diajak menggali dan menghargai pengalamannya, rakyat memahami realitas, dan pemahaman ini pada dirinya membangkitkan kreasi untuk mengubah realitas sesuai dengan harapannya. Pengalaman adalah sejarah rakyat. Ia tidak bisa dinafikan atau dihujat kendati penuh kepahitan. Ia perlu dipahami, dihargai kemudian diubah menjadi kenyataan baru. Rakyat hanya akan mampu mengubah kenyataan itu bila sikapnya juga berubah: dari tertutup menjadi terbuka, dari buta menjadi celik. Bila ia mampu menghadirkan dirinya atau mengaktualisasikan dirinya secara baru. Ia pada ujungnya menjadi percaya diri. Topik Aktualisasi Diri dan Spiritualitas memampukan rakyat mengekspresikan dirinya.

Pengembangan keterampilan (skill): rakyat dimampukan untuk terampil pertama-tama menganalisis ketertindasan yang dialaminya (analisis sosial). Kenapa situasi seperti ini terjadi? Apa sebab? Siapa penyebab? Kenapa rakyat selalu kalah? Apa sebenarnya akar permasalahan yang mengharu biru rakyat? Keterampilan kedua adalah tindak lanjut atas jawaban terhadap segudang pertanyaan analisis tadi. Yakni kalau rakyat sudah paham akan situasi, apakah dia mau berjuang untuk mengubah situasi itu agar menjadi realitas yang berbeda? Untuk itu ia memerlukan alat perjuangan, yaitu organisasi rakyat, organisasi dari, oleh dan untuk rakyat.

Pengembangan pengetahuan (knowledge), rakyat dimampukan mengembangkan pengetahuan sehubungan dengan upaya-upaya memperkuat dirinya. Topik bervariasi, dari politik, ekonomi, gender, budaya, sosial, komunikasi, demokrasi, HAM, lingkungan hidup, dan seterusnya. Tentu saja ini harus sesuai dengan kebutuhan dan disepakati rakyat. Ia tidak ditentukan oleh segelintir orang yang mengaku pintar.

Organisasi.

Langkah penyadaran dan pendidikan menggulirkan rakyat pada kebutuhan menggalang kekuatannya dalam upaya mengubah realitas atau ”dunia”. Dan kekuatan rakyat adalah organisasi. Inilah langkah ketiga penguatan rakyat.

Organisasi rakyat bukanlah organisasi yang dibentuk dengan mengacu kepada bentuk-bentuk mapan. Sekali lagi perlu disimak, ia lahir berdasarkan kebutuhan untuk menjawab permasalahan yang konkret. Organisasi rakyat berorientasi kepada masalah (isu) yang dihadapi rakyat. Karena itu ia harus (1) sederhana, (2) partisipatif dan (3) terawasi (terkontrol).

Organisasi rakyat akan berkembang menjadi kekuatan besar tatkala berbagai organisasi dengan isu yang sama bergabung (koalisi, aliansi) menjadi gerakan yang dahsyat. Jadi organisasi adalah kekuatan rakyat, yang memampukan kaum tertindas mengubah kenyataan (realitas) penindasan, menjadi dunia baru yang sesuai dengan harapan atau cita-cita rakyat.

Fungsi organisasi rakyat adalah untuk (1) memperjuangkan hak-hak rakyat, (2) melindungi kepentingan rakyat, dan (3) menggulirkan perubahan bagi terwujudnya cita-cita rakyat.

Aksi.

Hanya bila rakyat mampu menggalang kekuatan melalui organisasi rakyat yang berdaulat, ia bisa maju lagi dalam perjalanannya. Kali ini ia mengubah kehendak menjadi tindakan bagi mewujudkan harapan atau cita-citanya. Itulah langkah keempat, yakni aksi. Ini adalah muara dari perjalanan panjang sejak penyadaran tadi. Perjalanan itu harus ditempuh secara sistematis.

Dengan begitu rakyat tahu persis akan posisinya dan mampu memainkan perannya dengan baik dan benar. Banyak aksi rakyat gagal karena kegenitan aktivis yang tak mampu belajar bersama rakyat, lebih suka mendikte rakyat sesuai kepentingan sendiri. Tanpa melalui proses yang sistematis, aksi-aksi rakyat hanya akan menyenangkan para aktivis, menyebabkan frustasi di kalangan rakyat (karena lebih banyak kalahnya ketimbang menangnya). Aksi seperti itu hanya melahirkan aktivisme.

Aksi rakyat lahir dari perjalanan penyadaran, pendidikan dan penggalangan kekuatan. Aksi itu harus menghasilkan kemenangan-kemenangan bagi rakyat. Ia bermula dari kemenangan kecil yang kemudian berakibat besar, yakni mengubah potensi (modal) rakyat dan menghargainya. Aksi rakyat yang sistematis juga memungkinkan tampilnya pemimpin-pemimpin baru dari rakyat sendiri.

Pemimpin-pemimpin yang lahir karena kebutuhan perjuangan, bukan karena dititipkan dari ”atas”. Karena itu organsisasi rakyat harus benar-benar berangkat dari masalah-masalah (isu) rakyat dalam menyusun agenda aksinya, sehingga memungkinkan berlangsungnya formasi kepemimpinan sesuai kebutuhan dan kesepakatan bersama.

Refleksi.

Ada saat untuk bertindak (aksi), ada saat berdiam diri seraya bercermin. Itulah saat-saat refleksi. Refleksi terjadi hanya apabila ada aksi. Refleksi tanpa aksi melahirkan demagog atau pembual, cuma jago bicara, debat, diskusi, namun tak mampu melakukan apa-apa untuk perubahan. Sebaliknya aksi tanpa refleksi hanya menghadirkan para aktivis yang memang gegap gempita, namun sering jadi pecundang.

Tak dapat ditawar, usai melakukan perjalanan dari penyadaran, pendidikan, organisasi sampai kepada aksi, kita harus sejenak berhenti, melepas lelah, berdiam diri, merenung, bercermin dari semua proses perjalanan pengamatan tadi. Apa yang sudah dicapai? Adakah yang tercecer? Apa yang positif dan negatifnya? Pelajaran apa yang kita peroleh dari sana? Apa yang perlu kita kerjakan selanjutnya?

Langkah-langkah atau jalan penguatan rakyat secara sistematis, merupakan proses aksi – refleksi. Setia pada proses ini berarti memampukan rakyat mengembangkan dialog. Dan dialog yang dialektis, menurut Paulo Freire, senantiasa memunculkan kemungkinan-kemungkinan baru bagi perubahan.

Rakyat yang menjadi partisipan pelatihan-pelatihan URM Indonesia mempunyai kesan khas setelah mengikuti proses kegiatan.

Beberapa Kutipan dari Sejumlah Peserta Pelatihan URM.

Latihan ini sangat bermanfaat karena dari tidak tahu berorganisasi menjadi tahu, kemudian lebih paham pagi masalah hukum perburuhan. Ada nilai tambah dalam pelatihan, disamping saya menjadi semakin berani juga mengerti bahwa hak-hak manusia sangat besar nilainya. (Latihan Organisasi Buruh, Jetun Silangit, Siborong-borong, 19 – 22 Maret 2000).
Pendidikan ini perlu untuk para pemimpin organisasi. Rasanya mereka belum pernah mempelajari dan merasa sombong menjadi pemimpin. Latihan ini juga perlu bagi golongan atas. Setelah ikut latihan ada percaya diri dan ternyata tingkat pendidikan bukanlah menjadi penentu dan pedoman utama. Selama ini ada rapat di kampung, dan saya tidak bisa bicara seperti ini, namun sekarang saya bisa mengungkapkan keinginan saya dan semakin berani.(Lokakarya Pengembangan Kepemimpinan Rakyat, Nelayan Pantai Timur Sumatera II, 1 – 5 Februari 2000).
Saya termasuk anak nelayan yang sudah ikut pelatihan kemana-mana. Saya menemukan bahwa sistem yang sangat terorganisir dan sistematis dilakukan dalam lokakarya ini, Sangat terkesan dan ada spirit untuk menambah wawasan yang tidak bisa diungkapkan saat ini. (Lokakarya Pengembangan Kepemimpinan Rakyat, Nelayan Pantai Timur Sumatera II, 1 – 5 Februari 2000).
Apa yang saya dapat dari pelatihan ini akan dikembangkan di tempat lain. Saya juga mendapat arti jati diri sehingga arti kehidupan di dapat di sini, terutama dapat berkenalan dan bertekad untuk berjuang. (Pendidikan Organisasi Rakyat III, Tasikmalaya, 25 – 28 Mei 2000).
Terkesan dengan metode pelatihan dan belum pernah mengikuti pelatihan seperti yang diberikan. Materi yang diberikan berbobot dengan penyajian yang sederhana dan mudah diikuti, santai namun memberi arti. (Latihan Organisasi Rakyat I di Garut, 6-8 Desember 1999).
Pelatihan ini mempunyai nilai tersendiri atau istimewa. Melalui latihan ini bisa menjembatani konflik, menerobos jarak diantara kita dan akhirnya menjalin komunikasi, dan mendidik untuk bersama/bersatu. (Pelatihan Pengorganisasian Dasar Buruh, Pematang Siantar, 6-9 Juli 2000).
Fenomena baru yang selama ini tidak ada, saya temukan di pelatihan ini, Permainan orang buta dan peragaan dalam materi sangat bekaitan dan memberikan penyadaran bagi kita. Saya menemukan rasa peduli dan daya kritis yang semakin berkembang. Semoga dalam proses belajar, mengerti, mendalami diikuti pula dengan pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari. Tekad kita dalam pelatihan ini agar dilaksanakan dan dibuktikan setalah kita kembali ke tempat masing-masing. (Pelatihan Pengorganisasian Dasar Buruh, Pematang Siantar, 6 – 9 Juli 2000)
Terimakasih atas pelatihan ini dan satu kemampuan yang tidak disadari adalah mengaktualisasikan diri untuk mampu menjadi pelaku dari program/tujuan. (Pelatihan Pengorganisasian Petani di Bidang Pemasaran, Pematang Siantar, 1-4 Juli 2000).
Selama ini saya melihat perempuan selalu tampil tidak percaya diri, mulai sekarang saya akan menanamkan perempuan sama haknya dengan laki-laki dan mulai melatih diri sejak dini. (Lokakarya Kepekaan dan Kesetaraan Gender II di Tapanuli Utara, 12 – 15 Maret 2001)
Tekad saya untuk menerapkan demokrasi, transparansi di desa semakin kuat dan saya memohon kekuatan dari Tuhan untuk menjalankannya. Permintaan saya, di samping kepala desa perlu juga pelatihan untuk rakyat kecil seperti pedagang dan petani karena merekalah teman saya di kampung untuk diajak kerjasama. (Lokakarya Pimpinan Desa II di Tapanuli Utara, Tarutung, 4-8 Februari 2001).
Ada perintah dari kepala sekolah untuk mengikutinya. Kami awalnya mengelak, untuk ada gender. Setelah mengikutinya kami jadi menyesal dan merasa puas. Selama ini perempuan selalu merendahkan diri karena dikatakan perempuan hanya sebagai pendamping. Kami menjadi percaya diri setelah mengikuti lokakarya. (Lokakarya Kepekaan dan Kesetaraan gender IV di Tapanuli Utara, Tarutung, 14-17 Mei 2001).
Bangga kepada fasilitator yang mau mengangkat derajat perempuan. Selama ini perempuan direndahkan dan hanya sebagai bahan pelengkap dalam adat. Setelah mengikuti lokakarya ini jadi mengerti apa itu kesetaraan gender. Jadi jangan hanya di sini saja melaksanakan lokakarya ini. Akan lebih baik diadakan di desa yang masih merendahkan perempuan. (Lokakarya Kepekaan dan Kesetaraan Gender IV di Tapanuli Utara, Tarutung, 14-7 Mei 2001).
Medan, 25 April 2008

Arthur John Horoni

[Tulisan ini juga dapat dilihat pada Blog Bung Daktur ARH]

Jumat, 25 April 2008 Posted by Arthur John Horoni | Inspirasi, Wacana | George Ninan, India, Konser Rakyat, Paulo Freire, PGI, Urban Rural Mission | Tinggalkan sebuah Komentar

Bukan Sekadar Gosip Jalanan
Belum sirna dari ingatan kita, rasanya, peristiwa penangkapan Jaksa Tri Gunawan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebulan lalu, dengan tuduhan menerima suap. Lalu kita pun dikejutkan lagi (sebenarnya tidak perlu lagi terkejut) dengan penangkapan anggota Komisi IV DPR-RI Al Amin Nur Nasution dan Sekretaris Daerah Kabupaten Bintan Azirwan, juga karena kasus suap-menyuap.

Berderetnya peristiwa penangkapan para tersangka korupsi (termasuk suap-menyuap) dalam bulan-bulan terakhir ini, di satu sisi membuktikan bahwa KPK memang benar-benar serius melaksanakan tugasnya. Di sisi lain, juga semakin membenarkan asumsi bahwa sudah tidak ada lagi institusi yang benar-benar “bersih” di negeri ini, termasuk institusi yang seharusnya memberikan teladan kejujuran kepada rakyat. Juga bukti bahwa sindiran grup musik Slank melalui lagunya: Gosip Anak Jalanan, memang ada benarnya.

Terungkapnya kasus-kasus korupsi, yang selalu diberitakan secara luas oleh semua media, tak kunjung membuat jera. Bahkan tak pula mampu membangkitkan rasa malu. Hal ini terlihat dari liputan-liputan televisi yang menampilkan wajah para tersangka koruptor. Wajah-wajah itu, tampak tidak menunjukkan penyesalan ataupun ekspresi malu. Mungkinkah karena mereka tahu bahwa akhirnya mereka akan mendapat hukuman ringan atau malahan dibebaskan, karena pengadilan bisa diatur? Atau karena mereka tahu bahwa mereka hanyalah sebutir es di atas puncak gunung salju?

Komentar seperti ini memang bisa dinilai sebagai komentar orang pesimis dan apatis, yang sudah tidak percaya lagi pada sistem yang bergulir di republik ini. Namun siapa lagi yang dapat dipercaya bila para pemimpinnya lebih disibukkan dengan upaya menumpuk kekayaan secara tidak halal, menebar pesona dan mengumbar janji, ketimbang memperbaiki nasib sebagian besar rakyatnya, yang kian terhimpit berbagai kesulitan?

Tetapi apa yang dilakukan KPK, sedikit banyak memberikan harapan. Dengan dibongkarnya kasus-kasus korupsi pada lembaga-lembaga tinggi (dan tertinggi) negara, siapa tahu lambat-laun akan muncul rasa was-was pada para pejabat di lembaga-lembaga yang lebih rendah, sehingga akan berpikir ratusan kali sebelum berbuat korupsi. Asalkan bukan sebaliknya yang terjadi, yakni semakin canggih dalam menyembunyikan perbuatan korupnya.

Khusus untuk para anggota Dewan Perwakilan Rakyat, peristiwa penangkapan Al Amin Nur Nasution, seyogianya dijadikan momentum untuk semakin mawas diri dan membersihkan diri, bukan justru marah terhadap grup musik Slank yang telah meluncurkan lagu: Gosip Anak Jalanan. Buktikan bahwa sindiran Slank, tidak benar.